Judul Sang Pemimpin

yaki judul (3) yaki judul (2)yaki judul (1)

Judul, menyandang gelar sebagai bos besar di grup yaki Pantai Batu hutan Tangkoko. Sangat mudah bagi Judul untuk meraih posisi tertinggi di grup PB. Ia mendapatkannya tanpa harus bersusah payah melalui pertarungan dengan pejantan alfa sebelumnya, sebagaimana layaknya sebuah perebutan kekuasaan dalam sistem sosial monyet.

Ibarat situasi politik negeri ini yang carut marut, kehadiran Judul seakan angin segar terhadap sosok figur baru untuk menjadi semonyet pemimpin kerajaan –bukan seorang. Judul masih muda, tangguh, taringnya masih lengkap, fisiknya tidak meragukan dan kemungkinan bisa bertambah besar, berkharisma, dan pembawaannya mudah diterima.

Dalam rekam jejaknya menjadi pemimpin PB, tidak banyak dirinya menunjukkan tingkah laku keagresifan kepada para kompetitor yang juga memiliki potensi untuk maju sebagai bos. Namun entah kenapa, pejantan-pejantan lain yang lebih senior di dalam grup dan memiliki kapasitas fisik yang jauh lebih besar justru mempersilahkan Judul untuk melangkah maju.

Kini, satu bulan lebih Judul memimpin PB. Belum banyak perubahan terjadi di dalam grup. Ketidakarogansian Judul adalah titik lemahnya. Jika ia tidak berhati-hati, bisa saja pesaing yang berada satu tingkat di bawahnya yaitu Fuki mengkudetanya dari tampuk kepemimpinan. Dan Fuki sangat berhasrat sekali untuk berdiri di puncak kekuasaan.

Waspadalah Judul, dan jadilah pemimpin yang bijaksana membawa perubahan yang berarti –berasa iklan partai :p-

di sungai

yaki juvenile

Kelakuan anak Yaki nggak jauh beda sama anak manusia. Sukanya main air.

Apalagi di musim kemarau yang panas benderang. Singgah di sungai menjadi salah satu agenda rutin mereka untuk menyejukkan badan. Kalau anak-anak Yaki sih mereka senangnya bukan main. Saking girangnya, mereka suka berlari ke sana kemari di sungai yang dangkal. Sesekali mereka berguling-guling satu sama lain hingga terbenam seluruh badannya atau memanjat ranting-ranting pohon yang rendah kemudian terjun bebas ke bawah. Pokoknya basah kuyup.

Kalau sudah mulai lelah, baru deh mereka istirahat sejenak sambil mencari makanan di pohon-pohon sekitar sungai. Bener-bener menikmati hari.

yaki juvenile

Melihat kelakuan mereka, saya jadi inget sama waktu kecil saya dulu semasa masih tinggal di kampung. Jalan-jalan ke sawah sama teman-teman sepermainan, lalu mampir ke sungai kemudian jongkok bareng-bareng sambil mengeluarkan tenaga dalam. Kami memainkan sebuah permainan yang cukup sederhana yaitu adu panjang “ee”. Setelah adu panjang, kami adu cepat “ee”. Dasar anak-anak, hahahaha.

Kalau jaman sekarang ngelakuin hal begituan. Waduh, bisa disangka nggak waras. Hahahaha.

Foto Bareng Fuki

aku dan fuki

Yang sedang senyum itu saya sedangkan yang item dan membelakangi kamera namanya Fuki. Biar ga membingungkan dan salah tebak nantinya. Hehehehe.

Kira-kira, mana yang lebih ganteng hayo?

Jack

Namanya Jack. Salah satu jantan dewasa di Rambo I. Sangat mudah untuk mengenali Jack. Bahkan untuk orang yang baru belajar mengenal Yaki.

Jack memiliki mata kiri yang buta. Itulah yang membedakannya dengan jantan Yaki lainnya. Selain itu, Jack sedikit takut terhadap kehadiran manusia. Dia selalu menghindar bilamana ada manusia yang mencoba mendekatinya. Termasuk peneliti yang hampir setiap hari selalu ditemuinya.

Jack si mata satu

Bulan februari kemarin sepertinya menjadi bulan yang sial bagi Jack. Tanpa sengaja, Jack masuk dalam perangkap liar yang dipasang pemburu. Sebenarnya perangkap tersebut ditujukan untuk babi hutan. Tapi Yaki mana tahu jika itu adalah perangkap khusus babi.

Lagipula, memasang perangkap/jerat baik untuk babi, burung atau hewan lainnya tidak diperkenankan selama berada di dalam areal Cagar Alam. Namun ulah nakal ini tidak ada habisnya. Selalu saja ada perangkap-perangkap yang dipasang pada daerah jelajah Yaki yang juga daerah jelajah babi liar.

Jack bisa melepaskan diri dengan memutuskan tali perangkap yang terpasang. Namun simpul ikatan tali yang tersisa masih terikat erat di pergelangan kaki kanannya. Sambil berjalan tertatih-tatih Jack mengikuti anggota kelompoknya.

Beruntung, asisten lapangan melihat kondisi Jack lalu melaporkan kejadian tersebut kepada manajer riset Giyarto. Dan diputuskan untuk menyelamatkan Jack saat itu juga.

Upaya penyelamatan dilakukan dengan cara membiusnya. Cara ini lebih aman ketimbang mencoba melepaskan ikatan secara langsung yang tentu saja beresiko karena Jack bukanlah monyet kecil. Kekhawatiran sempat terjadi saat setelah jarum bius dilesakkan. Jack yang kaget karena ada sesuatu yang aneh ditubuhnya kemudian menghindar naik ke pohon. Jika reaksi obat mulai bekerja dapat dipastikan Jack yang hilang kesadaran akan terjun bebas.

tangkoko 034Benar saja, sambil terhuyung-huyung di atas dahan, Jack melepaskan genggamannya dan terjatuh. Untungnya tim sudah bersiap siaga dengan kemungkinan tersebut dan merentangkan ponco tepat di bawahnya.

Serentak setelah Jack terjatuh, seluruh monyet Rambo I menjerit. Mereka berlari menghampiri dan mengerumuni kami serta Jack yang ditutupi ponco. Monyet-monyet menyeringai menunjukkan gigi-giginya, mengancam. Seakan mengatakan bahwa mereka tidak senang dengan apa yang kami lakukan.

Lima menit kemudian situasi mereda. Monyet-monyet yang mengerumuni kami mulai membubarkan diri dan pergi meninggalkan.

Jack dan jerat tali

Begitu situasi tenang, tali yang terikat di pergelangan kaki Jack segera kami lepaskan. Luka-luka lecet akibat ikatan tali pun kami obati.

Jack yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri kami tinggalkan. Dari jarak 10 meter kami mengamati Jack. Lima belas menit kemudian, secara perlahan Jack mulai siuman. Ia mencoba bangun dengan kondisi badan yang masih lemas, namun gagal. Dia terkulai jatuh.

Masih butuh waktu beberapa menit lagi hingga akhirnya dia benar-benar pulih. Dalam kondisi seperti itu, kami memutuskan untuk pergi dan membiarkan satu orang dari kami untuk tetap tinggal menemani Jack sampai ia bisa kembali berjalan dan bergabung dengan anggota grupnya.

Keesokan harinya, saya melihat Jack. Dia masih berjalan tertatih-tatih mengikuti anggota grup dengan rasa takut yang sama seperti sebelumnya. Takut terhadap manusia. Setidaknya kondisi Jack sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.

Mengenal Pantat Yaki

Ternyata sudah satu bulan lebih saya beraktivitas bersama para monyet hitam Yaki. Dan selama satu bulan ini saya sudah kenal beberapa ekor Yaki yang bisa saya bedakan dengan yaki-yaki lainnya. Setidaknya ada 40 ekor monyet yang kadang saya kenal, kadang lupa, kadang tertukar.
Kondisi ini jauh berbeda dibandingkan dengan pertamakali saya datang dan melihat Yaki. Di benak saya hanya ada satu monyet yang saya kenal. Berwarna hitam, berjambul, dagu lebar, dan bantalan pantat yang berbentuk hati. Namanya, tentu saja monyet Yaki.
Tidak mudah memang untuk mengenali monyet ini satu persatu. Apalagi saya termasuk orang yang pelupa nama. Jangankan nama monyet, nama orang yang baru salaman 3 menit yang lalu pun saya terkadang lupa dan malas untuk bertanya kembali.
Untuk mempermudah mengingat setiap monyet Yaki, saya mencoba untuk mencari ciri khusus yang setiap monyet miliki. Ciri-ciri itu bisa macam-macam, mulai dari bentuk fisik, bekas luka, cara berjalan, ukuran tubuh, hingga tingkah laku yang umum.
Membedakan mereka berdasarkan wajah adalah hal yang sulit bagi saya. Walaupun sebenarnya wajah mereka berbeda-beda, tapi menurut saya wajah mereka sama semua. Hitam. Terkecuali mereka yang memiliki bekas luka.
Kalau menurut saya, cara mudah untuk membedakan mereka adalah dari bantalan pantatnya. Setiap monyet memiliki bentuk pola bantalan pantat yang berbeda-beda. Dengan cara ini saya mengkategorikan pantat-pantat mereka menjadi beberapa yaitu, bentuk lonjong, diamond, piramid, kotak, dan kelelawar. Selain itu juga saya bedakan berdasarkan ukurannya, ada yang besar, sedang dan kecil.
Bahkan tak jarang juga saya memberikan pujian dan hinaan, seperti pantat sexy dan ugly. Dalam opini saya tentunya. Karena seringkali pantat sexy menurut saya tidak sama dengan pendapat teman-teman yang lain. Tapi kalo pantat jelek, kami lebih cenderung sependapat.
Identifikasi pantat ini sebenarnya cukup efektif. Namun permasalahan muncul ketika si monyet sedang dalam posisi duduk. Clueless. Kendala ini biasanya terjadi pada monyet-monyet betina yang sedang berkumpul. Kalau sudah begini, biasanya saya harus menunggu mereka mengangkat pantatnya.
Sedangkan untuk monyet jantan, tidak menjadi kendala karena jumlah mereka yang cenderung sedikit dan biasanya mudah dibedakan dari ukuran tubuhnya.
40 ekor monyet ini baru permulaan. Masih ada sekitar 60 ekor monyet lainnya yang harus saya kenal satu persatu. Dan sebisa mungkin tidak melupakannya yang sudah saya kenal sebelumnya.
Jadi, kalau nanti ada lomba mengingat dan mengenal 100 ekor monyet. Sepertinya saya bakal daftar dan ikutan {:3)