Kebaikan

“Siapa yang menanam kebaikan, dia akan menuainya kelak”

Petuah itu saya dapatkan dari seseorang yang dengan baik memberikan saya tumpangan dari Baluran menuju Surabaya. Mungkin saya beruntung, atau memang sudah suratan takdir bahwa saya harus bertemu dengannya.

DSC_0117

Ceritanya dimulai selepas saya berpisah dengan om Yulius dan tante Vera di Baluran. Saya terpaksa harus pulang lebih awal karena tiket pulang kereta sudah saya booking jauh hari sebelumnya. Sedikit menyesal memang, seharusnya saya merencanakan perjalanan di Jawa Timur sedikit lebih lama. Jarak yang jauh antara Surabaya-Banyuwangi benar benar di luar perkiraan saya.

Di depan gapura masuk Baluran, saya sendirian menanti bus yang mengarah ke Situbondo.  Ternyata bus yang lewat sangat sangat jarang sekali. Kendaraan yang lewat juga bisa dikatakan jarang. Malah saking jarangnya kendaraan, segerombolan monyet ekor panjang bisa dengan aman menyeberang jalan raya masuk ke area Baluran.

Melihat monyet monyet itu menyeberang menjadi suatu pengalaman yang menarik buat saya. Ternyata mereka tahu pedoman menyeberang yang baik.

Tengok kiri, tengok kanan, lalu lari.

monyet nyebrang jalan

Selang setelah monyet monyet itu sukses menyeberang, sebuah mobil putih menepi dan membuka jendelanya. Saya berusaha mendekatinya karena sayup saya dengar pengemudi di dalamnya memanggil saya. Kemudian terjadilah percakapan seperti di bawah ini,

+ : mau kemana mas? (tanya pengemudi ramah)

– : mau ke terminal situbondo. (jawab saya)

+ : ikut saja mas, saya kebetulan lewat situ. (ajaknya)

– : terimakasih.. (tanpa menolak saya langsung membuka pintu mobil). Mas mau kemana? (tanya saya begitu di dalam mobil)

+ : saya mau pulang ke surabaya, tadi habis antar tamu sampai pelabuhan.

– : wah kebetulan, saya sebenarnya mau ke surabaya. Saya boleh menumpang sampai sana?

+ : ya udah ga apa apa, sekalian nemenin saya.

– : makasih banyak mas, saya agung. Nanti saya janji ga akan tidur.

+ : Saya Arif Wawan, panggil aja Arif.

DSC_0121

Ya begitulah percakapan pembukaan yang ujungnya adalah numpang nebeng. Padahal gestur saya di pinggir jalan waktu itu ga sambil mengacungkan jempol, apalagi pamer paha.

Mungkin memang dasarnya mas Arif ini adalah orang baik dan penolong. Jadi kalau melihat pelancong kesusahan di jalan, dia tak segan untuk mengangkut dan memberikan tumpangan. Terlepas dari pikiran buruk apakah si pelancong ini adalah orang baik atau orang orangan.

Malah saat kami bercakap di dalam mobil, dia berkilah bahwa kebaikan yang dia lakukan adalah balasan terhadap kebaikan yang pernah saya lakukan sebelumnya. Balasan kebaikan tidak selalu harus dari orang yang kita tolong, begitu beliau bilang.

Hmm, sebenarnya saya tidak begitu percaya dengan istilah karma. Namun kali ini, sepertinya mata hati saya terbuka oleh kebaikan mas Arif. Dan karma itu sepertinya memang ada selama perjalanan saya di Jawa Timur.

Maka oleh karena itu, saya mau mengucapkan terima kasih untuk orang orang baik yang telah membantu selama perjalanan ini. Novita, om Yulius dan tante Vera, serta mas Arif. Terima kasih atas kebaikan kebaikan yang telah kalian berikan.

Saya yakin, kisah perjalanan ini tak akan menarik jika tak ada kehadiran kalian.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s