Ekspedisi Hybrid: Triangulasi Pertama

“Sungai Joloi, Muara Posu. Tempat ini kami tetapkan sebagai titik Triangulasi Pertama.”

Setelah  menentang arus sungai Joloi selama kurang lebih dua jam, akhirnya kami berhenti dan memutuskannya sebagai tempat pengamatan Triangulasi. Dua jam menentang arus memang bukan perjalanan yang menyenangkan. Tidak senyaman yang saya kira saat cuaca sedang cerah.

Cuaca cerah bukanlah jaminan untuk perjalanan nyaman mengarungi sungai Kalimantan. Terkadang cuaca cerah selama beberapa hari berturut-turut bisa menjadi rintangan berat. Bagaimana tidak, air sungai yang biasanya setinggi perut tiba-tiba surut setinggi lutut.

Itu bukan kabar baik bagi perahu kecil yang penuh dengan muatan barang. Volume sungai yang menyurut membuat baling-baling perahu tak bertenaga. Perahu pun tersangkut di perairan dangkal, membuat kami para penumpang harus siap siaga meloncat, mengamankan serta mendorong perahu ke jalur yang seharusnya.

Sang Juru Kemudi pun harus berhati-hati. Karena setiap kali bebatuan terhantam, kerusakan besar maupun kecil bisa saja terjadi. Sedangkan kami berada ratusan kilometer dari desa terdekat.

Semuanya berjalan baik-baik saja hingga kami tiba di tempat yang telah ditentukan, Muara Posu. Tempat yang memanjakan para petualang. Sungai yang jernih, aliran sungai yang tenang, dasar sungai yang aman dari kayu mati membahayakan, membuat saya selalu ingin berlama-lama berenang.

Pikiran berenang harus saya tampik dahulu. Masih banyak pekerjaan yang harus kami mulai persiapkan selama 3 hari ke depan. Mendirikan kamp sementara, membuka jalur untuk 4 pos pengamatan triangulasi, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.

Jika pekerjaan-pekerjaan di atas sudah terpenuhi, dan cuaca esok subuh cerah. Maka pengamatan Triangulasi bisa segera dimulai.

3 Cinta 3 Cerita Bersemi di Hutan Rimba

Yang namanya cinta emang ga pernah ada habisnya. Begitu juga dengan kisah cinta yang ada selama di Ekspedisi ini. Sedikit berbagi cerita aja ah sama cinta-cinta yang terjadi di sini. Here’s de story..

 

Cinta keluarga dari seorang Aspor.

Pak Aspor sebagai Kepala Pemandu ekspedisi ini baru saja merayakan Ulang tahunnya yang ke 50 minggu lalu. Di ulang tahunnya tersebut kami membuat kejutan untuknya. Kami membangunkannya disela-sela tidur lelap, setelah dia terbangun, saya dan teman-teman bule menyanyikan lagu selamat Ulang tahun dengan sebuah kue dadakan ala kadarnya termasuk lilin segede gaban.

Dia yang setengah ngantuk senyum-senyum malu sambil beberapa kali mengucapkan terima kasih banyak.

Usai ceremony ulang tahun tersebut, beliau melanjutkan kembali ritual tidur lelapnya. Tapi dia tidak langsung tidur, tiba-tiba dia malah bercerita kalau dia teringat sama keluarga di rumah. Dia kangen sama kelima anaknya yang masih kecil berikut pula sang istri tercinta. Di balik kelambunya beliau terus saja bercerita tentang anak-anaknya, tentang bagaimana perangai mereka berlima, tentang kedua anak gadisnya yang berkemauan keras dan tomboy, tentang anak-anak lelakinya yang pendiam dan pemalu, tentang istrinya yang begitu perhatian.

Setiap kata yang mengalir darinya menunjukkan betapa besar cintanya kepada keluarga. Terasa sekali kerinduan darinya untuk bisa berkumpul dengan keluarganya mensyukuri usia barunya. Beliau benar-benar rindu atau mengigau?

 

Cinta lokasi dari Wood and Bond.

Cinta itu datangnya emang misterius. Wood and Bond adalah dua orang bule yang berasal dari Inggris. Dan mereka berdua terlibat hubungan asmara yang membara selama di hutan rimba. Siapa sangka pertemuan mereka di Ekspedisi ini ibarat bunga-bunga cinta yang bermekaran.

Semenjak hari pertama menginjakkan kaki di hutan rimba kalimantan, hubungan kedekatan mereka berdua semakin terlihat jelas. Dari yang awalnya hanya sebatas rekan kerja lama-kelamaan jadi anak anjing dan majikannya, lengket betul.

Dimana ada Wood, di sana ada Bond. Dimana ada Bond, pasti dia ngejar-ngejar Wood. Persis kayak anak anjing, ngekor mulu.

Cinta yang indah pada awalnya ini justru malah membuat risih orang disekitarnya. Sirik, ga juga sih. Hanya saja bunga-bunga asmara ini malah menghambat kinerja yang seharusnya. Dunia terasa indah, serasa milik berdua. Yang lain jadi cecunguk di sudut kamar.

Ga ada yang melarang kisah-kasih mereka. Itu hak mereka. Karena cinta bukan untuk di-monopoli. Semoga saja cinta mereka bukan sekedar rasa sepi di hutan rimba.

 

Cinta istri muda.

Rong-Rong, pemuda berumur 25 tahun baru saja menikah 6 bulan lalu. Masih anget memang. Yang bikin anget lagi istrinya baru berumur 17 tahun.

Rong-Rong yang bekerja sebagai pemandu lokal ini bawaannya uring-uringan. Setiap kali ada kesempatan dimana perahu akan pergi ke desa, dia dengan sejuta alasannya selalu meminta ijin untuk pulang.

Dan kemarin adalah kepulangan yang ketiga kalinya semenjak bergabung sebagai pemandu. Dengan alasan hendak menyekolahkan keponakannya yang hendak masuk SMP. Bulan januari emangnya tahun ajaran baru ya?

Pak Aspor yang tahu intrik-intrik setiap pemandu, mengatakan bahwa dia tidak bisa lepas dari istri mudanya. Dia selalu kangen, ga betahan, ga bisa jauh dari istri, pikirannya gituan mulu. Masa sih?

Sekembalinya dia dari desa barulah terlihat jelas, bahwa dia terkena penyakit Malarindu. Bibirnya ngoceh bercerita tentang istrinya. Penyakit gini obatnya apa ya?

Beruntungnya Jadi Orang Indonesia

Percaya atau tidak, sebenarnya orang Indonesia itu adalah orang yang paling beruntung sejagat raya. Saking beruntungnya, walaupun nasib buruk datang menimpa orang Indonesia masih saja menyebutnya “Untung”.

Selama ekspedisi pun, keberuntungan kami seakan tiada pernah ada habisnya. Bahkan saat salah satu anggota kami berdarah ibu jarinya karena teriris parang saat mengasah, dengan kaleumnya salah seorang temannya mencoba menenangkannya dengan perkataan “Untung masih jauh dari jantung”.

Keberuntungan kami tidak hanya itu saja. Pernah juga waktu itu perahu yang kami gunakan untuk perjalanan ke hulu mengalami kerusakan. Badan perahu yang saya tumpangi menabrak batang pohon mati yang tenggelam di sungai. Alhasil lubang lumayan cukup besar dan air yang masuk membuat saya kaget dan cemas bila kami harus karam di lokasi yang berjarak satu jam dari Camp. Untungnya, perahu masih bisa diperbaiki dengan mengorbankan beberapa bagian perahu dan menambalnya. Dengan tenangnya, si empunya perahu mengatakan “Untung badannya yang rusak, coba klo mesinnya”.

Di lain hari, si empu perahu mencoba untuk service check up kondisi mesin. Awalnya reparasi berjalan dengan lancar hingga sebuah percikan api mengubah suasana menjadi mencekam. Api membakar mesin dan semakin membesar. Semua panik, lalu lalang, dan berusaha memadamkan api. Untungnya api bisa padam. Untungnya kondisi mesin masih baik-baik saja. Dan si empu perahu lagi-lagi bilang “Untung tidak meledak!”.

Masih banyak keberuntungan yang senantiasa menyertai hari-hari kami selama ekspedisi. Intinya, orang Indonesia emang ga ada ruginya.

Owa Owa Owa dan Owa Lagi (Pencarian Yang Masih Dipertanyakan)

Jauh-jauh saya terbang ke Kalimantan, eh malah berurusan lagi sama yang namanya Owa (Hylobates sp.). Belum juga beres sama pengamatan Owa Jawa (Hylobates moloch) yang di Leuweung Sancang, sekarang malah disibukkan lagi dengan pengamatan Owa yang ada di Kalimantan. Mungkin udah jodoh saya bertemu, berkolaborasi dan berkoordinasi sama peneliti yang suka Primata.

Sedikit cerita tentang Owa yang ada di lokasi penelitian yaitu Ungko. Pada awalnya Owa jenis ini termasuk ke dalam anak ras dari jenis Hylobates agilis albibarbis. Namun sekarang, berdasarkan hasil penelitian entah -saya belum kenal-, jenis Owa ini dimasukkan ke dalam jenis tersendiri yaitu Hylobates albibarbis.

Lucunya, di buku panduan mammalia yang saya pegang, yaitu buku panduan Mammalia di Kalimantan keluaran dari LIPI, jenis Owa Ungko ini malah tidak ada gambarnya. Buku hanya menjelaskan bahwa owa tersebut mirip dengan Owa Kalawat (Hylobates muellerri). Disebut mirip karena mereka memang Owa, tapi secara fisik dan pola suara jelas beda.

Dari hasil pengamatan selama di jalur transek pun saya masih sedikit bingung dan penasaran, karena Owa Ungko yang saya temui beberapa ada yang mirip dengan apa yang buku panduan deskripsikan yaitu berbulu warna coklat tua. Sedangkan bentuk lain yang saya temui berwarna lebih gelap (kelabu). Setelah saya diskusikan bersama peneliti utama, dia menjawabnya tak usah dihiraukan karena H. albibarbis memang memiliki variasi warna. Heum… jadi makin penasaran.

Yang lebih bikin penasaran lagi adalah tujuan utama dari pengamatan Owa ini antara lain mencari tahu jenis Owa yang sampai saat masih dipertanyakan keberadaannya.

Lagi-lagi menurut buku panduan, disitu tertulis bahwa pernah ada laporan mengenai persilangan dari kedua jenis Owa Kalimantan yaitu H. muellerri dan H. a. albibarbis yang (ket: H adalah Hylobates, bukan Haji) terjadi di Hulu Sungai Barito sampai bagian utara Muara Joloi.

Persilangan tersebut juga malah diperkuat dengan cerita nenek moyang yang diungkapkan oleh Bapak Aspor. Beliau bercerita bahwa dahulu kala, Owa-owa Kalimantan berasal dari satu tempat yaitu dari daerah barat. Tiba-tiba, beberapa dari Owa tersebut berpindah ke arah timur dengan menggunakan perahu. Malangnya, perahu yang mereka gunakan mengalami kebocoran sehingga hampir karam. Untung saja Owa-owa yang di perahu tersebut selamat. Namun akibat kejadian tersebut, Owa yang pindah memiliki bunyi yang hampir sama dengan perahu yang hampir karam tadi, yaitu suara kemasukan air, bluk…bluk….bluk…

Nah kebetulan, jenis Owa yang diduga persilangan tersebut memiliki bunyi yang sama seperti apa yang diungkapkan oleh Pak Aspor yaitu bluk.. bluk… bluk. Dan itu menjadi fokus utama pengamatan Owa saat ini.

Mudah-mudahan saja kami bisa mendengarkan suara nyanyian bluk… bluk… bluk…

Wabah Cacing Kulit (Kegatelan part II)

Masih nyambung dengan tema sebelumnya yaitu kegatelan. Di minggu-minggu ini ada penyakit gatel yang sedang mewabah di kalangan para bule. Maksudnya, penyakit gatel tersebut hanya menyerang kawan-kawan bule saja, sedangkan kami-kami yang lokal aseli Indonesia alhamdulillah masih diberikan kesehatan jasmani (rohani sedikit terguncang).

Penyakit aneh tersebut (kami menyebutnya aneh karena hanya kaum bule saja yang menderita) awalnya hanya berupa gejala gatal-gatal biasa. Namun lama kelamaan, rasa gatal itu malah semakin tumbuh membesar, seperti ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Hingga akhirnya, bentuknya semakin nampak jelas seperti sehelai benang merah tipis yang tertanam di dalam kulit.

Dari bentuknya yang seperti sehelai benang, tentu saja pikiran kami langsung teralih kepada satu jasad yang cukup umum yaitu cacing. Lalu darimana si cacing itu berasal?

Mulanya kami mengira bahwa penyakit aneh itu berasal dari sungai dimana kami biasa menghabiskan waktu untuk mandi. Dilihat dari tempat cacing tersebut menjangkiti yaitu pergelangan tangan, jari, telapak kaki, betis, hidung bahkan barang kemaluan, maka sudah tentu pasti lokasi yang dicurigai adalah lokasi yang dekat sekali hubungannya dengan barang anu.

Tapi, lokasi sungai sebagai sarang cacing juga masih meragukan. Semua orang di basecamp menggunakan sungai. Dari mandi, cuci baju, kencing, dan juga BAB (buang air banyak) semuanya dilakukan di sungai. Kecuali BAB, klo mereka sih punya toilet duduk khusus yang digali, mojok di sudut basecamp (dan sekarang, baunya udah mulai ga tahan gila!!).

Sempat kita berandai-andai,
“Jangan-jangan si cacing pengen cobain yang namanya darah made in Europe”.
Namun yang pasti, mungkin orang Indonesia lebih TEBAL KULIT ketimbang orang Europe. Jadinya kami lebih tahan penyakit* (baca: malu).

Penduduk aseli (masyarakat desa) yang tinggal dekat basecamp pun merasa keheranan dengan penyakit aneh tersebut. Tidak satu pun dari mereka yang pernah menjumpainya. Malah setelah melihat penampakan dari penyakit aneh itu kami jadi sedikit parno jika ada gatal di salah satu bagian tubuh.

Dari satu orang yang kena, kini sudah ada lima orang yang mencoba bersabar menahan diri untuk tidak mengaruk. Dan mereka bilang, “Everyday, it’s getting long….”