Exploring Heart of Borneo

*Sebuah tulisan yang tertunda berbulan-bulan

heart of borneo

Tiga bulan berada di dalam hutan rimba adalah pengalaman luar biasa dalam hidup saya. Untuk pertamakalinya saya bisa merasakan bagaimana serunya berpetualang di hutan rimba, mengamati satwa-satwa, dan menikmati alam yang lestari. Dan semua itu terbalut menjadi satu dalam ekspedisi Murung Raya-Heart of Borneo Project.

Tidak mudah memang bagi kami untuk mencapai ke lokasi ekspedisi yang tepat berada di jantung Borneo. Perjalanan darat dan air kami tempuh. Entah berapa banyak sungai yang kami lalui, entah berapa banyak desa yang kami singgahi. Entah berapa kali muatan logistik yang beratnya mencapai 3 ton harus kami turun-naikan. Dan entah berapa kali kendala teknis menghadang perjalanan kami. Lanjutkan membaca “Exploring Heart of Borneo”

Terima Kasih Heart of Borneo Project

90 hari bersama teman-teman dari Heart of Borneo Project benar-benar sebuah pengalaman yang berharga sepanjang hidup saya.

Good, Happy, Bad, and Sad things. Semuanya ada bercampur aduk. Maka dari itu, selayaknya manusia yang mensyukuri hidup saya ingin mengucapkan beberapa terima kasih kepada beberapa pihak terkait yang terlibat secara langsug maupun tidak langsung dalam Ekspedisi ini.

So, here they areā€¦

Sila Pertama Pancasila, Tuhan Maha Esa. Karena saya masih berharap maka oleh karena itu saya masih mengakui-Nya. Terima kasih atas segala kesempatan keselamatan yang Kau berikan.

Keluarga di rumah(nya) masing-masing. Terima kasih atas pengertian, doa, dan kepercayaannya. Maaf jika saya tumbuh tidak sesuai dengan harapan orangtua pada umumnya. Inilah saya, melangkah mengikuti kata hati. Semoga saya tidak melangkah ke jalan yang salah.

Heart of Borneo Project Crew. Tim van Berkel, Martin Holland, Lara Rogers, Ian Blesley, James Harwood, Daniel Sargison, Russel Goodchild, Holli Killburn, Dale Mortiboys. Terima kasih atas kesempatan dan pengalamannya. Sebagian dari kalian GILA, sebagian dari kalian LUAR BIASA, meskipun begitu kalian semua NICE.

Yus Noor. Saya tidak tahu bagaimana rupanya. Namun, berkat dia lah saya bisa terpilih menjadi salah satu kandidat anggota ekspedisi. Terima kasih banyak, semoga saya bisa bertemu dengan anda dan mengucapkan terima kasih secara langsung.

Misbahul Munir. Partner selama ekspedisi. Bagaimana kita bisa terkoneksi, this is so weird. Kita berasal dari background yang kurang lebih mirip. Senang bisa mengenalmu sebagai rekan selama di lapangan. Semoga pengalaman kita bisa ditularkan dan dikembangkan.

People Behind the Expedition. Other foreign, Jan, Carsten, Diana, Rupert. Local guide, Pak Aspor, Parman, Bobo, Muji, Lundon, Wik. Chef, Dewi & Wi. Tumbang Touhan, Pak Ajung, Keluarga Pak Yudi, Pak Kepala Sekolah. Tumbang Naan, Bule, Pak Nyunting, Pak Wawan, Pak Puji. Camp B, Keluarga Ibu Normi dan Pak Karya. Bis Air, Pak Atak. Travel, Oyong, Doa Mama. Penginapan, Hotel Lanting Puruk Cahu, Hotel Panarung, Hotel Dandang Tinggang, Diamond Homestay, Samudra Hotel Banjarmasin. Sponsor lokal Unpar, Pembantu Rektor I Kumpiady, dosen Pak Agus, mahasiswi Cendikia. Birokrasi, Polres Palangkaraya, Pihak Imigrasi.  Warnet V-net. Flight, Batavia Air. Sriwijaya Air.

Special thanks, Mamang Ayut atas informasi facebook. Melissa atas saran dan bantuannya untuk membuat CV, pelajaran berenang, speak english. Biologi Unpad atas gelar sarjana yang sudah diraih. Warga Sancang atas dukungannya. Teman-teman berkegiatan yang banyak sekali. Kabogoh yang senantiasa menanti dan menulis surat.

Terima kasih untuk semuanya. Tanpa kalian semua belum tentu kehadiran saya di ekspedisi ini bisa terlaksana.

thanks bro

3 Cinta 3 Cerita Bersemi di Hutan Rimba

Yang namanya cinta emang ga pernah ada habisnya. Begitu juga dengan kisah cinta yang ada selama di Ekspedisi ini. Sedikit berbagi cerita aja ah sama cinta-cinta yang terjadi di sini. Here’s de story..

 

Cinta keluarga dari seorang Aspor.

Pak Aspor sebagai Kepala Pemandu ekspedisi ini baru saja merayakan Ulang tahunnya yang ke 50 minggu lalu. Di ulang tahunnya tersebut kami membuat kejutan untuknya. Kami membangunkannya disela-sela tidur lelap, setelah dia terbangun, saya dan teman-teman bule menyanyikan lagu selamat Ulang tahun dengan sebuah kue dadakan ala kadarnya termasuk lilin segede gaban.

Dia yang setengah ngantuk senyum-senyum malu sambil beberapa kali mengucapkan terima kasih banyak.

Usai ceremony ulang tahun tersebut, beliau melanjutkan kembali ritual tidur lelapnya. Tapi dia tidak langsung tidur, tiba-tiba dia malah bercerita kalau dia teringat sama keluarga di rumah. Dia kangen sama kelima anaknya yang masih kecil berikut pula sang istri tercinta. Di balik kelambunya beliau terus saja bercerita tentang anak-anaknya, tentang bagaimana perangai mereka berlima, tentang kedua anak gadisnya yang berkemauan keras dan tomboy, tentang anak-anak lelakinya yang pendiam dan pemalu, tentang istrinya yang begitu perhatian.

Setiap kata yang mengalir darinya menunjukkan betapa besar cintanya kepada keluarga. Terasa sekali kerinduan darinya untuk bisa berkumpul dengan keluarganya mensyukuri usia barunya. Beliau benar-benar rindu atau mengigau?

 

Cinta lokasi dari Wood and Bond.

Cinta itu datangnya emang misterius. Wood and Bond adalah dua orang bule yang berasal dari Inggris. Dan mereka berdua terlibat hubungan asmara yang membara selama di hutan rimba. Siapa sangka pertemuan mereka di Ekspedisi ini ibarat bunga-bunga cinta yang bermekaran.

Semenjak hari pertama menginjakkan kaki di hutan rimba kalimantan, hubungan kedekatan mereka berdua semakin terlihat jelas. Dari yang awalnya hanya sebatas rekan kerja lama-kelamaan jadi anak anjing dan majikannya, lengket betul.

Dimana ada Wood, di sana ada Bond. Dimana ada Bond, pasti dia ngejar-ngejar Wood. Persis kayak anak anjing, ngekor mulu.

Cinta yang indah pada awalnya ini justru malah membuat risih orang disekitarnya. Sirik, ga juga sih. Hanya saja bunga-bunga asmara ini malah menghambat kinerja yang seharusnya. Dunia terasa indah, serasa milik berdua. Yang lain jadi cecunguk di sudut kamar.

Ga ada yang melarang kisah-kasih mereka. Itu hak mereka. Karena cinta bukan untuk di-monopoli. Semoga saja cinta mereka bukan sekedar rasa sepi di hutan rimba.

 

Cinta istri muda.

Rong-Rong, pemuda berumur 25 tahun baru saja menikah 6 bulan lalu. Masih anget memang. Yang bikin anget lagi istrinya baru berumur 17 tahun.

Rong-Rong yang bekerja sebagai pemandu lokal ini bawaannya uring-uringan. Setiap kali ada kesempatan dimana perahu akan pergi ke desa, dia dengan sejuta alasannya selalu meminta ijin untuk pulang.

Dan kemarin adalah kepulangan yang ketiga kalinya semenjak bergabung sebagai pemandu. Dengan alasan hendak menyekolahkan keponakannya yang hendak masuk SMP. Bulan januari emangnya tahun ajaran baru ya?

Pak Aspor yang tahu intrik-intrik setiap pemandu, mengatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari istri mudanya. Dia selalu kangen, ga betahan, ga bisa jauh dari istri, pikirannya gituan mulu. Masa sih?

Sekembalinya dia dari desa barulah terlihat jelas, bahwa dia terkena penyakit Malarindu. Bibirnya ngoceh bercerita tentang istrinya. Penyakit gini obatnya apa ya?

Owa Owa Owa dan Owa Lagi (Pencarian Yang Masih Dipertanyakan)

Jauh-jauh saya terbang ke Kalimantan, eh malah berurusan lagi sama yang namanya Owa (Hylobates sp.). Belum juga beres sama pengamatan Owa Jawa (Hylobates moloch) yang di Leuweung Sancang, sekarang malah disibukkan lagi dengan pengamatan Owa yang ada di Kalimantan. Mungkin udah jodoh saya bertemu, berkolaborasi dan berkoordinasi sama peneliti yang suka Primata.

Sedikit cerita tentang Owa yang ada di lokasi penelitian yaitu Ungko. Pada awalnya Owa jenis ini termasuk ke dalam anak ras dari jenis Hylobates agilis albibarbis. Namun sekarang, berdasarkan hasil penelitian entah -saya belum kenal-, jenis Owa ini dimasukkan ke dalam jenis tersendiri yaitu Hylobates albibarbis.

Lucunya, di buku panduan mammalia yang saya pegang, yaitu buku panduan Mammalia di Kalimantan keluaran dari LIPI, jenis Owa Ungko ini malah tidak ada gambarnya. Buku hanya menjelaskan bahwa owa tersebut mirip dengan Owa Kalawat (Hylobates muellerri). Disebut mirip karena mereka memang Owa, tapi secara fisik dan pola suara jelas beda.

Dari hasil pengamatan selama di jalur transek pun saya masih sedikit bingung dan penasaran, karena Owa Ungko yang saya temui beberapa ada yang mirip dengan apa yang buku panduan deskripsikan yaitu berbulu warna coklat tua. Sedangkan bentuk lain yang saya temui berwarna lebih gelap (kelabu). Setelah saya diskusikan bersama peneliti utama, dia menjawabnya tak usah dihiraukan karena H. albibarbis memang memiliki variasi warna. Heum… jadi makin penasaran.

Yang lebih bikin penasaran lagi adalah tujuan utama dari pengamatan Owa ini antara lain mencari tahu jenis Owa yang sampai saat masih dipertanyakan keberadaannya.

Lagi-lagi menurut buku panduan, disitu tertulis bahwa pernah ada laporan mengenai persilangan dari kedua jenis Owa Kalimantan yaitu H. muellerri dan H. a. albibarbis yang (ket: H adalah Hylobates, bukan Haji) terjadi di Hulu Sungai Barito sampai bagian utara Muara Joloi.

Persilangan tersebut juga malah diperkuat dengan cerita nenek moyang yang diungkapkan oleh Bapak Aspor. Beliau bercerita bahwa dahulu kala, Owa-owa Kalimantan berasal dari satu tempat yaitu dari daerah barat. Tiba-tiba, beberapa dari Owa tersebut berpindah ke arah timur dengan menggunakan perahu. Malangnya, perahu yang mereka gunakan mengalami kebocoran sehingga hampir karam. Untung saja Owa-owa yang di perahu tersebut selamat. Namun akibat kejadian tersebut, Owa yang pindah memiliki bunyi yang hampir sama dengan perahu yang hampir karam tadi, yaitu suara kemasukan air, bluk…bluk….bluk…

Nah kebetulan, jenis Owa yang diduga persilangan tersebut memiliki bunyi yang sama seperti apa yang diungkapkan oleh Pak Aspor yaitu bluk.. bluk… bluk. Dan itu menjadi fokus utama pengamatan Owa saat ini.

Mudah-mudahan saja kami bisa mendengarkan suara nyanyian bluk… bluk… bluk…

Mengejar Owa Di Pagi Buta (Pengamatan Triangulasi Owa)

~Catutan hari ke 29~

Dua hari panas dibalas hujan geledek semalam.

Saking derasnya, sampai-sampai rencana untuk pengamatan triangulasi Owa waktu subuh terpaksa dibatalkan karena cuaca masih menyisakan sedikit rintik hujan. Untuk pengamatan triangulasi Owa, kita emang ga tanggung-tanggung berangkat di pagi buta. Jam 4 subuh kami berangkat menuju Listening Site.

Menuju lokasi Listening Site pun harus kamu tempuh dengan menggunakan perahu sekitar 15 menit perjalanan. Itu juga waktu tempuh pada siang hari. Menjalankan perahu di malam atau kegelapan butuh kewaspadaan cukup tinggi. Ga mudah, karena Sungai Mohot (nama sungai tempat lokasi penelitian) dipenuhi dengan batang, ranting pepohonan besar yang hanyut dan tersangkut. Belum lagi riam-riam (batu cadas) yang lebih membahayakan jika tertabrak perahu.

Jadi, saat menjalankan perahu dalam kegelapan dibutuhkan waktu 2 kali lipat dari waktu normal di siang hari.

Pengamatan triangulasi sebenarnya ga terlalu cape-cape amat. Setidaknya lebih ringan dibandingkan pengamatan di jalur transek sepanjang 2 km. Kami hanya tinggal duduk, mendengarkan suara-suara Owa yang bernyanyi menyambut hari, serta mencatat sudut asal suara berasal. Nyantai sih, tapi klo semua Owa sudah pada bunyi jadinya malah ribet. Buku catatan, jam tangan, pensil, kompas, semuanya jadi berantakan.

Berhubung pengamatan triangulasi untuk hari ini dibatalkan, entah mau ngapain :p. Mungkin harus cuci celana dalam, biar ga hujan deras lagi.