Selamat Tinggal Owa Udin

Jauh hari sebelum lagu Udin Sedunia dikenal lalu diboikot oleh KPI, terkait salah satu liriknya yang menuliskan “Sapiudin”, Leuweung Sancang juga punya udin. Dia adalah Udin yang suka manjat pohon, namanya “Owaudin”.

Benar apa kata Udin Sedunia. Nama Udin itu norak, tapi banyak yang suka. Nama itu pula yang tiba-tiba saja muncul di awal perjumpaan kami 2 tahun yang lalu.

Udin, saya memberinya nama. Seekor Owa Jawa jantan mungil yang selalu menempel erat diperut ibunya saat mereka berjalan, melompat, melayang, dan bergelayutan di atas pohon.

Owa Udin dan Tini

Selayaknya anak kecil pada umumnya, Udin yang merupakan anak dari Tono dan Tini lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain. Tiada hari baginya untuk meloncat-loncat, mengelayut, berguling-guling, berputar-putar, bahkan salto ke belakang ke depan. Bila Udin sudah bermain terlalu jauh, tak segan Tini menjemputnya dan membawa paksa menghentikan kesenangannya saat bermain.

Begitu juga pada saat menjelang tidur. Jika Udin tak bisa diam dan berhenti meloncat-loncat, dengan penuh kasih sayang Tini akan menarik lengan Udin dan meninabobokannya hingga ia terlelap tidur.

Satu setengah tahun kemudian, Udin sudah bertambah cukup besar. Ia tidak lagi menempel erat di perut emaknya. Ia sudah cukup berani untuk melompat menyeberang antar pohon. Meskipun begitu, Tono sebagai kepala keluarga tetap mengawasi Udin.

Saat hendak melompat jauh pun, semisal menyeberang sungai, Tono senantiasa menanti Udin di pohon seberang sambil sesekali memanggilnya memberikan semangat dan keberanian. Dan ketika mereka bertiga sudah berkumpul, mereka lalu pergi bersama menuju tempat peristirahatannya.

Akan tetapi, pemandangan keluarga harmonis tersebut tidak bisa lagi saya lihat.

Udin menghilang.

Terhitung sejak akhir november (2010) lalu, keberadaan Udin seakan ditelan bumi. Tidak ada informasi yang pasti perihal hilangnya Udin. Namun asumsi kami mengatakan bahwa ia telah menjadi mangsa predator.

Memang belum cukup umur bagi Udin untuk mengembara seorang diri meninggalkan keluarganya. Hutan rimba penuh dengan marabahaya, dan hukum rimba berlaku di dalamnya.

Untuk Udin,

Di mana pun kau berada, selamat tinggal Udin, semoga kedamaian selalu menyertaimu.

2 comments

  1. thisisrizka · April 2, 2011

    Wah, sedih sekali..😦
    Semoga Udin masih hidup dan survive ya (meskipun entah di mana), dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Amiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s