Ijen, Si Api Biru Yang Menari Dalam Kegelapan

tintin di kawah ijen

Ijen sebenarnya tidak termasuk ke dalam rencana utama, tapi rugi rasanya jika saya tidak menyambanginya. Bule bule dari jauh saja sepertinya tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa melihat pemandangan si api biru yang berkobar sepanjang malam di kawah Ijen. Maka berbeloklah rencana awal yang tadinya hendak mengunjungi Baluran terlebih dahulu. Sebelum negara api menyerang.

Saya tidak membuat itinery yang spesifik mengenai apa yang akan saya lakukan. Hanya garis besar perjalanan dalam benak supaya saya tidak jauh menyasar dari target lokasi yang ingin dicapai. Sialnya, saya tidak terlalu memperhatikan peta. Begitu di Surabaya saya baru tahu bahwa jarak antara Surabaya-Ijen maupun Surabaya-Baluran membutuhkan waktu tempuh yang tidak sebentar. Awalnya saya mengira hanya 2-3 jam saja, tapi ternyata bisa setengah hari untuk sampai ke sana.

Saya bahkan harus tawar menawar tarif ojek yang hendak mengantar dari Wonosari ke Ijen. Besarannya terbilang mahal karena jaraknya juga memang lumayan jauh sekitar 70km. Hitung saja tarifnya 2rb rupiah/km. Mau gimana lagi, konsekuensi kalau kemalaman di jalan. Tak ada transportasi alternatif jika hari sudah mulai memasuki malam.

Pemandangan di sepanjang jalan Wonosari-Sempol-Paltuding sebenarnya cukup menarik untuk dinikmati. Sayangnya tidak begitu menarik jika sudah gelap. Justru perasaan was was bila ada kejadian yang tak diinginkan. Jalanan begitu sepi dan jauh dari kehidupan masyarakat.

Setelah satu setengah jam perjalanan, akhirnya saya tiba di pos masuk Paltuding. Berdasarkan aturan yang berlaku, pendakian menuju kawah Ijen baru dibuka pada pukul satu malam. Alasannya sih agar lebih mudah melakukan evakuasi bila terjadi sesuatu dan meminimalisir aktivitas wisatawan berlama lama/ berkemah di sekitar lokasi kawah. Berbahaya.

Berhubung saya tiba di lokasi sekitar jam 8 malam, maka saya memutuskan untuk menggunakan sisa waktu sebelum pendakian dengan tidur di warung lesehan. Hitung hitung meluruskan punggung.

Menjelang pukul 00, suasana di pos Paltuding mulai ramai. Ternyata sudah banyak pengunjung yang berdatangan. Bahkan di warung juga sudah banyak orang yang duduk duduk sekedar menghangatkan diri di depan perapian. Suhu di Ijen memang lumayan dingin, saya pun ikut ikutan duduk di depan perapian.

Sambil menghangatkan diri barulah kami berbincang bincang saling memperkenalkan diri dan asal. Waktu itu saya berkenalan dengan om Yulius dan tante Vera, sepasang suami istri dari Jakarta. Lalu ada juga Pak Slamet, polhutnya Ijen.

Dengan Pak Slamet sendiri sebenarnya saya sudah kenal saat baru sampai di Paltuding. Karena beliau memperkenalkan diri sebagai Polhut, saya tak sungkan melaporkan kejadian kebakaran lahan yang saya lihat di jalan yang saya lalui di antara Sempol-Paltuding. Mendengar laporan tersebut, beliau langsung bereaksi untuk mengecek lokasi kebakaran. Setelah saya tanya lagi, beliau mengatakan situasi titik api sudah lumayan aman terkendali.

Entah bagaimana ceritanya, pada saat pendakian dibuka kami, om Yulius, tante Vera dan Pak Slamet akhirnya jalan bareng bareng menuju kawah Ijen. Dengan jarak menuju kawah yang hanya 3 km, dan medan jalur yang tidak terlalu curam, buat saya pribadi sebenarnya bisa ditempuh dengan waktu 1 jam. Tapi saya berusaha untuk menahan ego cepat cepat sampai, dan memilih untuk menemani tante Vera yang tampak kelelahan. Saya seperti anak baik yang menemani emaknya jalan jalan naik gunung.

Setelah 3 jam untuk 3 km, akhirnya kami sampai juga di bibir kawah. Dari ketinggian di bibir kawah yang lumayan wow, si api biru terlihat samar tersapu oleh asap belerang. Pak Slamet mengajak saya dan om Yulius untuk turun melihat api biru dari dekat. Sedangkan tante Vera memutuskan untuk menunggu saja sambil beristirahat.

Sisa waktu kami tidak cukup banyak, hanya ada satu jam tersisa sebelum fajar. Jika cahaya sudah cukup terang, si api biru akan lenyap dari pandangan. Kami bergerak turun dengan cepat dipandu oleh Pak Slamet yang sudah cukup terlatih. Oia dulu sebelum beliau menjadi petugas Polhut, beliau adalah pengangkut belerang yang sehari bisa dapat 100kg tanggungan.

Dari jarak sekitar 20 meter, barulah saya bisa melihat jelas rupa si api biru.

api biru ijen

kawah ijen

Pokoknya api biru Ijen beda banget sama api biru kompor Quantum, api biru las karbit, apalagi api PON, Olimpiade, api kapal, jauh banget bedanya. Kalau pernah nonton film Lord of the Ring, jadi keingetan untuk buang cincin. Terus klo keingetan dia, jadi inget untuk buang cincin tunangan (mulai drama).

Menjelang pukul 5, suasana di sekitar kawah Ijen mulai tampak terang. Api biru mulai menghilang digantikan panorama kawah Ijen yang tidak kalah ciamik. Bibir kawah yang mengelilingi tampak seperti benteng kokoh. Danau kawah yang kehijauan, langit yang membiru, tebing tebing yang keputihan.

kawah ijen 2015

kawah ijen 2015

Jarak tiga kilometer mencapai kawah Ijen bukan lah apa apa dibandingkan dengan segala panorama yang disajikan. Dalam perjalanan pulang menuju pos Paltuding, hamparan gunung menyajikan pagi yang berbeda untuk melangkah pulang.

DSC_0054

Terima kasih yang amat spesial kepada om Yulius dan tante Vera, serta pak Slamet yang mengisi perjalanan menuju kawah Ijen. Entah bagaimana, ternyata ada orang yang lebih garing dibandingkan saya, namanya Pak Slamet. Seorang polhut dari kawah ijen, garing namun menghibur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s