Baluran di Bulan September

DSC_0109

I was though, i’m gonna being lonely in Baluran.

Itulah yang pertama saya pikirkan saat memulai perjalanan di Jawa Timur. Ternyata itu tak sepenuhnya terjadi. Pertemuan saya dengan om Yulius dan tante Vera di Ijen justru membawa berkah bagi perjalanan saya menuju Baluran. Saya dapat tumpangan gratis ke sana, plus penginapan dan juga makan makan.

Ah sungguh beruntungnya diriku dipertemukan dengan mereka. Andaikan saya tak bertemu mereka, sepertinya bakal menjadi satu perjalanan yang panjang lagi.

Hari itu adalah Iduladha. Pastinya banyak orang yang lebih memilih untuk berkumpul di rumah  menikmati daging kurban ketimbang bekerja. Benar saja, para pekerja belerang termasuk truk pengangkut hari itu libur. Sulit untuk mendapatkan angkutan menuju arah Banyuwangi, kecuali ojek dengan tarif yang luar biasa.

Bersama mereka, saya bisa menikmati sebagian kota Banyuwangi yang lenggang. Saking lenggangnya, susah untuk mencari makan siang. Malah kami sempat mampir dulu ke sebuah supermarket di Banyuwangi yang punya pesawat Boeing parkir di depannya. Ini amejing sekali untuk sebuah supermarket yang namanya belum pernah saya dengar di Bandung.

DSC_0056Kami juga sempat mampir di salah satu pantai yang berada di jalur utara Banyuwangi – Situbondo dengan pemandangan menghadap ke pulau Bali. Sebenarnya banyak sekali pantai pantai wisata di sekitar kota Banyuwangi. Mungkin butuh waktu khusus untuk bisa menikmati Banyuwangi dan pantai pantainya.

DSC_0059

Seberang sana itu, Gilimanuk. Gerbang masuk menuju Bali.

Lepas siang akhirnya kami tiba di Baluran. Sesuai dengan julukannya, Baluran sebagai Afrika-nya Indonesia memang benar benar kering. Di tambah musim kemarau yang melanda, suasana gersang seakan menjadi sajian utama.

Rumput rumput kering, tanah tanah pecah, pohon pohon yang meranggas, matahari yang bersinar penuh sepanjang hari. Itulah sebagian pemandangan yang tersaji di Baluran.

DSC_0064

Selain panorama savana yang terhampar luas, satwa satwa penghuni Baluran juga mudah ditemui saat musim kemarau. Kondisi kekeringan membuat mereka cenderung untuk berkumpul di sumber air yang sengaja disediakan oleh pihak Taman Nasional.

Yang paling mudah ditemui tentu saja adalah segerombolan monyet ekor panjang yang sudah terhabituasi oleh kehadiran manusia. Monyet jenis ini memang termasuk jenis monyet yang paling adaptif, bahkan cenderung ketergantungan terhadap manusia.

Selain itu ada juga lutung, rusa, kerbau yang katanya banteng, dan burung kangkareng yang sangat khas ketika terbang. Seandainya ada segerombolan gajah yang berlarian di tengah padang savana, sepertinya suasana Afrika benar benar terwakili 100%.

DSC_0066

DSC_0075

Berhubung hari sudah malam, kami memutuskan untuk menginap di salah satu cottage yang disediakan di pantai Bama. Kesenangan di waktu malam tidak berhenti hanya berdiam di dalam cottage. Om Yulius mengajak kami keluar untuk bersafari malam dari Bama ke savana Bekol.

Bukan ide yang buruk. Ternyata suasana malam di Baluran masih menyajikan keunikan dari satwa nokturnal. Setidaknya kami menemukan musang yang sedang berjalan jalan di savana dan gerombolan kerbau yang entah sedang apa. Hal yang membuat saya merasa lucu adalah melihat si supir menutup rapat jendela karena takut jika tiba tiba ada harimau yang datang menyergap dari samping. Baiklah.

_SAM6094

Menyambut pagi adalah hal yang paling menyenangkan. Pemandangan matahari terbit datang tepat di seberang cottage. Begitu jelas di setiap detiknya hingga meninggi di atas cakrawala. Membuat saya terkadang berpikir untuk berbagi apa yang saya lihat dengan seseorang yang istimewa.

Sayangnya, tak ada seseorang di samping saya. Mungkin suatu saat nanti.

sunrise in baluran

Keseruan kami di Baluran harus berakhir ketika pagi beranjak. Saya harus kembali ke Surabaya, lalu pulang kembali ke Bandung. Om dan tante Yulius masih ada satu hari lagi untuk menikmati Banyuwangi sebelum mereka benar benar kembali ke Jakarta.

Di gerbang Baluran akhirnya kami berpisah. Dan saya kembali berkelana seorang diri.

One comment

  1. ydy · Oktober 29, 2015

    Asyik ya, bisa jalan2 terus. Sukses..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s