Sehari di Sarongge

sarongge_06

Masih nyambung sama tema bulan september ini yaitu gathering. Jadi ceritanya seminggu lalu saya berkunjung ke salah seorang relasi yang sekarang bertugas di Desa Sarongge. Kebetulan di hari itu juga sedang ada festival Sarongge, sebuah festival yang kurang lebih bertujuan untuk mempromosikan Sarongge sebagai desa Wisata.

Terkait mengenai Sarongge bisa di googling aja deh, karena saya tidak akan menulis tentang Desa Wisata Sarongge. Saya cuman mau bagi bagi kemeriahannya aja Smile

sarongge_02 sarongge_01

sarongge_04

sarongge_03 sarongge_05

Klo secara konsep festival sih kurang lebih mirip sama pawai 17-an. Sama sama meriah.

Ucap nuhun kepada keluarga Kang Maman Sulaeman atas sambutan hangatnya. Semoga kebahagian selalu menyertai kalian semua Smile

Ekowisata Bahoi

pohon bakau desa bahoi

Tagline: Menyingkap Keindahan Alam yang Terpendam

Subtagline: Wisata Alam yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Masyarakat.

 

Postingan kali ini agak sedikit berbau promosi. Lebih tepatnya promosi gratis.

Jadi ceritanya dimulai ketika pertengahan bulan agustus lalu. Awalnya saya dan teman saya Ugi berencana untuk liburan ke kota Tomohon, sekitar 2 jam perjalanan dari kota Manado. Ada sebuah perhelatan akbar dua tahunan yang rutin diselenggarakan di Tomohon yaitu Festival Bunga atau lebih lengkapnya Tomohon International Flower Festival.

Namun di tengah perjalanan menuju Tomohon, rencana kami justru berpaling untuk berwisata ke Desa Bahoi. Alasannya, pertama karena gratis hanya numpang nebeng sama teman teman dari WCS (organisasi nirlaba yang bergerak di bidang satwa liar), yang kedua karena kami pikir masih ada waktu lah hingga lusa untuk mampir ke Tomohon. Maka berangkatlah kami ke Desa Bahoi yang berada di Kecamatan Likupang Barat, sekitar 3 jam perjalanan dari Manado menuju arah timur laut.

Sesampainya di Desa Bahoi, kami langsung disambut oleh Opa Gaul dan beberapa anggota masyarakat dengan sangat ramah. Begitu saya melihat tata Desa Bahoi bisa dibilang rapi dan bersih. Walau jalan utamanya hanyalah jalan kerikil dengan setengah aspal terkelupas akan tetapi setiap rumah sepertinya bertanggung jawab untuk kebersihan dan keindahan halaman depannya.

Berhubung saya mah wisatawan gretongan, jadi saya mengikuti saja rencana yang akan dilakukan oleh teman teman WCS. Setelah berbincang bincang dengan perangkat desa Bahoi barulah saya ketahui maksud dari kedatangan kami. Tak lain adalah untuk membuat film dokumenter mengenai program ekowisata yang dilakukan oleh masyarakat setempat. Bukan untuk media promosi sih tapi lebih ke progress report gitu.

siap siap menyelam diskusi sebelum menyelampengendali perahu

Wisata Desa Bahoi memang tidak jauh berbeda dengan Wisata di Bunaken, sama sama berfokus pada wisata Bahari. Namun nilai lebihnya adalah segala unit kegiatan wisata di desa ini dikelola secara partisipatif oleh masyarakat. Tidak ada campur tangan pihak swasta selaku pemilik modal besar. Maka oleh karena itu segala keuntungan yang didapat tentu saja langsung dirasakan oleh masyarakat setempat. Wisatawan juga akan merasa lebih dekat dengan warga karena penginapan yang tersedia bukanlah losmen melainkan homestay alias tinggal di rumah warga.

Bicara tentang daya tarik alam di Desa Bahoi, sesuai dengan tagline-nya “Menyingkap Keindahan Alam yang Terpendam”. Kawasan terumbu karang dengan luas 6 ha ditetapkan oleh desa sebagai area yang dilindungi dan dijaga, atau sebutan lainnya adalah Daerah Perlindungan Laut. Tujuan DPL sendiri adalah untuk menjaga kelestarian terumbu karang dan sebagai tempat berkembangbiaknya biota laut. Di sini diver bisa melihat indahnya karang baik hard coral maupun soft coral, belum lagi berbagai jenis ikan karang.

Secara pribadi, desa Bahoi adalah pengalaman pertama saya snorkling. Saya nggak terlalu mengerti tentang biota laut, tapi dengan mata rabun saya dan kemampuan renang yang payah saya melihat banyak biota laut beraneka warna hilir mudik di bawah kaki saya. Keren. Sayangnya nggak ada yang motret saya waktu sedang snorkling :(. Walau begitu tidak terlalu mengecewakan, malah sangat menyenangkan. Hehehe.

Berminat untuk mengunjungi Bahoi atau ingin mencari alternatif tempat diving selain Bunaken? Bisa kontak no di bawah ini.

Contact Person: Marhaen
Opa Gaul
0852 4076 2872
0852 9875 3917

Free Willis : Kembali Ke Alam Liar

Dalam hitungan tiga detik, saya melihat Willis dibalik kegelapan malam dan rerimbunan dedaunan serta rintik-rintik hujan. Saking singkatnya, saya bahkan tak sempat untuk mengabadikan dirinya.

Selidik punya selidik, ternyata tiga detik yang saya rasakan berbanding terbalik dengan apa yang telah Willis lalui selama ini.

wilis belajar survive di alam

Lanjutkan membaca “Free Willis : Kembali Ke Alam Liar”

Malioboro Punya Burung

merbah cerukcuk merbah cerukcuk

Foto burung ini saya dapat sewaktu sedang nangkring di Jalan Malioboro. Saya pikir masih banyak burung jenis lainnya yang menghuni jalanan Malioboro karena jalanan ini masih lumayan cukup banyak pepohonan semacam beringin yang tentunya disukai oleh para burung sebagai pohon pakan.

Selain itu pula, Jalan Malioboro selalu dilalui oleh jenis burung raksasa yang tiada duanya yaitu seperti gambar di bawah ini,

welcome jogja  (32)

Rusa Timur dari Pangandaran

cikamal

Bagaimana cara membedakan Rusa betina remaja dan Rusa betina dewasa?

Pertanyaannya cukup sederhana, namun selama satu minggu pengamatan Rusa di Pangandaran ternyata tidak mudah untuk menjawabnya. Kalau hanya membedakan jantan betina mah gampang banget. Tinggal lihat "anunya" (tanduknya, hehehe).

Rusa Timur atau yang punya nama latin Rusa timorensis merupakan salah satu primadona satwa yang berada di Taman Wisata Alam Pangandaran. Padahal, berdasarkan catatan sejarah kawasan Pangandaran, rusa di sana bukanlah satwa asli daerah tersebut. Melainkan hasil introduksi yang dilakukan oleh Meneer Belanda yang punya hobi berburu.

Tidak tanggung-tanggung, untuk mendukung hobinya tersebut dibuat pula padang pengembalaan yang hingga kini masih ada di dalam kawasan Cagar Alam-nya. Badeto, Cikamal, dan Nanggorak adalah tiga lokasi padang pengembalaan yang kondisinya kini semakin penuh dengan semak-semak.

Sayangnya, kondisi padang pengembalaan yang semakin menyempit luasnya ini menjadi semakin jarang dikunjungi oleh para rusa. Seakan telah melupakan jasa para Meneer, Rusa Pangandaran justru lebih senang berkumpul dan mencari makan di sekitaran lapangan parkir hotel yang berada di luar area TWA.

Parahnya, areal di luar kawasan TWA dan CA tidak bisa dijamin bebas dari sampah. Rusa Pangandaran tidak merasakan keberatan untuk memamah sisa-sisa makanan manusia yang sudah tidak layak konsumsi. Mereka juga sudah tidak merasa aneh untuk menyodorkan moncongnya mengais rejeki di dalam tong-tong bau.

rusa timur

Maka jangan heran jika melihat isi lambung si Rusa yang penuh dengan sampah kemasan dan menjadi penyebab kematian akibat sembelit menahun.

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah-sudah, jumlah populasi Rusa di Pangandaran berkisar lebih dari 100 ekor. Sedangkan berdasarkan hasil penelitian yang baru saja saya dan teman saya lakukan di sana, ternyata hasil penghitungan menunjukkan jumlah populasi berkisar 60 ekor saja.

Lalu kemana sisanya?

Ini patut dicari tahu. Karena menurut petugas di sana, laporan kematian rusa tidak pernah mencapai angka puluhan. Dan lagi, hutan Pangandaran tidak dihuni predator besar yang doyan memangsa rusa. Jadi, kemanakah mereka?