Kukang dalam Mitos Budaya Lokal

Bicara tentang mitos biasanya selalu menjadi hal yang “konon katanya” atau sesuatu yang berasal turun temurun dalam suatu lingkup budaya. Meski begitu, banyak pula yang mempercayainya sebagai suatu alasan untuk hal hal yang tidak bisa diterima secara logis.

Biasanya mitos erat kaitannya dengan dunia gaib, dongeng, sihir, keramat bahkan takhayul. Namun ada juga mitos yang dekat dengan keseharian kita dan bertahan cukup lama -bahkan hingga saat ini-. Pun begitu dengan Kukang, primata nokturnal ini ternyata menyimpan beberapa misteri dibalik mitos mitos yang dipercayai oleh masyarakat lokal.

the javan slow loris conservation program

Di Indonesia, kukang hanya tersebar di tiga pulau besar yaitu Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Ketiga kukang yang berbeda asal dan berbeda jenis tersebut ternyata memiliki kesamaan dari sudut mitos budaya lokal masyarakatnya. Saat ini memang tidak banyak yang tahu bahwa satwa rentan ini ternyata menyimpan mitos yang masih dipercayai oleh para tetua.

Secara mitos, kukang dipercayai memiliki kekuatan yang berhubungan dengan hal hal gaib. Di Sumatera misalnya, dari sebuah cerpen karya Boyke Abdillah Bakar (Republika, 12 Februari 2012) yang berjudul Kukang, saya mendapatkan sebuah gambaran bahwa kukang bisa digunakan sebagai media untuk guna guna.

Dalam dunia perdukunan dan ilmu hitam, tulang kukang digunakan sebagai penangkal ilmu jahat. Walau begitu, tulang kukang dapat juga dijadikan sebagai senjata untuk menjatuhkan pesaing bisnis. Goresan tulang ke tanah dipercaya memberikan hawa panas dan mengeringkan rejeki kompetitor.

Pun demikian di Kalimantan. Kukang digunakan untuk menenung (tenung: mencelakai orang dengan ilmu hitam. KBBI III) orang yang tidak kita senangi.

Di tanah Sunda, ketika saya melakukan pengamatan lapangan di daerah pelosok, keberadaan kukang menurut sesepuh kolot diyakini dapat mengakibatkan longsor bila aliran darahnya mengalir ke tanah, juga hal buruk lainnya. Bahkan dalam kehidupan berumah tangga, kukang dapat menyebabkan perceraian. Sedikit berbeda dengan versi Sumatera dimana tulang kukang yang disimpan di rumah justru akan menjaga keutuhan rumah tangga.

Sepertinya mitos lokal pada kukang lebih erat kaitannya dengan hal hal buruk atau tujuan tujuan buruk. Lalu bagaimana saat ini?

Saat ini, di tengah arus teknologi yang semakin deras ternyata masih ada yang mempercayai mitos kukang. Khususnya pada hal hal yang berkaitan dengan seksualitas. Sama seperti daging biawak, daging kukang dipercaya dapat meningkatkan vitalitas.

Berdasarkan info dari seorang kawan, saya baru tahu bahwa di Bali yang notabene bukanlah habitatnya, Kukang  justru diperjualbelikan dalam bentuk Krispi (kering). Meminum arak yang berisi Kukang Krispi dipercaya memberikan tenaga ekstra dalam urusan kelelakian. Sebagai seorang lelaki, saya merasa hanya lelaki yang bermasalah pada kelelakiannya lah yang melakukan hal tersebut.

SITE1_oces field survey

Mitos, bagi generasi masa kini mungkin hanyalah isapan jempol belaka. Hal ini bisa terlihat dari semakin merebaknya aktivitas perburuan dan perdagangan kukang sebagai peliharaan. Padahal, tanpa harus ditakuti oleh kekuatan mistis pada mitos, menyimpan kukang sebagai peliharaan ternyata memang bisa mendatangkan bala/petaka. Kukang menyimpan sejumlah potensi dari sudut penyakit untuk ditularkan kepada pemeliharanya. Mengenai potensi penyakit pada kukang bisa dibaca di sini.

Dari segi keamanannya pun kukang tidak sepenuhnya satwa yang jinak. Satwa imut imut ini ternyata satu satunya primata yang memiliki racun melalui gigitannya. Meskipun dia lamban, tapi urusan gigit mengigit dia cukup tangkas. Racun pada kukang bisa berakibat serius bahkan fatal bagi manusia yang peka terhadap alergi.

Secara hukum, Kukang termasuk ke dalam satwa yang dilindungi. Memelihara ataupun menyimpan kukang baik hidup maupun mati adalah bentuk pelanggaran terhadap UU No. 5 Tahun 1990. Tindak pidana terhadap pelaku tentu saja ada, yaitu denda sebesar 100 juta rupiah dan juga kurungan yang tadinya maks 5 tahun kini telah direvisi menjadi minimal 3 tahun.

Mitos kukang mungkin sudah usang, tapi petaka kukang masih ada hingga sekarang. So, are you willing to get risk from them?