HIATUS

Sorry guys,

Untuk sementara blog ini Hiatus dulu dari aktivitas.

Sedang block.

Mungkin akan kembali dalam beberapa waktu ke depan yang belum bisa ditentukan.

 

Cheer Up

Menggambar di Akhir Tahun 2015

Kemarin itu ceritanya saya diberi tugas pertama sebagai tim edukasi dan penyadartahuan untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap satwaliar dilindungi di Medan. Kegiatan ini sendiri dilakukan terkait hasil riset sosial oleh tim analis sosial terhadap persepsi masyarakat medan mengenai hasrat untuk menyimpan satwaliar dilindungi sebagai hewan peliharaan.

Ternyata hasil dari riset menyimpulkan bahwa perlu adanya sebuah edukasi dan penyadartahuan bagi masyarakat medan mengenai satwa liar dilindungi supaya mereka enggan memelihara. Misi utamanya tentu saja mengenalkan Kukang, tapi disamping itu ternyata isu satwa liar terhadap spesies kunci seperti Orangutan, Harimau, Siamang dan Kucing Hutan juga perlu diberikan.

Berhubung materi edukasi mengenai satwa lainnya belum ada, maka perlu dibuat sebuah materi baru yang berisikan keempat satwa tadi. Dalam keadaan waktu yang terdesak, terpaksa saya mengeluarkan sekill corel draw saya yang sudah lama vakum untuk membuat infografis mengenai satwa liar di atas.

Berikut adalah hasil desain poster dan stiker yang saya buat.

infografis orangutan infografis siamang
infografis Harimau
infografis kucing hutan infografis kukang

STIKER KAMPANYE MEDAN

Beberapa dari desain di atas ada yang memang saya buat sendiri. Namun ada juga desain yang saya jiplak dan modifikasi dari desain desain yang sudah bertebaran di dunia maya.

Bagi yang berminat, silakan saja pakai desain yang sudah saya buat dengan tujuan sebagai sarana edukasi dan penyadartahuan. Anda bebas memperbanyak dan atau menyebarluaskan.

Semoga bermanfaat.

Tentang 3R dan 1E

Saya agak sedikit bingung untuk memulai dari mana postingan ini seharusnya dimulai.

Oke baiklah, mungkin masih lanjutan dari postingan yang sebelumnya tentang kerja. Jadi pekerjaan saya sekarang memang masih bergelut dengan dunia satwa liar terutama primata. Cuman tugas saya agak berbeda dibandingkan dengan deskripsi kerja yang sudah pernah saya lakoni sebelum sebelumnya. Heum, tapi mungkin ada lah sekali kali saya melakukan hal beginian disela sela pekerjaan.

Deskripsi kerja saya saat ini adalah sebagai edukasi dan kampanye. Tugasnya ngapain? Jadi guru sekaligus orator mungkin. Tidak tidak tidak.. kurang lebihnya ya saya membuat program edukasi dan kampanye terhadap pelestarian satwa liar bagi masyarakat umum. Karena tantangan saat ini ternyata masih banyak masyarakat yang masih belum tahu apalagi peduli terhadap satwa liar primata, khususnya Kukang. Maka oleh karena itu, di situlah pentingnya edukasi dan kampanye penyadartahuan sebagai upaya pencegahan terhadap hal hal yang sebaiknya jangan sampai terjadi nantinya.

Karena berdasarkan hasil survey membuktikan, ternyata masih banyak dari kalangan manusia Indonesia yang well educated mengenai satwa liar dan satwa liar dilindungi. Terkadang hal ini pula yang selalu dijadikan alasan oleh mereka yang sebenarnya sudah well educated (minimal udah bisa pake google lah) berdalih bahwa mereka tidak tahu mengenai hewan apa yang mereka pelihara sebenarnya. Biasanya ini terjadi jika sudah berhadapan dengan aparat penegak hukum. Tapi di 2016 nanti kayaknya alasan begitu udah ga bisa dimaklumi lagi bung dan nona yang masih demen pelihara satwa liar dilindungi. Kecuali anda memang masih menggunakan sabak batu untuk menulis.

Waktu wawancara kerja, saya ditanya kenapa saya mau bekerja di posisi ini. Alasan yang saya kemukakan bukan karena saya ahli di bidang pendidikan, atau lulusan pendidikan, atau apalagi ya saya lupa.. waktu itu saya bilang ingin melengkapi pengalaman kerja saya selama ini di primata. Pengalaman apa saja, yang pertama itu Riset primata yang di alam liar. Pengalaman ini saya dapatkan selama di Sancang dan Tangkoko. Kemudian ada Rehabilitasi primata, saya belajar banyak sebagai volunteer di COP (Centre for Orangutan Protection), PPS Tasikoki, dan juga Pusat Penyelamatan Primata Jawa Aspinnal Foundation. Lalu yang terakhir adalah Reintroduksi atau mengembalikan primata yang sudah di rehabilitasi ke habitat aslinya. Ini pengalaman selama dua tahun kemarin di Owa Jawa dan lumayan hasilnya, dapat kenang kenangan berupa 3 jahitan di lutut.

Dan yang sekarang adalah Edukasi..

Riset, rehabilitasi, reintroduksi dan edukasi. 3R dan 1E.

Lumayan lah untuk memperpanjang CV saya. Konsisten dan kokmonyet mulu isinya. Begitulah kenapa saya bisa ada di sini sekarang. Dan memang, pekerjaan yang sekarang ini adalah pekerjaan pertama yang saya lalui lewat wawancara dalam beberapa tahap untuk mengalahkan kandidat lain yang… entahlah, mungkin lebih bagus dari saya tapi tidak lebih keren dari Aliando.

Ah sekian dulu.

Kerja

infografis kukang

Secara resmi, saya sudah tidak menganggur lagi. Terhitung desember ini saya menandatangani kontrak kerja di sebuah LSM yang bergerak di penyelamatan satwa liar.

Sepertinya bidang kerja satwa liar tidak bisa lepas dari catatan hidup saya. Memang sudah menjadi renjana hidup yang ditakdirkan oleh Yang Maha Kuasa.
Namun kali ini, saya tidak lagi banyak kerja di lapangan. Ya mungkin akan sesekali saya pergi ke lapangan, tapi bukan lapangan dalam artian keluar masuk hutan. Lebih tepatnya saya berkelana dari satu daerah ke daerah lain. Jadi nanti akan banyak daerah yang akan saya kunjungi dalam agenda program yang saya buat.

Di tiga hari pertama saya masuk kantor, saya sudah banyak sekali titipan pekerjaan dari rekan sejawat yang meminta saya untuk melakukan ini itu di program kerja tahun depan. Oia, saya lupa.. bidang kerja saya sekarang lebih bergerak di edukasi dan penyadartahuan tentang satwa liar, khususnya Kukang dan Makaka. Merasa tidak aneh dengan Kukang? Iya saya sering sekali menulis artikel tentang Kukang dalam beberapa tahun terakhir. Semoga saja apa yang saya tulis selama ini lebih bisa tersalurkan nantinya dalam bentuk kegiatan kegiatan yang saya lakukan. Atau malah kegiatan yang saya lakukan bisa menjadi sumber tulisan untuk Blog ini ke depannya.

Pada awalnya saya memang agak ragu, apakah saya bisa bekerja di edukasi atau tidak. Di minggu minggu terakhir saja saya sempat dibuat dilema untuk memilih. Apakah saya akan tetap menjadi sosok pekerja lapangan yang tinggal di hutan atau menjadi sosok yang mengeksplorasi kreativitas. Ternyata, panggilan kerja di edukasi lebih duluan menyodorkan kesepakatan gaji untuk diterima.

Soal gaji, itu rahasia ya. Yang penting cukup untuk ditabung dan modal kawin nanti sama calon istri. Ya iyalah sama calon istri, masa sama calon bupati. Ckckck.

Udah ah saya mau kerja dulu.
Banyak garismati menanti di depan.

Sehari Berbagi Inspirasi

DSC_0135[1]

Kalau diingat ingat lagi apa cita cita saya sewaktu kecil, hampir pasti jawaban saya mudah ditebak. Waktu itu saya cita citanya jadi insiyur, pengaruh sinetron si Doel. Padahal saya ga tahu kerjaan insinyur itu seperti apa. Pun dengan teman teman sebaya waktu itu, jawaban mereka juga tidak jauh dari profesi pada umumnya seperti Dokter, ABRI, Polisi.

Terus sekarang saya jadi apa?

Siapa juga yang menyangka jika bidang pekerjaan yang saya minati saat ini justru bergelut di dunia permonyetan. Tentu saja, sewaktu saya kecil boro boro tahu ada profesi macam begini. Yang ada mungkin malah ditertawakan karena saya mirip sama Tarzan dan berteman dengan Cheetah si kera simpanse.

Meski memori masa kecil saya sudah berpuluh puluh tahun lamanya, nyatanya cita cita seorang anak masih saja terbatas pada profesi yang itu itu saja. Kenapa coba? Padahal dunia arus informasi sudah semakin terbuka luas. Apakah guru guru kita kurang kreatif mengenalkan profesi, atau orangtuanya yang justru melihat sukses itu ada pada profesi profesi tersebut.

DSC_0139[1]

Tapi sepertinya hal itu akan segera berubah. Semenjak negara api menyerang muncul gerakan Kelas Inspirasi, sebuah program yang masih berinisiasi dengan Indonesia Mengajar, beragam macam orang muncul ke permukaan untuk membagikan ceritanya membuka wawasan anak anak untuk mengenal lebih banyak profesi yang mendekatkan mereka dan menjadi figur teladan.

Saya, jelas saja saya juga tidak mau ketinggalan untuk menjadi bagian sebagai kakak keren abad dua satu yang menjadi inspirasi bagi anak anak muda kekinian. Di antara sekian ratusan pendaftar yang ingin menjadi relawan pengajar sehari di kegiatan Kelas Inspirasi, saya terpilih dengan pertimbangan profil, profesi dan essay yang saya kirimkan.

Saya tidak menyangka. Soalnya essay yang saya kirimkan sepertinya tidak layak baca. Ngaco malah. Mungkin panitia KI terkesan dengan kengacoan saya.

Singkat cerita, dari ratusan pendaftar akhirnya dibentuk menjadi beberapa kelompok dan mendapat penugasan pada sekolah yang sudah ditentukan. Saya kebagian kelompok 15 yang terdiri dari 14 orang inspirator dan seorang fasilitator, dan ditugaskan di SDN Kedung Waringin yang berlokasi di kota Bogor.

Rekan rekan inspirator di kelompok saya punya beragam profesi. Ada wiraswasta mie ayam, perbankan, penyiar, dokter, periklanan, pelayaran, dosen, sonografer, perancang logo, trainer, dan fotografer. Mereka luar biasa.

IMG-20151109-WA0003[1]

Pada hari Inspirasi yang sudah ditentukan dan bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, kami mulai menjalankan misi menjadi pengajar sehari di sekolah. Setiap inspirator mendapat jatah untuk mengajar di tiga kelas berbeda. Saya sendiri kebagian mengajar kelas 1, 3 dan 5.

Dengan perlengkapan dan properti yang sengaja dibuat khusus untuk kegiatan KI saya mencoba menerangkan profesi saya. Saya mencoba mengajarkan mereka menjadi pengamat/peneliti monyet di hutan dengan menggunakan teropong dan beberapa objek gambar primata yang ditaruh sembarang. Satu teropong untuk satu kelas jelas membuat suasana menjadi keos, karena semuanya berebut ingin mencoba.

Saya kewalahan. Menjadi seorang pengajar di SD itu butuh energi ekstra yang tiada habisnya. Berbicara setengah jam saja saya sudah seperti kehilangan suara. Apalagi ibu bapak guru yang mengajar 6 hari seminggu. Sepertinya mereka harus kontrol rutin ke dokter THT.

Satu hal yang saya pelajari. Setiap tingkatan kelas mempunyai dinamika yang berbeda. Misal, anak anak kelas 1 cenderung pasif dan sulit memahami. Anak kelas 3 cenderung aktif dan sulit untuk diatur. Anak kelas 5 cenderung tertib dan interaktif. Namun semuanya lebih senang bermain daripada mendengarkan penjelasan yang panjang lebar. Dan jangan heran jika ada anak yang menangis atau berantem sesama temannya. Namanya juga anak anak.

Di akhir kegiatan, semua anak anak menuliskan cita citanya pada selembar kertas dan ditempelkan pada sebuah figura yang sudah kami sediakan. Figura itu nantinya akan dipajang di dinding kelas sebagai pengingat mereka untuk berusaha meraih cita citanya. Dan setelah saya perhatikan, tidak ada yang menulis ingin seperti kak Ung. Baiklah tak mengapa. Mungkin mereka belum insyaf kalau saya ini adalah orang keren abad duapuluh satu. Setidaknya mereka akan selalu mengenang saya sebagai Kakak Tonji Tonji, hehehe..

DSC_0146[1]

DSC_0150[1]

Oia dan tak lupa kami berfoto bersama di lapangan yang sangat terik menyengat bagai dilanda rindu berkepanjangan (maksudnya pengen cepet pulang).

DSC_0157[1]

catatan:
Tentu saja saya belum puas dengan apa yang sudah saya lakukan. Saya kurang persiapan sehingga banyak kecolongan di sana sini pada saat memberikan materi. Jika masih ada kesempatan, saya akan mendaftar lagi dan berharap bisa memberikan yang terbaik. Sampe ada yang menulis,
“Ingin seperti Kak Ung yang keren”
Smile