Refleksi Satu Tahun Gempa

Hujan, masih sama seperti tahun kemarin. Gambung Ciwidey, masih juga diguyur hujan seperti sebelum-sebelumnya. Tapi sekarang lumayan lebih baik. Apalagi rumah-rumah yang tepat september tahun lalu hancur digoyang oleh gempa 7,3 skala ritcher.

Sudah terlihat lebih baik, dan masyarakatnya pun sudah kembali mengeliat. Mungkin sudah lupa, atau mencoba untuk melupakan. Bahkan senyum-senyum anak-anak kecil yang rentan trauma itu terlihat lebih ceria dibandingkan setahun lalu.

Hari itu, Sigit dan beberapa teman yang tergabung di Rumah Pintar Gambung-Papakmanggu mengontak teman-teman lain yang dulu pernah ikut terjun langsung sebagai relawan anak gempa. Dalam rangka mengenang kembali peristiwa yang tidak untuk ditangisi dan juga silaturahmi, akhirnya kami semua berkumpul di basecamp yang dulu kami gunakan sebagai posko.

Kehadiran para eks relawan kemudian disuguhi oleh tayangan video dan slide show foto yang dulu pernah diambil. Bukan untuk nangis-nangisan lagi, tapi lebih ke kembali mengingat bahwa pada masa itu kami semua pernah menjadi bagian dari orang-orang yang memiliki rasa peduli tinggi, rasa empati, tanpa pamrih, dan termasuk orang-orang yang beruntung karena pada akhirnya kami mendapatkan kawan dan pengalaman yang hingga saat ini masih bertahan sebagai sesuatu yang baik dan jangan pernah dilupakan. Dan kami pun tertawa terbahak-bahak, karena selalu ada kejadian lucu yang tertangkap kamera yang akan terus menjadi aib tak terlupakan.

Sungguh beruntung bagi warga Gambung. Setidaknya bila dibandingkan dengan korban gempa yang berada di lokasi lainnya. Berdasarkan berita yang ada pada koran Pikiran Rakyat (2 September), di sana ditulis bahwa masih ada desa yang hingga saat ini belum mendapatkan bantuan untuk perbaikan. Entah apa yang menjadi kendala mereka, apa karena akses jaraknya yang jauh, atau dana bantuan yang tak pernah turun karena proses birokrasi yang ribet, atau ada tangan-tangan jahil yang mencari keuntungan di atas penderitaan orang lain. Entahlah. Semoga saja Tuhan senantiasa memudahkan jalan bagi mereka yang beriman.

Untuk Gambung sendiri, rumah-rumah yang pada waktu itu kondisinya rusak berat (sudah tidak layak huni) kini sudah diperbaiki. Bukan sekedar diperbaiki saja, tapi digantikan dengan rumah yang baru. Dan rumah baru itu juga bukan rumah bambu yang dulu sempat digulirkan sebagai alternatif penganti. Tapi benar-benar rumah, rumah dengan tembok bata dilapis semen dan pasir lantai keramik. Tampak lebih baik bukan. Mungkin sudah rejekinya mereka mendapatkan itu semua.

Termasuk juga sekolah mereka yang kini masih dalam tahap renovasi. Lebih baik dan lebih aman dibandingkan sebelumnya.

Akhir kata, semoga bencana dan cobaan ini segera berakhir.

Tuhan Maha Pengasih.

1005 sembaok

Bantuan kembali datang. Kali ini dari sahabat-sahabat kami di Rumah Cemara, sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang sosial. Awalnya kami mengira bahwa bantuan yang diberikan dari RC kurang lebih sama dengan bantuan-bantuan sembaok sebelumnya.

Paling isinya ada beras, gula, mie instan, sarden, susu, sabun dan yah sekiranya barang-barang yang dibutuhkan sehari-hari gitu deh. Kenyataannya memang seperti itu, cuman kali ini ada hal yang tidak biasa yaitu jumlah yang dikirimkan ternyata diluar dari perkiraan awal.

Emang ga kira-kira, jumlah yang dikirim ternyata sebanyak 1005 paket. Bener-bener edan! Jumlah segitu langsung bikin isi rumah penuh dengan karung-karung yang menumpuk.
Ga hanya itu saja, selain jumlahnya yang empat digit tiap paketnya pun ga kira-kira beratnya. Mungkin ada sekitar 4-5 kiloan, yang isinya antara lain beras 3 kilo, 1 kaleng besar sarden, 1 kaleng susu dan 5 bungkus mie instan.

Nah ke semua paket tersebut dimasukkan ke dalam karung-karung yang isinya ada yang delapan ada yang sepuluh bahkan ada juga yang duapuluh. Bayangkan aja berapa beratnya klo ngangkut satu karung. Bongkok bongkok deh lu!
Jumlah segitu emang lebih dari jumlah yang dibutuhkan oleh RW-nya kang Nundang yang hanya 346 KK. Agak kesel juga waktu denger idenya si wakil RW yang menyarankan untuk memberikan 2 paket untuk tiap KK. Spontan saya langsung menolak secara langsung ide egoisnya tersebut. Saya pikir yang membutuhkan bantuan bukan hanya RW 19 saja. Mungkin masih banyak RW-RW lainnya yang juga membutuhkan atau bahkan sampai saat ini masih belum tersentuh bantuan.

Akhirnya, ide yang terbersit adalah membagikan sisanya untuk tiga RW terdekat yaitu RW 17, 18 dan 20.

Di seperempat malam kami disibukkan mencari data yang valid mengenai jumlah KK di tiap RW. Ternyata perangkat desa tuh ga tanggap terhadap bantuan, karena tiap ditanya data yang valid jawabanya masih kira-kira. Jadi mendingan disuruh datang aja ke posko besok.

Esok harinya, meskipun udah disuruh datang ternyata tetep aja ada yang ga datang. Umumnya mereka pada datang setelah mendengar kabar dari mulut ke mulut dari warga RW 19 yang sudah kebagian jatah sembaok. Baru deh para RT itu inisiatif datang. Hmm dasar emang dasar.

Macam-macam saja tingkah polah si RT. Ada yang sok cool, ada yang berbangga hati mengenai RW-nya, ada juga yang sok istimewa. Lebih dari itu saya sempat percaya terhadap salah satu RT yang menurut saya “jujur”.

Cerita tentang si RT jujur ini pada mulanya sungguh bisa membuat saya percaya 100% klo dia adalah orang yang amanah. Untuk pembagian sembaok ini memang saya lebih menekankan hanya untuk yang sangat membutuhkan yaitu warga yang rumahnya rusak dan juga secara ekonomi kurang. Dengan penuh percaya diri dia hanya mengajukan 24 nama dari 48 jumlah total. Sebelum terjadi sesuatu hal yang tidak mengenakkan di kemudian hari, saya sempat bertanya tentang ‘jika seandainya nanti ada warga di luar dari daftar yang ditulis menanyakan kenapa ia tidak kebagian’ apa yang akan dilakukan oleh bapak RT? Jawabannya cukup meyakinkan, yaitu berani untuk menjelaskan tanpa ragu kepada warganya.

Lain di mulut lain pula di tindakannya. Ah ternyata dia tidak seberani seperti apa yang dia ucapkan. Karena takut akan tekanan warganya sendiri akhirnya dia terpaksa membuka isi paket dan membagikannya secara merata. Damn! Yang begini nih yang tidak sesuai harapan.

Padahal, jika dia memang merasa masih kurang kenapa tidak menambahkan datanya. Justru akibat perbuatannya itu mengakibatkan spekulasi negatif bahwa dia berbuat curang. Ah sudahlah… Toh dia sendiri yang menanggung akibatnya.

Akibat ulah si RT tersebut membuat saya sedikit lebih tegas kepada perangkat-perangkat der lainnya yang datang mengambil sembaok. Saya terpaksa bertindak keras agar kejadian seperti membuka paket kembali tidak terulangi lagi.

Walhasil mereka pada manut-manut mendengar nada suara saya yang sedikit tinggi, mungkin kaget juga ternyata tampang culun gini bisa juga ngamuk hahaha. Setidaknya kejadian yang tidak diinginkan itu nggak kejadian lagi.

Sebuah catatan kecil: ternyata perangkat desa belum tanggap darurat. Terbukti dari susahnya dapat data valid mengenai jumlah warga yang menjadi korban bencana.

Perkenalkan, "Ung si juragan tomat"!

Sepertinya berita kepulangan saya hari ini sudah tersebar luas. Belum sempat beres-beres kantong, tiba-tiba datang seorang bapak sambil membawa satu dus mie instan sambil berkata “Oleh-oleh buat Kak Ung” katanya. Duh jadi ga enak. Padahal saya kan bantu-bantu disini ikhlas kok Pak. Penasaran dengan isi dus, selidik punya selidik ternyata isinya buah tomat.

Perlu diketahui, Pangalengan yang terkenal dengan susunya ternyata banyak juga perkebunan sayur dan buah. Diantaranya yaitu kentang, tomat, wortel, lobak dan kol. Kebetulan sekali, perkebunan disini sedang panen tomat besar-besaran. Mungkin sebagai balas jasa atas apa yang saya dan teman-teman telah lakukan bagi warga disini jadi mereka tak segan-segan membagi sebagian hasil panennya untuk saya (maaf saja, saat ini relawan yang tersisa hanya saya seorang).

Tidak lama setelah bapak tadi kini giliran si kecil Krisna dan kakaknya Dea membawakan kardus yang disinyalir berisi tomat lagi. Krisna yang belum sekolah ini cukup dekat dengan saya pada saat program. Dan lagi dia termasuk anak yang aktif pada saat kegiatan. Lagi-lagi mereka bilang “Oleh-oleh untuk Kak Ung”.

Dua dus tomat dan satu backpack, tidak masalah dalam perjalanan pulang nanti. I can handle that. Eh tapi kata siapa saya pulang hanya bawa barang segitu aja. Kini seorang emak-emak datang sambil tergopoh-gopoh membawa dua ember timba di kedua tangannya. “Jang, tong hilap ieu candak uih” artinya jangan lupa dibawa pulang si itu nya. Hayo apa coba? Apalagi klo bukan tomat tomat dan tentu saja tomat.

Dua ember, itu kira-kira sama dengan sepertiga karung beras. Nah loh! Sebuah backpack di punggung, dua buah kardus isi tomat di kiri dan kanan, dan terakhir (saya harap ini terakhir) sekarung tomat yang entah harus diletakkan dimana?

Namanya rejeki emang ga bisa ditolak. Tapi gimana cara bawanya? Mikir mikir mikir…

Biar sisa yang penting kebagian

Ga kerasa udah satu minggu di Pangalengan. Besok mau pulang sebentar ke rumah, trus maen ke Bandung mengunjungi tempat-tempat yang belum sempat Silaturahim.

Kepengennya sih sebelum balik barang-barang yang masih nyisa mau dibongkar muat. Terutama sisa-sisa bingkisan yang masi ada sekitar 40 bungkus lagi. Rencana yang kepikiran kemarin sih mau dibagikan langsung ke sekolah.

Berhubung data jumlah siswanya udah dapat, sisa bungkusan mau dibongkar lagi dan disesuaikan berdasarkan kebutuhan tiap kelasnya. Mungkin terkesan tidak adil karena pembagian tidak lah merata untuk setiap kelasnya. Jadi, bingkisan yang diterima adik-adik kelas satu akan berbeda sekali dengan yang diterima oleh kelas enam. Namanya juga barang sisa, jadi ya seadanya aja dapatnya. Yang jelas mah dalam satu kelas menerima bingkisan yang serupa tiap siswanya.

Kondisi sekolah yang hendak dituju Alhamdulillah tidak ambruk seperti di Gambung. Tapi karena kekhawatiran para guru terhadap sebagian ruang kelas yang diduga tidak layak untuk kegiatan belajar memaksa mereka untuk memindahkan siswa pada ruangan lainnya. Akibatnya terjadi perubahan waktu belajar bagi siswa kelas empat hingga enam yaitu masuk pukul 10.30 pagi usai adik-adiknya beres KBM.

Justru bagus juga sih klo jam sekolah mereka di shift. Jadi memudahkan saya untuk mengangkut bingkisan ke sekolahnya. Ga sekaligus maksudnya.

Kehadiran saya di SD CIJEMBAR disambut sepi oleh guru-gurunya. Maklum mereka sedang sibuk ngajar. Sedangkan guru lainnya belum pada datang. Setelah berbincang-bincang dengan gurunya tentang maksud dan tujuan kedatangan saya mereka lalu menyambut gembira. Hari sebelumnya saya sudah bertemu dengan kepala sekolah dan meminta izin kepada beliau, namun pagi ini beliau sedang tidak ada di tempat karena dipanggil oleh dinas.

Tanpa banyak basa basi lagi, bingkisan-bingkisan yang sudah disortir dibagikan tiap kelasnya. Nah klo bagi-bagi di kelas rasanya lebih tertib karena setiap anak duduk di bangku masing-masing. Ga ada tuh cerita desak-desakan berebut bingkisan.

Untuk kloter pertama sudah beres dengan aman. Selanjutnya kloter kedua akan dibagikan nanti siang setelah mereka masuk sekolah. Ada beberapa bingkisan yang masih tersisa, sebenarnya sih sengaja dilebihkan untuk dua anak tapi dilihat dari sisa jumlahnya sepertinya ada yang tidak masuk sekolah. Waduh kenapa yah? Semoga saja mereka tidak apa-apa.

Oke deh sekarang pulang dulu, nanti balik lagi ke sekolah sambil bawa bingkisan untuk kelas empat sampai enam. Setelah itu beres-beres barang siap-siap balik ke rumah.

Back to School, Kembali Pada Rutinitas Sebelumnya

Hari ini adalah hari pertama adik-adik kembali ke sekolah setelah libur panjang lebaran. Pastinya mereka saat ini tengah bersuka cita dengan suasana sekolah yang mungkin cukup lama mereka tinggalkan.

Dari awal saya terjun ke sebagai relawan untuk gempa telah membuat komitmen pribadi tentang sampai kapan. Ya sampai kapan saya akan terus mengurus adik-adik ini.

Secara teoritis psikologi mungkin batasan pendampingan adik-adik berakhir bila target pemulihan sudah tercapai. Akan tetapi saya bukanlah instruktur dari psikologi dimana teoritis dan prakteknya merupakan acuan kerja dalam penanganan anak.

Secara pribadi saya berkomitmen akan berhenti mendampingi adik-adik bila kegiatan belajar mengajar sekolah sudah dimulai kembali. Harapannya sih dari pihak sekolah dan dinas pendidikan ada suatu tindakan khusus berupa penanganan trauma bagi murid-muridnya. Selain itu juga menumbuhkan sifat waspada bencana dan perilaku ramah lingkungan. Bukan sekedar mengelontorkan duit untuk rekonstruksi bangunan sekolah yang emang dari dulu nggak pernah bagus-bagus amat.

Yah namanya berharap boleh kan…