Zona Owa Jawa
17 Juni 2013
Titian Liana
12 Juni 2013
Selamat Pagi dari Sadewa dan Kiki
4 Juni 2013
Selamat pagi semuanya. Salam hangat dan ceria dari Sadewa dan Kiki.
Ini loh sepasang owa jawa yang nantinya bakal dilepasliarkan dalam hitungan waktu beberapa hari ke depan. Semoga saja tiada aral yang menghalangi kisah mereka untuk kembali ke hutan. Tempat dimana mereka seharusnya tinggal.
Yuk dukung upaya konservasi Owa Jawa dengan tidak memelihara satwa liar serta merusak habitatnya.
*pesan ini disponsori oleh saya sendiri
Kantor Saya
2 Juni 2013
Inilah kantor saya yang berdinding bilik bambu.
Di antara rerimbunan pohon pinus, di latarbelakangi oleh dua puncak, diselimuti oleh hawa dingin pegunungan, dan diramaikan oleh muda mudi yang berkemah.
Tempat kerja yang sehat untuk paru paru.
Berhubung ini adalah kantor saya, saya ingin sekali menerapkan konsep green office. Mulai dari sampah, energi, dan karbonnya. Kalau untuk urusan airnya, saya tidak bisa berkata banyak. Air mengalir terus sepanjang waktu tak terbendung.
Mengenai sampah, saya berencana untuk bikin keranjang Takakura khusus sampah organik skala rumah tangga. Saya sudah tahu dari dulu tentang keranjang sampah satu ini, tapi sampai sekarang belum pernah saya membuatnya. Karena sekarang saya vegetarian dan belajar masak sendiri, pastinya bakal ada sampah sisa makanan yang bisa diolah jadi kompos.
Saya juga mau mulai mengurangi konsumsi sampah plastik. Untuk yang satu ini, mungkin saya harus mengurangi aktivitas jajan menjajan atau pada saat belanja bulanan selalu sedia kantung re-useable.
Hal hal yang berkaitan dengan program kerja juga akan saya coba atur untuk menggunakan barang barang yang tahan lama, semisal penggunaan batu batere isi ulang, kotak makan dan botol minum food grade khusus untuk kegiatan di lapangan maupun jajanan warung yang dibawa pulang.
Bahkan untuk kegiatan monitoring di lapangan pun pengennya pake perangkat digital untuk pencatatan data. Ada beberapa alasan yang menjadi pertimbangan yang menurut saya cukup baik dalam hal penggunaan sumber daya energi, khususnya listrik.
Saya bahkan berencana untuk membawa sepeda ke lokasi kantor. Setidaknya sepeda yang saya gunakan membantu saya dalam mobilitas dalam kawasan yang bisa dibilang lumayan luas. Walaupun akan disediakan motor operasional, untuk jarak yang tidak sampai 10 kilometer, saya kira masih bisa ditempuh dengan sepeda. Hanya saja saya belum siap fisik untuk memboyong sepeda saya dari rumah. Perjalanannya menanjak sangat.
Jadi begitulah rencana rencana yang tertanam dalam benak saya. Semoga saja bisa terlaksana tanpa aral melintang. Syukur syukur malah didukung oleh atasan.
My Office, My Rule
Ahoy
1 Juni 2013
Kayaknya saya sudah lama banget ga posting sesuatu di blog. Cuman mau ngasih tau aja klo kabar saya baik baik alhamdulillah bersyukur amin.
Akhir akhir ini jarang banget saya apdet sesuatu di sini dikarenakan beberapa hal. Di antaranya adalah, waktu yang tersita, akses sinyal yang terbatas dan kuota internet yang belum di isi.
Padahal sebenarnya banyak hal yang ingin saya tulis. Namun entah kenapa jari jari ini mengaku dalam dinginnya malam di gunung puntang.
Dalam beberapa minggu ke depan, program kerja saya akan dimulai. Sebenarnya sudah dimulai dari sebulan yang lalu. Tapi keriweuhan itu akan mulai nampak dalam minggu minggu ini. Maklum aja sih, karena bakal ada pak Menteri yang berkunjung, jadinya semua orang riweuh nadzubillah.
Kalau pak menhut datang, mungkin setidaknya pak gubernur juga dan pak bupati akan turut hadir meriweuhkan suasana.
Saya sih enjoy aja, tapi apa daya, gegedug yang pake baju seragam dituntut untuk perform sebaik dan se-okey mungkin. Jadilah saya terbawa bawa dalam suasana hiruk pikuk mereka yang saya sendiri ga begitu mengerti bagusnya kayak gimana.
Saya belum cerita mengenai program apa yang akan saya kerjakan. Nggak jauh jauh lah dari dunia permonyetan.
Jadi rencananya dalam hitungan dua minggu ke depan, sepasang owa jawa bekas peliharaan yang telah menjalani masa rehabilitasi akan dilepasliarkan ke hutan. Lokasinya di Gunung Puntang Kabupaten Bandung. Kenapa dipilih gunung puntang? Karena secara kekayaan jenis tumbuhan di hutannya sama dengan hutan hutan lain yang banyak ditemukan owa di dalamnya.
Selain itu pula secara aspek historis, gunung puntang yang merupakan bagian gugusan dari gunung Malaba, konon katanya dulu juga pernah ada owa. Namun entah kenapa si owa owa tersebut menghilang. Disinyalir hal tersebut dikarenakan oleh aktivitas perburuan. Namun ada juga yang membuat kesimpulan bahwa hal tersebut dikarenakan oleh proyek besar besaran Belanda yang membangun Stasiun Pemancar Radio Malabar. Masuk akal sih, apalagi kalau melihat foto foto lawas yang merekam proses pembangunan kawasan stasiun radio. Setidaknya proyek tersebut membuka lahan yang cukup luas dengan meratakan tebing tebing gunung dengan menggunakan tenaga dinamit.
Belum lagi dengan peristiwa Bandung Lautan Api yang membumihanguskan seluruh areal stasiun radio hingga menyisakan puing puing yang bertahan hingga kini.
Sayang memang, tapi begitulah yang namanya perjuangan. Harus ada yang dikorbankan.
Orang yang mengerti sejarah tentunya ingin sekali mereklamasi areal stasiun radio seperti dulu lagi. Mengingat bahwa stasiun radio Malabar adalah stasiun radio pertama yang bisa broadcast jarak jauh hingga ke Belanda. Karena stasiun radio inilah muncul istilah “Hallo Bandoeng” yang sampai saat ini masih terdengar lagunya. Bukan hal yang tidak mungkin untuk mereklamasi areal gunung puntang seperti dulu lagi. Tapi sebelum bangunannya didirikan, mending ownya dulu yang dikembalikannya hutan. Setuju.
Sesederhana Bilik Bambu
3 Mei 2013
Bulan april baru saja berlalu beberapa hari kemarin. Sebenarnya banyak hal hal yang terjadi selama bulan kemarin, tapi saya tak sempat untuk tuliskan di sini.
Bagi saya april adalah salah satu titik lompatan terbesar dalam hidup yang harus saya syukuri saat ini.
Sepulang dari Sulawesi, saya menyibukkan diri dengan aktivitas relawan pada salah satu pusat rehabilitasi primata yang ada di Bandung –kayaknya ada di beberapa postingan sebelumnya. Saya hanya merencanakan untuk membantu selama satu bulan saja. Setelah itu saya berencana untuk memulai petualangan baru di pulau lain –jika ada kesempatan menuju ke sana.
Sayangnya cerita tidak berjalan seperti itu.
Tidak jauh dari kampung halaman, ada sebuah tawaran kerja pada bidang yang masih dalam minat saya –primata. Sebuah organisasi membutuhkan seseorang yang mau ditempatkan di suatu lokasi, untuk memimpin, mengatur, dan mengkoordinasikan sebuah tim kecil yang nantinya dibentuk untuk memonitoring Owa Jawa yang dilepasliarkan. Dan kebetulan pada saat itu senior saya merekomendasikan nama saya ke organisasi tersebut.
Selang tak berapa lama, mereka menghubungi saya. Mencoba mengenal profil saya lebih jauh. Saya tidak asing dengan organisasi tersebut, tapi saya tidak kenal orang orang yang terlibat di dalamnya. Pergaulan saya memang sedikit sempit dan terbatas pada orang orang yang terhubung di sekitaran Bandung.
Setelah mengenal profil saya, mereka kemudian menjelaskan tujuan dari program yang hendak dijalankan. Dari awal sebenarnya saya sudah tertarik dengan program pelepasliaran satwa. Saya telah menghabiskan sebagian waktu saya untuk meneliti primata di alam, membantu beberapa primata di pusat rehabilitasi. Dan yang ini adalah mengembalikan primata ke alamnya, seperti kepingan puzzle yang melengkapi daftar pengalaman saya.
Meskipun saya tertarik, saya berada dalam pilihan yang sulit. Keputusan saya akan berpengaruh terhadap rekan rekan yang mengharapkan andil saya untuk mereka. Sudah ada beberapa ajakan yang masuk, namun terkendala di entah kapan akan dimulai.
Akhirnya, setelah melalui beberapa pertimbangan yang mendalam serta diskusi ringan bersama rekan rekan yang saya percayai, saya memutuskan untuk menerima penawaran tersebut.
Keputusan saya tersebut berpengaruh terhadap rencana rencana yang sudah saya susun. Saya harus mengubur target saya di 2013 untuk melihat primata yang ada di Sumatera. Saya juga merelakan tiket gratis terbang ke Jerman yang sudah ada di depan mata, padahal Jerman adalah impian kecil saya. Dan saya harus menangguhkan ide ide bisnis saya yang sudah tertuang lama.
Setidaknya, keluarga di rumah bersukacita, mereka tak lagi perlu khawatir anaknya menghilang oleh jarak yang sangat jauh. Teman yang sangat saya percayai pun sangat mendukung keputusan yang saya ambil ini, mereka bilang ini adalah saatnya saya untuk fokus, menetap dan mempersiapkan diri untuk menjadi siapa saya di masa yang akan datang.
Pekerjaan saya saat ini memang tidak menjanjikan tiket gratis ke Jerman. Tidak pula memberikan fasilitas yang wah. Tidak ada percakapan dengan bule. Semuanya terlihat sederhana. Sesederhana bilik bambu yang menjadi kantor saya nanti. Lebih tepatnya Saung.
Semoga kebaikan di April kemarin membawa pencerahan di masa datang. Amin
Moni, you’re safe now
7 April 2013
Dia duduk di sisi jalan yang penuh dengan bising lalu lalang kendaraan. Bergerak hilir mudik dalam keterbatasan tali rantai yang membelenggu lehernya.
Di depannya tersaji semangkuk nasi campur kecap yang disediakan oleh sang penjual sebagai makan siangnya. Jelas bukan makanan yang sesuai untuk seekor lutung yang porsi makan alaminya adalah dedaunan dan buah-buahan.
Dan sore di hari jumat itu, nasibnya takkan lagi sama. Si Lutung kecil telah terbebas dari belenggu dan asap kendaraan. Ia telah diselamatkan dari nasib buruk perdagangan satwa.
Untuk selanjutnya, si lutung akan di bawa ke pusat rehabilitasi primata jawa. Di sana dia akan diperlakukan selayaknya lutung yang ada di alam. Dan tidak menutup kemungkinan dia akan dikembalikan ke habitatnya. Di hutan.
Dan kami memberimu nama Moni.
berita terkait
Pikiran Rakyat : http://www.pikiran-rakyat.com/node/229816
Inilah.com : http://m.inilah.com/read/detail/1975001/kuasai-satwa-langka-didenda-rp200-juta-dan-penjara
Galamedia : http://www.klik-galamedia.com/bksda-gagalkan-perdagangan-satwa-dilindungi
Aom dan Regina
3 April 2013
Aom adalah Owa Jawa hasil penyitaan dari daerah Banjaran, Kabupaten Bandung, dan Regina adalah Owa Jawa betina kelahiran kebun binatang Inggris. Mereka berdua dalam kondisi sehat tanpa catatan riwayat penyakit. Dan perjodohan mereka berdua baru dimulai minggu lalu.
Di hari pertama Regina dipindahkan ke kandang Aom, ia tampak sangat takut sekali. Regina takut bukan karena wajah Aom yang seperti Drakula dengan gigi taring yang menyembul keluar, melainkan karena shock dan stress pasca pemindahannya ke kandang baru yang melibatkan banyak orang.
Di tempat barunya, Regina cenderung menghabiskan waktu bersembunyi di dalam tempat tidurnya yang berupa kotak kayu.
Esok harinya, Regina mulai berani keluar dari persembunyiannya untuk makan. Dan di pagi itu pula, Regina dan Aom mulai berinteraksi.
Melihat interaksi Aom dan Regina menurut saya sangat amazing. Mereka baru saja dipersatukan kemarin, dan paginya mereka tidak tampak asing satu sama lain.
Meskipun mereka ditempatkan dalam satu kandang, mereka berdua dipisahkan oleh sekat kawat ditengahnya. Sekat tersebut dipasang untuk menghindari kemungkinan agresivitas salah satu Owa kepada Owa lainnya. Misal mengigit, menjambak dan kemungkinan kemungkinan lainnya yang bisa mencederai.
Namun melihat bagaimana mereka berinteraksi, sekat tersebut justru menghalangi mereka untuk saling memberi.
Selama dua hari Aom dan Regina berinteraksi melalui sekat. Aom lebih banyak berinisiatif untuk mendekati Regina. Sulit untuk mengatakan apa yang sedang mereka lakukan pada saat saling berdekatan. Pada satu kesempatan, saya melihat Aom mencoba memasukkan tangannya pada lubang yang tidak tertutup sekat dan menyentuh Regina. Sedangkan Regina tampak tidak keberatan atas perlakuan Aom yang menyentuhnya. Sepertinya ini adalah kabar baik.
Pada hari berikutnya, setelah saya berdiskusi dengan Koordinator animal keeper, Sigit Ibrahim, kami memutuskan untuk mencoba membuka salah satu pintu sebagai akses keluar masuk. Di hari pembukaan pintu akses tersebut, Aom dan Regina bergantian masuk dan berada satu ruangan bersama.
Interaksi yang terjadi menunjukkan hal yang berbeda dibandingkan sewaktu mereka dipisah. Setelah pintu dibuka, Regina lebih berinisiatif untuk mendekati Aom. Beberapa kali Regina mendekati Aom dan memamerkan tubuhnya. Aom merespon dengan mencium ketiak dan mengamati tubuh Regina. Kejadian tersebut terjadi berulang ulang setiap kali mereka saling berdekatan.
Sinyal sinyal seksual memang sudah ditunjukkan oleh Regina. Namun untuk sampai tahap reproduksi, sepertinya masih butuh waktu dan keberanian dari Aom untuk memulai. Ya semoga saja mereka memang berjodoh.
Note: Sebagai Owa yang berasal dari kampung, Aom sungguh beruntung bisa mendapatkan Regina yang berasal dari Inggris. Saya yang sudah malang melintang bersama gadis gadis bule, belum tentu seberuntung Aom untuk mendapatkan mereka
(maksud saya gadis bule, bukan owa bule)
Acoy dan Douglas
2 April 2013
Acoy (kiri) dan Douglas (kanan)
Acoy adalah owa jawa betina yang sebelumnya dipelihara oleh orang Bandung Timur. Dan Douglas adalah owa jawa jantan yang usianya sedikit lebih tua dan dulunya dipelihara oleh orang Bandung Selatan. Mereka berdua mengidap Hepatitis B, sehingga tidak menjadi masalah bila mereka dijodohkan.
Namun ternyata proses perjodohan mereka tidak berjalan mulus. Sebagai betina, Acoy tampak lebih dominan dibandingkan Douglas. Awal awal perjodohan, seringkali Acoy menggertak Douglas dengan cara meloncat dan menggoyangkan batang batang bambu hingga terdengar suaru nyaring beradu.
Tak jarang pula Acoy mengejar ataupun mengusir Douglas dari tempat ia sedang beristirahat atau makan.
Bila pada saat jam makan tiba dan animal keeper menyimpan pakan pada satu tempat, maka Douglas akan mengalah dan mempersilakan Acoy untuk makan terlebih dahulu. Setelah Acoy puas makan, barulah Douglas menghampiri sisa sisa buah yang tidak dimakan Acoy.
Beberapa minggu kemudian, sikap Acoy tampak melunak. Dia tidak lagi se-agresif pertama kali mereka dijodohkan. Acoy tak lagi menghampiri Douglas sambil menggertak. Namun sikap Douglas masih tetap sama. Dia masih takut dan menghindar bilamana Acoy mendekat.
Acoy lebih banyak menghabiskan waktunya di bagian paling atas enclosure bambu. Sedangkan Douglas lebih sering menghabiskan waktunya di lantai dasar. Perilaku Douglas yang cenderung sering beraktivitas di lantai sebenarnya tidak bagus. Ini adalah perilaku bawaan ketika ia masih dipelihara dulu.
Owa yang dipelihara dan disimpan di kandang sempit dalam waktu yang lama akan menurunkan kemampuan Owa untuk berayun (branchiasi).
Sejatinya Owa adalah primata arboreal yang menghabiskan waktunya di atas pepohonan. Pergerakan Owa dari satu pohon ke pohon lain dilakukan secara branchiasi layaknya seorang akrobat.
Beberapa hari yang lalu, Douglas mulai menunjukkan sikap inisiatif mendekati Acoy. Ketika Acoy sedang tidur siang, Douglas mengendap endap mendekat. Jarak mereka sangat dekat hingga Douglas bisa menyentuh Acoy. Sayangnya momen tersebut tidak berlangsung lama. Begitu Acoy bangun dari tidurnya, Douglas langsung kabur meninggalkannya.
Momen tersebut terjadi setiap kali Acoy beristirahat. Namun sikap Douglas masih tetap sama ketika Acoy mendekatinya. Douglas masih saja menghindar takut dan duduk pada jarak aman.
Entah sampai kapan sikap Douglas akan seperti itu..
Selamatkan Primata Jawa
2 April 2013
Semenjak kepulangan saya dari sulawesi terutama Pusat Rehabilitasi Satwa Tasikoki, saya masih terinspirasi untuk berbuat banyak bagi satwa satwa liar dilindungi yang nasibnya tidak beruntung. Dan selama candra maret, saya memutuskan untuk terlibat kembali bersama satwa satwa yang ada di Jawa Barat (khususnya primata) sebagai sukarelawan.
Tidak jauh dari rumah ibu saya di kawasan Kabupaten Bandung, tepatnya di daerah Ciwidey telah berdiri sebuah pusat rehabilitasi yang dikhususkan untuk primata jawa. Tempat rehabilitasi satwa yang memiliki nama Pusat Rehabilitasi Primata Jawa (PRPJ) ini baru saja didirikan dan diresmikan setahun yang lalu.
Hingga saat ini, PRPJ sudah menampung primata seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata) dan Lutung Jawa (Trachypitecus auratus).
Semua primata tersebut berasal dari penyitaan yang dilakukan oleh pihak yang berwenang yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam terhadap masyarakat yang diketahui menyimpan/memelihara primata. Kasus primata yang dipelihara lebih umum terjadi di Jawa Barat. Dan kebanyakan dari pemelihara primata memang tidak banyak mendapatkan informasi bahwa jenis primata yang ada di pulau Jawa Barat dilindungi secara hukum.
Ke depannya, tentu saja primata primata yang ada di PRPJ diproyeksikan akan dikembalikan ke habitatnya yang terjamin dari segala ancaman perburuan liar. Namun itu juga bila catatan kesehatan satwa masuk dalam kategori sehat.
Primata yang sehat tentu saja tidak memiliki riwayat penyakit yang berbahaya seperti TBC, Hepatitis A, Hepatitis B, CRV, dan juga penyakit penyakit lainnya yang berpotensi bisa ditularkan ke primata lainnya yang ada di alam.
Primata yang dipelihara rentan mengalami zoonosis, yaitu suatu penyakit yang ditularkan oleh manusia. Begitu pula dengan manusia yang memeliharanya. Hal tersebut mudah terjadi mengingat kedekatan genetika antara manusia dan primata non-manusia.
Banyak dari primata primata yang masuk PRPJ memiliki catatan medis buruk sehingga upaya pelepasliaran sulit untuk dilakukan.
Hal tersebut menjadi tantangan bagi dunia konservasi satwa. Maka dipandang perlu untuk melakukan sebuah riset mengenai penyakit pada primata yang ada di alam. Upaya riset ini tengah dilakukan oleh tim PRPJ yang mengambil contoh sampel dari Owa Jawa di alam untuk diuji kandungan penyakitnya. Namun, hasil uji klinis laboratorium belum bisa dilakukan di dalam negeri. Sedangkan untuk pengiriman sampel masih tertunda dalam proses.
Sebagai sukarelawan yang tentu saja bekerja dengan sukarela, saya membantu beberapa program yang ada di PRPJ. Koordinator animal keeper/perawat satwa Sigit Ibrahim menugaskan saya untuk mengamati perilaku Owa Jawa yang sedang dalam proses penjodohan.
Tugas ini dirasa penting mengingat bahwa Owa adalah satwa yang monogami (satu pasangan seumur hidup), sehingga mereka tentu tidak akan asal memilih pasangannya. Dan bila proses penjodohan ini berhasil, maka ketika sepasang Owa tersebut dilepasliarkan, potensi untuk berkembangbiak akan lebih besar ketimbang mereka mencari pasangannya sendiri di hutan.
Dan inilah yang saya lakukan. Duduk manis di salah satu sudut kandang, mencatat setiap interaksi yang dilakukan.
Jangan bilang ini membosankan
Open Top Enclosure. Taman bermain untuk Owa yang memberi kebebasan dalam bergerak-berayun seperti di hutan aslinya.
Sinar matahari dimanfaatkan oleh Owa Jawa untuk menjemur diri dari suhu dingin pegunungan di kawasan PRPJ










