Romantisme Jogja

Pada pernah nonton FTV, alias Film Televisi yang sekarang sedang in di salah satu stasiun TV yang katanya Satu Untuk Semua?

Klo ada yang pernah nonton FTV pasti rasanya endang soekamti lah!! Bagaimana tidak, jatuh cinta bisa dimulai bukan dari mata turun ke hati, melainkan dari jedotan di persimpangan jalan turun ke celana (ini sih kebelet pipis).

Ditambah lagi setting lokasinya yang heummmm… suka bikin ngiri. Paling seringnya sih pulau Bali, namun satu tempat lainnya juga ga kalah pamor yaitu Jogja. Menurut aku sih, jogja memang pilihan yang tepat karena nuansanya yang membikin seseorang luluh di depan Benteng Vredeburg,

welcome jogja  (45)

Jogja seringkali jadi sudut pandang kisah cinta yang menarik dalam FTV. Sayangnya, medok jawa-nya yang agak memaksa dan kisah cintanya juga terkadang cenderung malah berkesan luar biasa melambai membuat saya selalu berkedut kening melihat kisah cinta antara anak ninggrat anak enggak jelas asal-usulnya, anak pengusaha yang jatuh cinta sama anak pembantunya, sampe anak siapa jatuh cinta sama siapa (emang urusan gue).

Meskipun cerita FTV itu melambai-lambai, tapi yang namanya romantisme jogja itu ga bohong. Soalnya saya pernah mengalami suasana dimana hati begitu indah terasa. Jogja memberikan saya kesan yang mendalam tentang yang namanya “LOVE”. Sepanjang jalan Malioboro, menjadi kenangan tersendiri buat saya.

Semua itu terjadi pada kunjungan saya yang kedua di jogja. Demi dia, saya bela-belain mengantarkannya dari Bandung ke Jogja, lagi-lagi menggunakan kereta ekonomi murah Kahuripan, dan kemudian tersesat mencari-cari alamat yang harus ditujunya sebelum jam 12 siang.

Past is past. Kenangan hanya tinggal kenangan. Dan jogja tetap menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi kami berdua. GOOD BYE US!

3 Cinta 3 Cerita Bersemi di Hutan Rimba

Yang namanya cinta emang ga pernah ada habisnya. Begitu juga dengan kisah cinta yang ada selama di Ekspedisi ini. Sedikit berbagi cerita aja ah sama cinta-cinta yang terjadi di sini. Here’s de story..

 

Cinta keluarga dari seorang Aspor.

Pak Aspor sebagai Kepala Pemandu ekspedisi ini baru saja merayakan Ulang tahunnya yang ke 50 minggu lalu. Di ulang tahunnya tersebut kami membuat kejutan untuknya. Kami membangunkannya disela-sela tidur lelap, setelah dia terbangun, saya dan teman-teman bule menyanyikan lagu selamat Ulang tahun dengan sebuah kue dadakan ala kadarnya termasuk lilin segede gaban.

Dia yang setengah ngantuk senyum-senyum malu sambil beberapa kali mengucapkan terima kasih banyak.

Usai ceremony ulang tahun tersebut, beliau melanjutkan kembali ritual tidur lelapnya. Tapi dia tidak langsung tidur, tiba-tiba dia malah bercerita kalau dia teringat sama keluarga di rumah. Dia kangen sama kelima anaknya yang masih kecil berikut pula sang istri tercinta. Di balik kelambunya beliau terus saja bercerita tentang anak-anaknya, tentang bagaimana perangai mereka berlima, tentang kedua anak gadisnya yang berkemauan keras dan tomboy, tentang anak-anak lelakinya yang pendiam dan pemalu, tentang istrinya yang begitu perhatian.

Setiap kata yang mengalir darinya menunjukkan betapa besar cintanya kepada keluarga. Terasa sekali kerinduan darinya untuk bisa berkumpul dengan keluarganya mensyukuri usia barunya. Beliau benar-benar rindu atau mengigau?

 

Cinta lokasi dari Wood and Bond.

Cinta itu datangnya emang misterius. Wood and Bond adalah dua orang bule yang berasal dari Inggris. Dan mereka berdua terlibat hubungan asmara yang membara selama di hutan rimba. Siapa sangka pertemuan mereka di Ekspedisi ini ibarat bunga-bunga cinta yang bermekaran.

Semenjak hari pertama menginjakkan kaki di hutan rimba kalimantan, hubungan kedekatan mereka berdua semakin terlihat jelas. Dari yang awalnya hanya sebatas rekan kerja lama-kelamaan jadi anak anjing dan majikannya, lengket betul.

Dimana ada Wood, di sana ada Bond. Dimana ada Bond, pasti dia ngejar-ngejar Wood. Persis kayak anak anjing, ngekor mulu.

Cinta yang indah pada awalnya ini justru malah membuat risih orang disekitarnya. Sirik, ga juga sih. Hanya saja bunga-bunga asmara ini malah menghambat kinerja yang seharusnya. Dunia terasa indah, serasa milik berdua. Yang lain jadi cecunguk di sudut kamar.

Ga ada yang melarang kisah-kasih mereka. Itu hak mereka. Karena cinta bukan untuk di-monopoli. Semoga saja cinta mereka bukan sekedar rasa sepi di hutan rimba.

 

Cinta istri muda.

Rong-Rong, pemuda berumur 25 tahun baru saja menikah 6 bulan lalu. Masih anget memang. Yang bikin anget lagi istrinya baru berumur 17 tahun.

Rong-Rong yang bekerja sebagai pemandu lokal ini bawaannya uring-uringan. Setiap kali ada kesempatan dimana perahu akan pergi ke desa, dia dengan sejuta alasannya selalu meminta ijin untuk pulang.

Dan kemarin adalah kepulangan yang ketiga kalinya semenjak bergabung sebagai pemandu. Dengan alasan hendak menyekolahkan keponakannya yang hendak masuk SMP. Bulan januari emangnya tahun ajaran baru ya?

Pak Aspor yang tahu intrik-intrik setiap pemandu, mengatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari istri mudanya. Dia selalu kangen, ga betahan, ga bisa jauh dari istri, pikirannya gituan mulu. Masa sih?

Sekembalinya dia dari desa barulah terlihat jelas, bahwa dia terkena penyakit Malarindu. Bibirnya ngoceh bercerita tentang istrinya. Penyakit gini obatnya apa ya?

Terima Kasih 2010

Saya jadi teringat kembali saat penghujung tahun 2009, pada waktu itu saya ikutan nimbrung di salah satu kegiatan rutin Komunitas Sahabat Kota yaitu Rabu belajar. Dengan tema harapan di tahun yang baru, Rabu belajar mengajak para Sahabat yang hadir untuk menuliskan sebuah harapannya dalam rentang waktu satu tahun ke depan dan lima tahun yang akan datang untuk pribadi dan kota Bandung tercinta.

Kertas harapan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Kapsul Waktu (sebenarnya sih kaleng kerupuk) yang nantinya akan digembok dan dibuka satu tepat satu tahun kemudian. Saya lupa, waktu itu entah saya menuliskan apa. Namun yang pasti, saya sangat sangat ingin sekali untuk sesegera mungkin menuntaskan karir saya sebagai mahasiswa yang bisa dibilang kelamaan.

Agustus 2010, sebuah harapan akhirnya terwujud meski harus bercucuran air keringat hingga air mata. Penantian yang panjang itu akhirnya tiba juga. Orangtua yang sudah lama mengidamkan, jauh melebihi si pelaku itu sendiri akhirnya bisa berucap syukur dan bangga. Sedangkan menurut saya sendiri, apa yang sudah saya raih pada agustus 2010 ini adalah sesuatu yang LUAR BIASA.

Ya, saya memang luar biasa. Saya mencetak dua sejarah yang sangat penting. Yang pertama, saya adalah orang pertama yang melakukan penelitian dalam tempo singkat. Saya hanya membutuhkan waktu selama Semester Alih Tahun atau dulu biasa disebut Semester Pendek. Dalam rentang waktu tiga bulan saya mengerjakan skripsi dari titik nol, dari membuat proposal usulan penelitian (Seminar Satu), pergi ke lapangan mengambil data, melaporkan hasil dan pembahasan skripsi (Seminar Dua), hingga akhirnya saya di Sidang (Komprehensif). Semuanya itu saya lakukan dalam waktu tiga bulan. Pyuh…

Sejarah yang kedua adalah saya memegang posisi sebagai juru kunci angkatan. Kelulusan saya merupakan penutup bagi angkatan. Tidak ada lagi teman seangkatan saya yang akan diluluskan setelah saya. Pintu kesempatan telah ditutup oleh pihak jurusan. Memang bukan sebuah kebanggaan yang patut dibanggakan, tapi saya sangat berterima kasih karena di sana ada teman yang selalu mengingatkan, menyemangati dan senantiasa membantu. Beruntungnya diriku, terima kasih kawan.

Harapan saya yang kedua, bukan sebuah harapan yang terlalu serius hehehe. Berhubung 2006-2009 dilalui tanpa cinta, maka 2010 harus penuh cinta!!!

Yang namanya jodoh emang ga bakal kemana, hehe. Mei 2010 saya dipertemukan dan didekatkan kepada sesosok yang menaut hati (mulai lebay). Meskipun bumbu percintaannya masih itu-itu aja (kangen, perhatian, tempat berbagi, hasrat, cemburu dan tekor pulsa) hahaha. Setidaknya HP saya ga sepi-sepi amat jika malam menutup senja atau fajar diterjang mentari. Met Bobo, Met Pagi… wakakakakak.

Cukup ah nulisnya. Klo nulis cinta-cintaan bisa bahaya..

Terima kasih untuk 2010 yang telah memenuhi sebagian harapan yang dipanjatkan. Semoga untuk ke depannya terus lebih baik lagi.

NB: dah lama ga posting.. jadi kaku gini ya nulisnya. Pengaruh aturan menulis baku di skripsi sih.

Pencinta Ulung

Pencinta Ulung

Apa jadinya bila dunia ini hanyalah homonim.

Ga seru kali ya. Sering kali kita menemukan padanan kata yang saling bertentangan, ya seperti siang dan malam, pagi sore, matahari bulan, pria wanita, adam hawa, kaya miskin, tinggi pendek, kawan lawan, dmbl (dan masih banyak lagi).

Meskipun disebut pertentangan justru kedua kata tersebut adalah sebuah pasangan yang romantis. Bayangkan saja jika matahari tak pernah mengejar bulan. Atau si bulan tak pernah jual mahal sama si matahari. Mungkin dunia ini bisa dikatakan monoton.

Begitu juga bila tak ada Adam dan Hawa yang turun ke muka bumi dan saling bertemu. Mungkin tak pernah ada dia, dia, dia, dan ehem dia…

Ini adalah kisah si Tono dan si Tini. Dua remaja yang saling tertarik satu sama lain. Sayangnya mereka berdua adalah orang yang pemalu, pendiam, tak dapat berkata-kata bahkan berpaling jika mata mereka saling beradu pandang.

Mereka berdua tahu bahwa mereka saling suka. Dari senyum-senyum kecil saat bertatapan. Tingkah polah tak jelas bila berhadapan. Dan terbujur kaku ketika ingin mengucapkan “selamat pagi”.

Di dalam kamarnya, Tono selalu saja melamunkan Tini. Sulit tidur ia dibuatnya.

Sedangkan Tini, ia sibuk mencorat-coret buku hariannya dan tertawa kecil sendiri membayangkan kejadian-kejadian tadi pagi saat bertemu Tono.

Dalam kegundahannya, tiba-tiba Tono sangat bersemangat sekali untuk menyapanya esok. Ya menyapa, bukan sekedar berpura-pura meminjam pulpen kepada teman sebangku Tini hanya untuk menghampiri namun tertunduk malu.

Besok pagi Tono akan menyapa Tini sebelum ia masuk kelas.

Dan Tini tertidur pulas, tanpa tahu apa yang akan terjadi besok.

Nahas bagi Tono. Ia bangun kesiangan dan terlambat sampai di sekolah. Semalam ia terlalu sibuk berpikir bagaimana cara menyapa Tini, hingga tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi.

Dan Tini, gadis teladan selalu tepat waktu 30 menit sebelum bel berbunyi.

Tono cemas. Ia berpikir untuk membatalkan saja niatnya hari ini dan melakukannya senin depan. Menurutnya senin adalah hari istimewa untuk memulai sesuatu. Entah kepercayaan darimana.

Manusia memohon dan Tuhan mengabulkan.

Tanpa diduga Tini berdiri di depan pintu kelas, seakan ia tahu bahwa Tono akan mengubah hari ini menjadi istimewa.

Tono gugup. Terkejut. Ternyata kesempatan itu selalu ada. Terbata-bata Tono mengucapkan,

“Se… la.. mat Pa… di!!” sapa Tono gugup, salah pula sambil tersenyum garing sendiri.

Tini kaget. Ini pertama kalinya Tono menyapanya. Tak lupa Tini membalas sapaan Tono,

“Pagi…”

Tegas Tini mengoreksi ucapan Tono, sambil tersenyum.

Senyuman Tini membuat Tono tertegun sesaat. Salah tingkah. Malu. Tapi senang. Buru-buru Tono pergi menuju bangkunya sambil tersenyum senang dan sesekali mencuri pandang kepada Tini yang sama-sama tersipu malu.

Hari senin ini, Tono telah selangkah lebih maju. Senyum pagi tadi meyakinkan Tono, bahwa Tini mempunyai rasa yang sama dengannya.

Esoknya, Tono datang lebih awal dan berani untuk menyapa terlebih dahulu…