Tali rafia, penyelamat di saat-saat terakhir si sandal

Ini mah sedikit preview dari saya mengenai sandal gunung yang sudah hampir satu tahun saya pakai.

Ya tepatnya satu tahun saya menggunakan sandal ini untuk segala aktivitas saya yang seabreg-abreg kagak ada habisnya. Dan kini kebersamaan kami akan segera berakhir, setelah kemalangan menimpa si sandal hingga putus sudah kebersamaan kami.

Siapa sangka siapa duga, putusnya tali terjadi di saat-saat yang tak dikira. Putus begitu saja tanpa ada firasat atau tanda-tanda yang bikin hati ini dag-dig-dug.

Mau gimana lagi. Mungkin satu tahun adalah waktu yang lumayan cukup lama untuk sebuah masa pakai sandal. Menurutku sandal gunung merk Boogie ini bisa dibilang lumayan nyaman untuk digunakan.

Kenyaman tersebut ada pada tali bagian belakang yang menyangga tumit agar tidak menggeser keluar. Tali ini tidak menggunakan perepetan seperti sandal gunung pada umumnya. Hanya sebuah tali yang tidak flexible karena tidak bisa mengatur panjang pendeknya. Justru menariknya adalah disitu, meskipun ukurannya tetap tapi dia pas sekali pada ukuran tumit dan tidak ada hambatan bagi tumit untuk keluar masuk sandal.

Tidak setiap waktu kita selalu menggunakan mode on sandal gunung, yaitu dimana tali belakang harus selalu terpasang pada tumit. Terkadang  juga kita terburu-buru sehingga tidak sempat mengaitkan tali belakang pada tumit. Nah kenyamanan lainnya adalah dapat digunakan dengan versi sandal jepit biasa tanpa harus mensetting terlebih dahulu beberapa atributnya termasuk tali belakang.

Karena tali penyangga tumitnya tidak menggunakan perepetan, maka pada saat dipakai tidak akan terlalu menganggu karena tebal tali yang diinjak. Entah ini sepele atau tidak, tapi pada umumnya sandal-sandal gunung yang menggunakan perepetan pada bagian belakang justru sedikit menganggu pada saat saya menggunakannya dengan versi sandal jepit. Alhasil saya tidak akan berlama-lama memakai dengan cara tersebut karena ada sedikit rasa pegal pada telapak kaki.

Meskipun begitu sandal ini ada kurangnya juga, terutama pada bagian sol. Apakah karena saya yang makainya terlalu ekstrim atau perjalanan yang saya tempuh sudah sangat jauh sekali, sol sandal cepat sekali aus dan parahnya lagi belah. Dua-duanya lagi. Untungnya sol yang belah tidak mengakibatkan dia mengangga sepanjang jalan. Kenapa bisa belah ya?

Selamat tinggal kawan, senang telah mengenalmu

Sudahlah, mungkin ini adalah saat yang tepat untuk mengucapkan selamat jalan. Terimakasih atas perjalanan, petualangan serta pencarian yang telah kita lalui bersama. Semoga kau menemukan kedamaian di TPA. Amin

Selamat Idul Adha semuanya.

Kemarin melewatkan Idul Adha di negeri orang. Ga bawa baju ganti dan layak untuk shalat Ied, terpaksa meminjam sebentar sajo ke Kang Nundang.

Ga berlama-lama, selesai shalat Ied saya tidak menyempatkan diri untuk looking-looking kesibukan para warga yang menyembelih hewan kurban. Padahal di sini lumayan banyak hewan yang dikurbankannya, seingatku sih waktu ceramah banyak yang kurban sapi ketimbang domba. Maklum aja, disini kan kebanyakannya juragan sapi.

Haji ini, Haji itu, Hajjah ini, Hajjah itu dan haji-haji ji jalan. Semuanya ngurban sapi. Baghus!!

Persiapan untuk kembali pulang lumayan lebih berat dibanding waktu keberangkatan. Banyak barang tambahan berupa palu, kampak, gergaji (peralatan tukang), pompa ban, kaos hasil nge-cet, serta beberapa instrumen bermain yang dulu tak sempat untuk dibawa kini dibawa pulang.

Untuk rencana kepulangan ke Bandung ini saya akan mencoba mengambil jalur lain. Maksudnya rute pulang tidak sama dengan rute pada saat berangkat. Ya, rencananya saya akan mengambil jalur hutan Gunung Tilu dan keluar di daerah Gambung Ciwidey. Lokasi tempat saya dulu menghabiskan masa-masa relawan sebelum pindah  ke Pangalengan.

Klo dari Pangalengan itu arahnya menuju ke Situ Cileunca, tapi sebelum mencapai Situ belok ke kanan ke arah Gambung. Untuk setengah perjalanan pertama memang cukup melelahkan karena jalannya menanjak terus menerus. Tapi untungnya, jalur Gambung ini bisa dibilang lumayan sepi dari hilir mudik kendaraan. Terutama kendaraan besar. Jadi nggak perlu khawatir bakal disalip kendaraan.

Di jalur ini setidaknya ada tiga pemandangan yang bakal disajikan, yaitu perkebunan sayur, hutan, dan perkebunan teh yang sungguh-sungguh sangat luas dan beda banget dibandingkan kebun teh puncak. Dan lagi di beberapa lokasi terdapat gua yang  dulunya pernah digunakan sebagai tempat persembunyian semasa jaman Jepang dan juga pemberontakan DI/TII. Ga dalam-dalam amat sih, paling cuman lima meteran.

Di jalur ini juga ada tempat yang biasa digunakan untuk olahraga/ aktivitas sungai yaitu Rahong. Sayangnya ketika saya lewat sedang sepi-sepi saja (ya iyalah pada lebaran kali orang-orangnya). Air sungainya lumayan cukup menarik untuk sekedar mandi, basah-basahan serta eheum.

Di pertengahan hutan, perjalanan semakin menyenangkan, karena di sisa jalur ini saya tidak usah bercapai-capai mengayuh sepeda. Hampir seluruhnya berupa turunan yang tidak terlalu curam, namun tetap harus waspada karena jalurnya berkelok-kelok serta beberapa jalannya berlubang-lubang sehingga tangan musti tetap siaga untuk mencengkeram rem.

Keluar dari hutan barulah pemandangan perkebunan teh yang berhektar-hektar luasnya seakaan menyelimuti dari kiri dan kanan. Apalagi pada saat diguyur kabut serta disiram mentari yang baru muncul dari balik bukit, wah keren banget lah pemandangannya. Belum lagi pabrik tehnya yang bersebelahan dengan kebunnya, pasti menghasilkan teh yang segar (mengutip iklan susu realGOOD, hahaha).

Sebagai pesepeda amatir, saya rasa jalur Pangalengan-Gambung ini perlu dicoba. Lumayan menghadirkan suasana yang berbeda dan tentunya jauh dari terjangan asap knalpot kendaraan bermotor yang hilir mudik. Selamat mencoba!

Kesampaian juga akhirnya mengirimkan surat balasan dari adik-adik SD Neglasari Bandung untuk adik-adik SD Cijembar Pangalengan. Setelah kurang lebih tiga minggu surat-suratnya tertahan di dalam tas saya akibat kesibukan yang tidak jelas, akhirnya sampai juga tuh surat kepada alamat yang dituju.

Masih nyambung dengan postingan sebelumnya. Tujuan saya ke Pangalengan memang tidak hanya sekedar bersepeda saja dan mengetes batas kemampuan serta mengukur waktu tempuh seorang pesepeda amatir, tapi ya itu tadi saya juga harus mengirimkan kembali surat-surat balasan kepada mereka yang tercantum namanya pada surat.

Rencananya besok pagi saat mereka memulai aktifitas sekolah, saya akan datang dan bertamu terlebih dahulu kepada bapak kepala sekolah. Setelah itu saya minta izin setengah jam untuk mengajak adik-adiknya membalas suratnya lagi.

Eh taunya… dodol benar diriku ini. Ternyata besok semua anak SD libuuuuuuuuuuuur.

Setiap tanggal 25 November, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Guru Bhayangkara. Lebih dodolnya, saya baru tahu klo tanggal 25 November itu adalah hari guru. Kacau benar anak muda jaman sekarang, melupakan jasa para pendidik yang telah dengan sabar meluluskannya dari bangku sekolah.

Karena lusa mereka baru masuk sekolah, maka dengan terpaksa sekali saya harus memperpanjang masa aktif saya disini. Tadinya mau tiga hari saja, tapi kalau begini keadaannya ya jadi empat hari saya bersemayam di Pangalengan. Dan itu berarti saya harus melewatkan hari Raya Idul Adha disini juga. Never mind.

Lusa tiba. Rasa lelah perjalanan baru terasa di malam yang kedua. Sedangkan skema dan rencana akan dimulai pagi ini. Bangun pagi terasa agak berat, padahal kemarin saya bisa bangun tepat jam lima. Mungkin sensasi dingin yang mulai membalut tubuh  membuat kata “malas” tumbuh berkembang dengan baik.

Segala sesuatu yang bisa mengalahkan rasa malas adalah niat. Sebuah niat yang bulat dan tekad yang kuat. Jadi jangan heran jika melihat saya yang sangat sangat pemalas,  karena saya belum menemukan sebuah niat yang bulat dan tekad yang kuat. Niatnya masih seperti awan, berbentuk tapi tak berbentuk, berwujud tapi menghilang diterpa angin. Tekadnya masih tekad tahu, kenyal-kenyal gampang hancur gitu deh. Nah loh kok tulisannya jadi mengarah ke galau-galauan gini yah.

Segera saja saya mengusir kata-kata “malas” akibat sensasi dingin dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Pokoknya hari ini saya harus pergi ke sekolah atau saya harus menunggu lusa karena besok mereka bakal libur lagi. Dan itu tidak boleh terjadi.

Sesampainya di sekolah saya langsung masuk ke ruangan Kepala Sekolah. Si bapak cukup kaget melihat kedatangan saya kembali, apalagi dalam penampilan yang berbeda (makin jelek sih). Tidak banyak berlama-lama, saya lalu mengutarakan maksud hati serta menjelaskan bla bla bla mengenai program surat-menyurat antar sekolah. Sedikit berpromosi juga tentang nilai-nilai positif yang bisa diambil jika adik-adiknya terbiasa menulis surat.

Sebenarnya program ini adalah hasil salin tempel dari rekan-rekan yang terhimpun dalam Komunitas Sahabat Kota tentang Jejaring Anak Indonesia dan juga program Sepeda Surat (bersepeda sambil mengirim surat). Dan lagi program ini juga sudah mendapatkan persetujuan dari sang empunya serta didukung penuh hingga proses pencarian sekolah yang akan dijadikan sebagai sahabat pena dari adik-adik SD Pangalengan.

Beruntunglah, respon dari sekolah sangat positif. Mereka menyambut baik niatan saya dan mempersilakan saya untuk melaksanakan programnya tanpa sungkan-sungkan. Jarang-jarang loh sekolah yang “terpojokkan” (jauh dari mana-mana) ini dapat program khusus untuk anak-anaknya.

Begitu masuk ke dalam ruangan kelas, seluruh adik-adik menyambut kedatangan saya dengan meriah. Mereka belum melupakan saya. Bahkan ada beberapa diantara mereka bertanya,

“nanti sore akan main?”

Sebuah rutinitas yang sebelumnya selalu saya lakukan selama menjadi relawan. Dengan berat hati saya menjawab tidak. Hari ini saya hanya akan mengajak mereka untuk membaca surat dan membalasnya kembali.

Satu persatu nama yang tercantum dalam surat saya panggil dan saya serahkan suratnya. Mereka sangat antusias menerima surat yang tak dinyana mendapat balasan. Usai membaca surat masing-masing, mereka tertawa-tawa sendiri. Mungkin itu adalah ekspresi senang karena bisa punya kenalan dari Bandung.

Tidak menunggu lama, mereka lalu membuat surat balasannya. Beberapa dari mereka ada yang cukup kesulitan untuk menulis, sedangkan yang lainnya cukup bersemangat hingga penuh satu halaman. Umumnya yang kesulitan menulis bukan karena kebingungan harus membalasnya seperti apa, tapi mereka benar-benar kesulitan untuk menuliskan kata-kata yang ingin mereka sampaikan. Padahal mereka udah kelas empat gitu loh.

Ya mudah-mudahan saja dengan menulis surat, mereka akan termotivasi untuk menulis dengan baik sesuai dengan ejaan yang telah disempurnain. Karena masih banyak di antara mereka yang tulisannya campuran bahasa Indonesia dan Sunda serta serapan asing yang ditulis dengan logat Sunda.

Maksa Visan.

Akhirnya beres juga. Surat-surat sudah dikumpulkan. Dan selanjutnya adalah mengirimkan kembali surat-surat tersebut ke Bandung. Mungkin bulan depan saya kembali lagi ke Pangalengan dan mengantarkan surat balasan dari Bandung. Mudah-mudahan saja dengan bersurat-suratan mereka jadi lebih pandai menulis dan bercerita. Dan klo jodoh, bisa saja suatu hari nanti mereka bertemu dan menjadi sahabat sejati. Witwiw…

NB: Besok Idul Adha, Selamat Pesta Daging Saudara-Saudara.

Apa bedanya sepeda amatir dengan sepeda profesional?

Jawabannya ada pada celana yang mereka kenakan. Sepeda amatir cenderung menggunakan celana yang semau gue, mau pake celana cutbray kek, celana pensil, celana jeans, celana seketer, celana panjang pendek ato bahkan nggak di celana pun nggak masalah. Nah klo pesepeda profesional, sepenglihatan aku sih mereka tuh doyannya menggunakan celana-celana pendek ketat merecet dan cenderung menonjolkan kepunyaannya yang terhimpit oleh jok. Jadi klo ada yang melihat orang bersepeda menggunakan celana ketat, anggap aja dia atlet sepeda profesional, hehehehe.

Bicara tentang sepeda atau lebih tepatnya sesepedahan (soalnya klo ngomongin sepeda nanti nyambungnya ke masalah onderdil dan part-part sepeda yang sama sekali saya tidak mengerti), selasa kemarin saya mencoba untuk menantang diri saya secara pribadi. Tantangannya sih simpel aja yaitu, berapa jam waktu yang dibutuhkan untuk seorang pesepeda amatir dari Bandung menuju Pangalengan?

Bener-bener simpel sekali.

Sebelum pemberangkatan, terlebih dahulu saya merencanakan segala tetek bengek yang dibutuhkan. Maklum ini adalah pertamakalinya saya bersepeda dengan lokasi dan jarak yang bisa dikatakan cukup jauh. Mulai dari menentukan rute yang akan diambil, barang yang akan dibawa hingga, kostum yang akan dipakai. Dan lagipula, perjalanan sepeda nanti bukan perjalanan satu hari pulang pergi. Saya berniat menginap barang dua atau tiga hari di lokasi yang dulu pernah saya tempati sewaktu menjadi relawan gempa. Bersilaturahmi sekaligus ada misi lainnya yang nanti akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

Pukul sembilan pagi tiga puluh menit, sebuah start perjalanan yang bisa dibilang cukup telat untuk melakukan perjalanan jauh. Maklum aja, niatnya sih udah pakem di dalam hati, cuman praktek bangun paginya aja yang rada susah.

Perjalanan dimulai dari Jalan W. R Supratman, Bandung. Dengan kekuatan yang sebelumnya diberikan oleh PSK (Pedagang Sangu Koneng=Nasi Kuning) ku kayuh sepeda dengan semangat membara. Mengambil rute Pelajar Pejuang lalu belok kiri di Buah Batu lurus terus masuk Bojong Soang lalu belok kiri lagi ke arah Dayeuh Kolot dan masuk ke jalur Banjaran. Satu langkah perjalanan berhasil dilalui tanpa hambatan dan lancar-lancar saja. Dan waktu yang diperlukan antara Bandung-Banjaran kurang lebih sekitar satu jam tigapuluh menit.

Sebuah permulaan yang bagus, waktu yang ditempuh untuk langkah pertama ini hampir sama dengan waktu tempuh Bandung-Padalarang. Hanya saja rute ke Banjaran tidak banyak turunannya, datar-datar saja.

Tiba di Banjaran, istirahat dulu di Masjid Alun-alun. Santai dikit lah, namanya juga sepeda amatir. Harus dinikmati. Banyak godaan yang datang saat melewati pasar yang ramai. Dari es campur, es krim hingga es kepala. Apalagi waktu menunjukkan pukul 12 siang. Akhirnya, mau nggak mau saya musti menelan ludah dan melanjutkan saja perjalanan ini. Lagi kere nih musti banyak penghematan!

Langkah kedua, Banjaran-Pangalengan dimulai.

Kalau dilihat-lihat di peta, jarak Bandung-Banjaran dan Banjaran-Pangalengan tampak similiar panjangnya dan sama jauhnya. Dan lagi menurut informasi yang didapat, waktu tempuh oleh sepeda motor, sepeda motor, sekali lagi, sepeda motor ialah sekitar satu jam. Jadi klo dikira-kira pake sepeda mah mungkin dua atau tiga kali lipatnya. Begitulah menurut pendapat saya.

Lain dihitungan, lain pula dikenyataan. Kekuatan dan daya tahan tubuh manusia bukanlah matematis, tidak selalu konstan saudara-saudara! Perkiraan awal mengenai waktu yang akan ditempuh meleset jauh sekali. Bukan dua atau tiga kali lipatnya, melainkan empat kali lipat dari waktu tempuh sepeda motor.

Sepanjang jalan, jumlah turunannya bisa dihitung dengan jari. Sisanya adalah tanjakkan yang tiada henti. Namanya juga sepeda amatir, apa salahnya jika berhenti ditengah perjalanan dan beristirahat sejenak. Namanya juga sepeda amatir, nggak hina-hina amat kalau ditanjakkan turun dan ngedorong sepedanya, hahaha. Yah namanya juga sepeda amatir, senang banget klo nemu turunan yang tak seberapa panjangnya, merasakan hembusan angin yang sedikit menyejukkan.

Entah berapa kali saya beristirahat, dan entah berapa tanjakkan yang memaksa saya harus mendorong sepeda. Namun, setiap kali saya didera rasa lelah tidak terbersit sebuah pikiran yang membuat saya urung untuk melanjutkan perjalanan. Keteguhan hati dan semangat sepeda amatir membuat saya lebih menikmati perjalanan ini ketimbang mengerutu karena lelah.

Banyak hal yang bisa saya temukan selama perjalanan, dari gadis-gadis desa yang terkagum-kagum (mustahil), sopir mobil yang tiba-tiba berhenti sekedar untuk bergetar-getar (pipis maksudnya), tukang buah alpukat di sisi jalan yang bisa saja saya colong buahnya sewaktu dia terkantuk-kantuk, suasana dingin yang menyergap di ketinggian 1000 mdpl, anak-anak kecil yang bermain dengan sepeda hasil modifikasi rangka dan jok bambu, hingga akhirnya nemu Alfamart. Hore, sampai euy!

Pukul limabelas poho menit. Sambutan hangat saudara-saudara di Pangalengan menutup sementara kayuhan sepeda menapaki jalanan aspal di hari selasa. Waktunya selonjoran hahahaha…

konvensional style.

ini adalah cara menggunakan masker yang baik dan benar. masker menutupi area hidung dan mulut yang rentan terhadap terjangan asap kotor. disarankan bagi para pesepeda yang bersepeda di lingkungan padat kendaraan.

hareeng style.

cara menggunakan masker ini lebih dikhususkan bagi para pesepeda yang sedang dalam kondisi demam dan panas. disarankan menambahkan es batu untuk mengompres.

selain untuk yang demam, cara memakai masker ini juga berlaku bagi pesepeda yang sedikit mengalami gangguan fungsi otak. pemakaian yang tepat dapat menghindari polusi yang bisa masuk ke pori-pori otak.

emak-emak style.

masker  giwang. cocok sekali bagi para pesepeda yang ingin kelihatan gaya tapi tidak punya anting. akan lebih chic jika masker digantungkan di kiri dan kanan telinga. terlihat indah pada saat terkena hembusan angin sembari bersepeda.

anti jigong style.

sangat disarankan bagi para pesepeda yang mempunyai masalah dengan bau mulutnya sendiri. udara segar mungkin tidak terasa istimewa bila tercampur oleh bau-bau kurang mengenakkan, apalagi jika sebelumnya menghabiskan satu bakul jengkol.

lebih bagus jika masker ditambahkan aroma terapi atau kamper.

hook style.

gaya kapten hook. cocok untuk pesepeda preman. menambah penampilan gahar, segan serta ditakuti. yang bertampang omes harap menghindari gaya tersebut, karena dapat menimbulkan persepsi bahwa anda pesepeda yang doyan ngintip terus sampai bintitan.

ngutang style.

cocok sekali untuk para pesepeda yang sedang ditagih-tagih hutang. cara memakai masker ini akan menyamarkan penampilan anda sehingga tidak diketahui.

selain itu cocok pula untuk pesepeda yang berprofesi sebagai selebritis, teroris, koruptor, bahkan tukang las. cara penggunaan masker ini akan meloloskan anda dari kejaran infotainment, polisi, kuli tinta dan juga tukang jamu.

pesek style.

jika anda kurang PD dengan ukuran panjang hidung, saya sarankan anda menggunakan style ini. selain itu jika anda merasa terganggu dengan bulu hidung yang panjang gaya ini dapat melindungi bulu hidung anda dari terpaan angin yang berhembus.

hari penuh tekanan!!

Kedatangan kami disambut oleh cuaca mendung yang merundung langit kota Padalarang. Pertanda yang kurang mengenakan. Dan lagi kami telat satu jam dari perkiraan waktu yang seharusnya.

Jam menunjukkan pukul tiga sore, dan itu artinya kami hanya punya dua jam waktu potensial untuk nge-briefing ulang semua kakak-kakak pendamping sebelum science night camp benar-benar dimulai. Briefing ulang belum kelar, kejadian tak terduga sudah datang. Miss H meminta perubahan jadwal dan mengharuskan kami untuk memulai kegiatan setengah jam lebih awal.

Tidak ada lagi waktu untuk bersantai-santai, kami harus bergerak cepat. Semua bermain dengan waktu. Rasa lapar pun harus dikesampingkan.

opening

Sedikit menyedihkan. Prolog tentang kegiatan kurang tersampaikan secara menyeluruh. Ketidakkondusifan serta waktu yang mepet-mepet mengubah alur rencana yang sudah disiapkan.

Mudah-mudahan saja para kakak-kakak pendamping bisa menyampaikan kembali alur cerita science night camp ke adik-adiknya sehingga esensi dari kegiatan ini bisa lebih bermakna.

treasure hunt

Telat tiga puluh menit. Sebuah angka yang wajar karena tidak mudah untuk mengkondisikan adik-adik agar siap memulai kegiatan. Ada saja sedikit hambatan yang memaksa si kakak bekerja ekstra keras. Saya sendiri disibukkan dengan mempersiapkan logistik tiap pos. Semuanya memerankan tugasnya masing-masing. Menjalankan setiap detail acara sesuai dengan waktu yang seharusnya.

Ada enam pos yang harus diikuti oleh semua kelompok. Setelah beres di satu pos, tiap kelompok akan mendapatkan sebuah potongan peta yang nantinya akan menunjukkan sebuah peta rahasia tentang “benda berharga” untuk menyelamatkan bumi.

Hujan tidak semakin lebat, tapi rintik air terus turun membasahi lantai bumi. Udara dingin mulai menusuk. Suasana yang cukup menyenangkan untuk tidur berselimut tebal. Kantuk dan lelah mulai hinggap dan bersemayam. Adik-adik mulai mengeluh.

Saya baru sadar bahwa 83,33% kegiatan Treasure Hunt adalah materi bermuatan science, sedangkan sisanya adalah permainan. Tamparan keras mendarat di pikiran saya. Kami terlalu memaksakan muatan science tanpa mempertimbangkan kondisi fisik dan mental si adik-adik. Terutama malam hari.

Mau nggak mau saya harus menghentikan petualangan malam yang tinggal menyisakan 2 pos lagi. Selain itu pula tim api unggun sudah sangat mendesak agar adik-adiknya segera dialihkan menuju ke sesi berikutnya sebelum rasa lelah dan kantuk mereka semakin menjadi-jadi.

bakar roti uyek-uyek

Cukup disayangkan, hujan tidak berhenti. Dan acara api unggunnya pun ditiadakan atau lebih tepatnya dipending hingga cuaca cerah. Tapi tidak usah khawatir, karena masih ada acara seru lainnya yaitu bakar roti uyek-uyek. Maklum saja rotinya handmade dadakan dan di uyek-uyek begitu saja dengan tangan.

Setiap kelompok duduk di pemanggang rotinya masing-masing. Tiap-tiap kelompok hanya mendapatkan jatah satu kepal adonan roti. Kurang sih, apalagi klo jumlah anggota kelompoknya banyak. Karena jatahnya cuman dapat dikit, kita namakan saja acara malam ini adalah “membakar roti uyek-uyek unyil“. Lumayanlah, apalagi disajikan dengan selai aneka rasa.

Waktu menunjukkan pukul 22.00, saatnya istirahat.

api unggun

Tiga dini hari, cuaca cerah sedikit berawan. Request para guru tentang api unggun sepertinya bisa terlaksana. Dan saya serta beberapa rekan yang lain baru tidur 10 menit.

Sebelum kegiatan api unggun dimulai, terlebih dahulu penjaga bumi diharuskan shalat tahajud berjamaah. Barulah kemudian seluruh peserta digiring menuju lokasi. Sempat terjadi penolakan dari pihak sekolah mengenai lokasi api unggun yang tadinya berlokasi di lapangan pacuan kuda (lapangan lari). Alasannya sih banyak ular. Tidak mau banyak berdebat, kami mengiyakan saja lokasi baru yang disarankan oleh pihak sekolah yaitu lapangan upacara.

Acara api unggun dimulai dengan kobaran api membara. Wajah-wajah kantuk masih menghiasi penjaga bumi. Bahkan ice breaking pun sepertinya kurang mempan untuk memompa semangat pagi mereka semua. Mungkin pikiran mereka masih di antara dua peraduan bantal dan guling.

Perhatian mereka pun terpancing saat balon api yang berisi harapan dan cita-cita mereka akan diterbangkan. Sungguh pemandangan yang menakjubkan melihat balon api terbang tinggi di keheningan pagi lalu hilang ditelan kegelapan.

hiking

Cerita masih belum usai. Pukul enam pagi harus bersiap-siap kembali. Sedikit lumayan fresh karena saya ketiduran satu jam + energi nasi goreng seharga 3 koin.

Pagi ini kami akan keluar dari habitat sekolah. Keluar dari tembok beku.

Jalur hiking yang dituju masih sekitaran lingkungan terdekat sekolah. Pada jalur hiking akan dibagi menjadi tiga pos utama dan satu pos pertempuran. Misi tiap kelompok adalah mengumpulkan senjata serta amunisi untuk berperang melawan para pemboros air di tiga pos utama. Di pos pertempuran, seluruh penjaga bumi harus mengalahkan pemboros air serta merebut potongan peta terakhir yang menunjukkan lokasi “benda berharga”.

Peperangan dimulai. Para penjaga bumi yang bersenjatakan pistol air harus melawan para pemboros air. Penjaga bumi harus mempertahankan bendera yang mereka miliki, jangan sampai rusak atau direbut oleh para pemboros air.

Peperangan berakhir dan dimenangkan oleh para penjaga bumi. Mereka berhasil menyelamatkan bumi dari pemboros air. Dan kini mereka mendapatkan potongan peta terakhir yang menunjukkan lokasi “benda berharga”.

closing

Semua penjaga bumi kembali ke sekolah dan mencari “benda berharga” yang ditunjukkan dalam peta rahasia. “Benda berharga” yang mereka temukan mempunyai peranan penting dalam menjaga air yang ada di bumi. Penjaga bumi harus merawat “benda berharga” tersebut hingga ia tumbuh besar dan menjadi kuat.

last session

Cape, tunduh, ngantuk, lapar tapi puas….

Rangkaian acaranya telah beres. Tidur satu jam kayaknya cukup untuk memulihkan stamina yang hilang.

Empat hari menjelang acara. Kesibukan semakin menjadi jadi. Dari mulai mempatenkan draft acara yang selalu diubah-ubah oleh pihak sekolah, belanja perlengkapan, hingga tertipu 100.000 demi lima buah pemanggang arang oleh si kakek tua yang rada-rada budeg.

Kesibukan science night camp pun tercampur aduk dengan persiapan pernikahan rekan kami. Sebenarnya tidak banyak dari panitia science night camp yang ikut terlibat dalam acara pernikahan tersebut.  Namun kondisi yang terlihat seakan terpecah menjadi dua bagian yang sama besar untuk sebuah kegiatan pada hari yang tepat bersamaan.

Benang merah semakin berkembang dengan baik. Tinggal persiapan prikintil-prikintilnya saja. Barang-barang yang dibutuhkan untuk Treasure Hunt pun saya cicil sedikit-sedikit hingga akhirnya memenuhi seluruh isi backpack 100 liter.

Inisiatif tinggi dibutuhkan pada saat hari-hari penuh tekanan berlangsung. Tapi sebuah instruksi juga dibutuhkan agar inisiatif tinggi nya tidak melenceng keluar dari jalur yang sudah ditentukan.

Dua hari menjelang acara, briefing terakhir. Draft acara sudah paten, materi Tresure Hunt sudah paten, api unggun sudah paten, hiking sudah paten, acara penutup sudah paten. Hampir 90% keseluruhan acara sudah paten, tapi kok secara pribadi saya belum sepenuhnya yakin dan mengerti benar dengan alur seluruh rangkaian kegiatan. Apa saya nya yang bolot, tidak menyimak, kurang memperhatikan atau saya masih mengkhawatirkan masalah faktor X yang mungkin akan muncul.

Sebuah obrolan kecil sebelumnya sempat saya melontarkan beberapa hal yang mungkin saja terjadi pada saat kegiatan nanti dimulai. Seperti,

“apa yang harus kita lakukan apabila ada orangtua datang menjenguk anaknya?”,

“bagaimana jika nanti hujan turun pada malam hari?”,

“mungkinkah api unggun di pagi buta?”,

semua itu adalah kejadian tak terduga yang mungkin saja dapat mengganggu keberlangsungan acara yang sudah disusun sedemikian rupa.

seorang PJ

Pernyataan Mr Y sedikit menganggu pikiran saya saat saya sedang membahas acara bersama Mr S.

“Kok gue sebagai PJ nggak diajak sih?”

deng deng dong dong.

Duh, sekejap perkataan tersebut langsung masuk ke dalam hati sanubari. Ehm sori, bukan maksud saya untuk mengindahkan posisi anda sebagai PJ. Justru saya sendiri bingung, sebenarnya PJ itu tugasnya ngapain ya? Dan lagi pula kenapa musti ada dua PJ? Siapa pemegang keputusan tertingginya, anda atau beliau? Atau justru saya, yang selama ini justru banyak duduk diam dan mendengarkan konsep benang merah mengalir dan berkembang.

Maaf jika rasa inisiatif saya lebih tinggi ketimbang seorang PJ yang memegang jabatannya dari awal kegiatan. Maaf jika saya harus menyerobot porsi kerja anda yang sedikit terbengkalai hilang arah. Maaf jika pada akhirnya saya justru mengurangi jatah penerimaan yang mungkin seharusnya anda terima lebih besar. Tidak ada maksud-maksud negatif untuk menyingkirkan peranan anda dalam tim ini. Justru anda dan dunia kecil anda lah yang membuat anda terasingkan.

Sekali lagi saya minta maaf atas inisiatif tinggi saya yang kadang menenggelamkan saya dalam keasyikan bekerja.

Sehari sebelum pemberangkatan. Sebuah instruksi kecil terkirim melalui sms di tengah keriweuhan menyiapkan tetek bengek Treasure Hunt. Tidak ada keluhan untuk instruksi kecil ini, karena baik instruksi maupun tetek bengek berada dalam satu berkas yang sama yaitu komputer. Tapi kenapa musti H-1?

Padahal kemarin malam saya tidak keberatan untuk mengerjakannya. Dan pada akhirnya semua dikerjakan dengan rasa terburu-buru dikejar waktu.

last session

Sedikit tersia-siakan. Hasil karya yang saya buat dengan sepenuh hati pada akhirnya tidak terpakai. Tidak terpakai. Teu ka anggo. Unused. Neuf. Sudahlah tak usah disesali, mungkin bukan nasibnya untuk di publish ke khalayak umum.

Saya punya waktu, punya tenaga, punya sumber daya. Dan saya mencoba untuk memaksimalkan ketiga potensi tersebut ke arah yang lebih baik.

Seminggu sudah acara “survei bersepeda ke kota baru parahyangan padalarang pada hari minggu” berlalu. Kini kami semua harus lebih fokus ke rencana acara yang tinggal dua minggu lagi.

Sebenarnya agak kurang sreg nih dengan ketidakjelasan posisi dalam acara ini. Apakah sebagai pendamping kelompok seperti kegiatan-kegiatan dahulu, atau masuk dalam bagian acara, atau sebagai kuli barang alias logistik, atau sebagai tim hore yang meramaikan suasana rapat koordinasi.

Pada akhirnya saya di posisikan untuk membantu Mr S dan Mr Y yang dalam kegiatan ini bertugas untuk mengembangkan ide di sesi Tresure Hunt. Mungkin yang lagi baca nih tulisan pada bingung, sebenernya si Agung tuh mau bikin acara apaan sih. Oke baiklah, akan saya jelaskan sedikit saja. Kenapa saya hanya menjelaskan sedikit saja, karena saya juga hanya baru ngeh sedikit.

Jadi, teman-teman dari komunitas kedapatan gawean dari Sekolah franchise Singapura yang berlokasi di kota Baru Parahyangan. Kegiatan ini punya judul “Science Night Camp”, sesuai dengan namanya di acara ini kami dan para peserta (adik-adik siswa SD tersebut) akan berkemah sambil praktek-praktek ilmu pengetahuan alam gitu deh. Namun ada sedikit hambatan-hambatan dari pihak sekolah yang akhirnya science night camp ini harus diadakan di dalam lingkungan sekolah. Istilahnya sih tetap kemah alias kemping di rumah.

Agar kemah ini berkesan seru, maka semua peserta akan bermain peran sebagai para penjaga bumi. Permainan dimulai dengan misi-misi yang harus mereka jalani hingga akhirnya mereka bisa bertarung untuk mengalahkan para pemboros air.

Kegiatan ini terbagi menjadi tiga segmen yaitu, Treasure Hunt, Api unggun, dan terakhir Hiking. Nah berhubung baru seminggu lalu surveinya dan draft rancangan acaranya baru disetujui oleh pihak sekolah, maka tugas untuk minggu ini adalah mengembangkan ide ceritanya sehingga dari ketiga segmen tersebut akan terkait satu sama lain sehingga terjalin sebuah cerita yang berkesinambungan. Intinya mah benang merah lah.

Masuk ke benang merah agak tersendat-sendat nih. Harap maklum aja, para panitianya terdiri dari orang-orang yang berbeda latar belakang akademisi sehingga terkadang sulit untuk duduk bareng membahas alur kegiatannya. Karena kondisi yang demikian, maka mau nggak mau saya sedikit demi sedikit menggeser porsi peranan PJ yang sejatinya adalah Mr S dan Mr Y. Tidak ada maksud untuk menyepelekan peranan mereka, namun karena kesibukan mereka yang entah mau gimana lagi akhirnya memanggil jiwa saya untuk berinisiatif terlebih dahulu. Lagipula saya bingung, kenapa musti ada dua PJ?

Waktu semakin mendekat, persiapan dan kesiapan semakin mendesak, orang-orang tetap dengan kesibukannya masing-masing. Dan saya tetap disibukkan dengan kesedihannya sendiri. Tidak ada yang perlu dikeluhkesahkan selama yang direncanakan masih dapat terkendali dan tertangani. Semuanya masih dalam kondisi baik-baik saja (versi saya).

Seminggu setelah mengembangkan benang merah para kakak-kakak pendamping dipertemukan satu sama lain. Pertemuan yang pertama ini bersamaan dengan orientasi lokasi kegiatan serta briefing awal seluruh rangkaian kegiatan science night camp. Dan sehari sebelum pertemuan para kakak pendamping, saya bersama si “Yelli si sepeda kuning” terpaksa berkeliling kota Bandung mencari-cari dan mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk uji coba materi yang akan dibawakan di lokasi kegiatan.

Tubagus Ismail – Cikutra – Supratman – Pasteur – Pajajaran – Riau – dan berakhir di Muararajeun. Hari yang penuh dengan semangat!!

Minggu pagi di jalan tol padalarang. Tragedi kembali datang. Kendaraan yang kami tumpangi berhenti tepat pada tiang penunjuk “pintu keluar 0″. Sial! Padahal tinggal beberapa meter lagi. Segala upaya kami lakukan agar si VW Combi bisa menyala kembali. Mulai dari dorong hingga nongkrong-nongkrong. Tapi apa daya, dia tetap diam membisu diantara deru mesin lain yang melaju kencang.

Keputusan pahit pun harus kami ambil. Kami akan pergi berjalan kaki menelusuri perkampungan sekitar jalan tol. Dan kegiatan ini mungkin lebih tepatnya kami namakan “Tersesat di Padalarang”. Tanpa arah, satu tujuan, hanya modal keramahan serta belas kasihan untuk bertanya kepada warga sekitar bagaimana agar bisa keluar dari sini dan menuju Kota Baru Parahyangan.

Satu jam kami habiskan berjalan kaki. Satu kilometer jarak yang tersisa. Satu kendaraan datang menjemput kami, menyianyiakan kalori yang kami bakar hanya untuk menepati waktu. Perjalanan panjang “Tersesat di Padalarang” berakhir di dalam VW Combi yang pada awalnya (justru) membuang kami di tengah jalan.

last session

Jalur “tersesatnya” lebih menyenangkan dibandingkan jalur “survei sepeda”. Banyak view dan trek yang lebih tepatnya menarik jika sambil bersepeda di pagi hari.