Transformer, Transgender, Transmart 

Apa kesamaan dari judul di atas?

Semuanya sama sama menggunakan kata ‘trans’ sih. Khusus transjakarta ga akan saya bahas, karena emang ga masuk ke topik ini sih.

Transformer

Film yang menceritakan Optimus Prime serta perseteruan Autobots vs Decepticons baru terbit bulan puasa kemarin. Di hari pertama penayangannya di bioskop, saya dan teman teman kantor sengaja untuk rame rame nonton.

Sebenarnya, saya kurang minat sama sekuel sekuel seri Transformer. Selain seri pertama, yang mana masih diperankan oleh Shia LaBeouf, jalan ceritanya masih agak oke lah untuk dinikmati. Apalagi efek gambar transformasi dari mobil ke robot ataupun sebaliknya (plus efek suara nyut nyut nyutnyut nyut pada saat berubah) lumayan memukau buat saya yang pernah beli mainan robot robotan waktu SD. Semacam visualisasi imajinasi masa kanak kanak.

Di seri yang kelima ini, saya sudah feeling klo jalan ceritanya ga menarik kayak seri seri sebelumnya yang maksa. Udah gitu berisik sama adegan adegan dor der dar yang kehitung keren lah sama efek CGI nya.

Ternyata, emang bener…

Dibalik efek visual yang memukau, ternyata saya ketiduran karena jalan ceritanya yang menurut saya mah boring. Padahal itu film action yang cukup berisik. Tapi ya mo gimana, emang filmnya ga rame (menurut saya). Jalan ceritanya terlalu hambar dan ah maksa di beberapa bagian. Mudah mudahan klo seri keenam keluar, saya ga ketiduran lagi. Mungkin

Transgender

Kenapa saya bahas, kebetulan beberapa hari lalu temen iseng ngasih link IG di grup. Semacam selebgram gitu. Biar ga penasaran, nih saya bagi juga.

😉🙃🙏🏻🙏🏻🙏🏻 make up by @newtron_bw

A post shared by poydtreechada (@poydtreechada) on

Sama ini nih satu lagi,

Pas baca namanya yang berbau Thailand, di situ saya mulai ragu. Apalagi setelah dibuka dan dilihat komen komennya yang ternyata orang Indonesia lainnya ikutan nimbrung, di situ saya langsung yakin klo mereka ini KW Super 1.

Saya ga anti transgender kok, cuman ya kok bisa sih mereka secakep ini. Kalau saya lagi khilaf, ya mungkin mau saya bawa pulang ke kamar.

Transmart

Carrefour in Indonesia operates under the name 'Transmart' & is responsible for the direct exploitation of protected wildlife. Carrefour/Transmart in Indonesia host dolphin travel circuses & are now also selling snake meat (python). Boycott them! 😡 @carrefour_id – Carrefour di Indonesia beroperasi dibawah naungan Transmart dan bertanggungjawab secara langsung terhadap eksploitasi flora fauna yang dilindungi. Carrefour/Transmart di Indonesia menjadi penyelenggara sirkus lumba-lumba & saat ini juga menjual daging ular (python). Boikot mereka! 😡 @carrefour_id – #jakartaanimalaidnetwork #carrefour #python #againstanimalcruelty #snake #ular #loveanimals #cintabinatang #carrefourid #transmart

A post shared by Otherwise Known as JAAN (@jakartaanimalaidnetwork) on

Kalau yang ini agak miris sih sebenarnya. Terlepas dari apakah isu ini benar atau rekayasa, mudah mudahan ada klarifikasi dari pihak terkait yaitu Transmart sebagai ritel supermarket gede untuk menjelaskan duduk persoalan ini.

Terlepas dari budaya dan kearifan lokal daerah yang jual daging Patula, bagaimanapun saya termasuk orang yang ga suka dengan satwa liar sebagai konsumsi. Okey, saya pernah tinggal di Manado selama satu tahun lebih, dan kenal betul kekhasan mereka yang ekstrem. Jadi udah ga aneh juga klo melihat yang beginian banyak dikonsumsi. Malah pasar tradisional yang ada di Tomohon saja sudah terkenal sebagai surganya kuliner ekstrem yang menyediakan beragam daging yang tak lazim di konsumsi.

Bergerak ke beberapa tahun belakangan, akhirnya tidak sembarang satwa bisa diperdagangkan dan di konsumsi. Antara masyarakat yang mulai udah sadar, atau takut kena hukuman. Contohnya adalah satwa dilindungi seperti monyet Yaki. Meski pada prakteknya, masih ada yang sembunyi sembunyi berburu, memperdagangkan dan mengkonsumsinya. Status perlindungannya sudah cukup jelas, dan tidak bisa dibantah.

Lalu si ular sanca aka pyhton aka patula, oke mungkin bukan satwa dilindungi. Ular yang umum ditemukan di sawah, atau malah sudah banyak dikembangbiakkan oleh pelaku bisnis yang buat mereka jelas menguntungkan karena banyak peminatnya. Sayangnya, Transmart yang menjual daging Patula bisa dibilang cukup berani. Walaupun infonya katanya itu hanya tersedia di cabang Manado saja, namun jelas efek reaksinya akan menilai secara keseluruhan nama mereka yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bahkan di beberapa kalangan, tetap saja sulit untuk menerima klo ritel sebesar ini justru mendukung perdagangan satwa liar.

Patut untuk dipertanyakan, siapakah supplier dari daging Patula tersebut. Imbasnya akan cukup besar jika ternyata daging yang diperdagangkan adalah ular hasil buruan liar. Jelas ini membawa masalah baru dan tekanan sosial yang berbeda dibandingkan ga ada makanan lainnya yang banyak dikeluhkan di linimasa.

Nyambung ke masalah budaya lokal, ini agak berat sih. Makan daging hutan itu adalah budaya Minahasa, iya memang dan kultur yang melekat ini sangat dalam klo harus dibahas. Karena saya males buat bahas, silakan di baca aja jurnal antropologi oleh Gabriele Weichart yang berjudul Identitas Minahasa: Sebuah Praktik Kuliner. Link jurnalnya bisa ditelusuri di sini, silakan dibaca sendiri dan simpulkan.

Tapi menurut pribadi saya, budaya memang ada yang harus dipertahankan, tapi ada juga yang harus ditinggalkan. Budaya makan daging hutan memang sedikit demi sedikit sudah mulai ditinggalkan, karena satwanya makin susah dicari, hutannya pun makin sempit.

Kalau memang budaya ini harus ditinggalkan karena alasan miris di atas, mungkin bener klo kita tak pernah kenyang dengan apa yang sudah Tuhan sediakan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s