Bite Me!

Minggu terakhir libur lebaran adalah bencana bagi saya. Tidak pernah terbayangkan bahwa intensitas pengunjung ke tempat wisata justru memuncak di hari hari terakhir. Antisipasi sebenarnya sudah dilakukan dengan baik, salah satu asisten saya bertugas untuk memantau dan memberikan pengarahan bagi para wisatawan mengenai tentang hal hal yang bisa dilakukan dan dilarang di dalam kawasan rehabilitasi.

Meskipun kamu sudah bekerja dengan cukup baik, terkadang ada informasi yang tidak sepenuhnya bisa dipahami dan dijadikan alasan untuk wisatawan bertindak lebih jauh dari apa yang sudah dipaparkan. Jelas saya terkejut karena sekumpulan pendaki pemula yang seharusnya turun melalui jalur pendakian yang sudah disediakan, justru malah melintasi area yang tidak diperkenankan untuk dilewati. Lebih kagetnya lagi, justru para pendaki pemula tersebut dipandu oleh seseorang yang sudah kenal baik dengan rehabilitasi.

Saya kecewa, tentu saja. Karena pada pagi harinya saya mengatakan pada asisten saya yang melaporkan situasi para pendaki yang kemungkinan akan turun hari itu, bahwa saya percaya kepada si pemandu tidak akan melakukan hal bodoh.

Definitely I’m wrong.

Si pemandu ternyata tidak sepenuhnya seperti apa yang saya percayakan. Dia memaksakan diri untuk masuk ke dalam area yang jelas jelas berbahaya. Bukan hanya dirinya tapi juga 20 orang pendaki pemula yang terlihat kepayahan.

Saya jelas khawatir, karena situasi owa yang saya amati tengah bersiap siaga menghadang mereka. Penjelasan saya tentang segala situasi terburuk sepertinya dipandang enteng. Solusi terbaik yang saya tawarkan untuk ambil jalur alternatif yang memungkinkan untuk tidak berkonfrontasi dengan owa, buntu dengan alasan kondisi pendaki pemula yang kepayahan.

Jika memang kondisi mereka sebegitu payahnya, kenapa diarahkan ke jalur yang memang bukan jalur umum pendakian? Begitulah pertanyaan sederhana yang muncul di kepala saya.

20 orang pendaki pemula, di dominasi oleh perempuan sebanyak 17 orang, kondisi lelah, kaki terkilir, turun melalui jalur yang tidak umum digunakan pendaki, dan seorang pemandu yang sudah tahu benar tentang rehabilitasi owa tetap memaksakan diri.

Saya benar benar tak habis mengerti, apa sebenarnya yang ada di dalam pikirannya?

Jika memang ingin menghindari resiko pendakian, kenapa justru datang ke tempat yang beresiko?

I have no idea for his stubborn think!

Saya mengalah dan memberikan jalan bagi mereka, pendaki pemula yang sudah kepayahan. Saya kemudian berdiri di depan mereka semua, memberikan pengarahan terhadap situasi dan kondisi yang mereka hadapi, kemungkinan buruk yang akan mereka dapat, dan sesuatu yang tidak baik yang telah mereka picu.

Dan yang terburuk ternyata terjadi. Satu dari mereka akhirnya menjadi korban gigitan. Siapa yang pertama kali khawatir, tentu saja saya. Bukan karena saya penanggung jawab owa ataupun pekerjaan saya, melainkan karena saya pernah merasakan cedera yang diakibatkan oleh gigitan owa.

Mereka semua lalu saya instruksikan untuk bergerak cepat, segera meninggalkan teritori owa. Agresifitas owa semakin meningkat, mereka terus mengikuti barisan pendaki pemula dari satu pohon ke pohon lain. Sedikit ketidakwaspadaan akan menjadi malapetaka, termasuk saya yang sehari hari ditakacuhkan oleh owa, saya pun bisa menjadi sasaran kemarahannya.

Kami bisa lepas dari kejaran owa, namun pikiran saya masih tertuju pada si korban yang mendapatkan gigitan di kaki kirinya. Saya berusaha mencarinya di antara teman temannya yang tersenyum puas bisa melalui hadangan owa, tanpa mereka sadari bahwa rekannya justru mendapatkan gigitan.

Saya memeriksa dengan seksama bekas gigitan yang ada di sekitar betis kakinya. Dan berharap luka terburuk yang pernah saya alami tidak terjadi padanya. Kemudian mulai tampak, bekas gigitan yang mulai membiru, guratan merah bekas cakaran. Tidak ada luka sobek. Dengan tenangnya dia mengatakan tidak terasa sakit, saya jawab belum.

Saya bersyukur. Bukan karena tidak ada luka yang serius melainkan karena owa yang menyerangnya adalah owa dengan gigi taring yang tumpul. Kemungkinan terburuk jelas bisa saja terjadi jika owa yang mengigitnya memiliki fungsi taring yang kokoh, dan bila itu terjadi maka situasinya tidak akan berakhir di sini saja. Ada banyak hal yang akan diproses ke depannya, mengenai siapa yang harus bertanggung jawab.

Ini bukan sebuah kisah yang menyenangkan memang. Hanya sebuah pembelajaran untuk tidak meremehkan himbauan.

Saya bisa memahami orang bodoh, tapi tidak dengan orang bebal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s