Menuju Timur

IMG_20150922_091310

Di hari sebelumnya saya beristirahat sejenak di Bakeology, Cikajang. Sangat menyenangkan bisa mampir di sana, selain jamuan hangat dari tuan rumah, saya juga dibekali sebungkus keripik kentang yang amat sangat berguna menemani perjalanan panjang menuju Surabaya.

Bayangkan, dari Cikajang menuju Bandung kurang lebih saya menghabiskan waktu perjalanan sekitar 4 jam. Di Bandung, waktu saya habis 1 jam. Belum ditambah waktu waktu lainnya seperti nongkrong dulu untuk minum kopi gratis di Garasi Merdesa dan salah naik angkot. Untung untung saja saya tidak terlambat di stasiun. Setibanya di stasiun, kereta Mutiara Selatan sudah berdiri gagah menanti penumpangnya yang ganteng.

Perjalanan panjang menuju Surabaya memang sangat menyiksa. Terutama perjalanan di dalam elf Cikajang yang amat sempit dan padat penumpang. Mungkin ini adalah salah satu siksaan duniawi sebelum masuk liang lahat. Jika saya mati nanti lebih baik dikubur saja daripada di-elf-kan.

Di dalam kereta juga saya tidak bisa tidur dengan nyaman. Sedikit sedikit saya terbangun karena sesuatu hal yang menganggu. Seperti pedagang nasi ayam lima ribu (dengan cengkok khas) dan pedagang asongan klantink mas klantink (dengan cengkok khas pula). Eh pedagang macam begitu sudah dilarang ding masuk kereta, hehehe. Perjalanan malam itu rasanya hampa, tak ada hiburan pemandangan di balik jendela yang penuh panorama gunung dan persawahan. Hanya gelap dan gelap dan penumpang lelaki di depan saya (berharap wanita yang datang duda).

IMG_20150923_164208

Walau begitu, tiket kereta kali ini patut saya syukuri. Saya mendapatkan tiket promo ultah KAI dengan tarif 70rb untuk semua rute. Apalagi untuk rute panjang Bandung-Surabaya, terhitung murah sangat. Coba bayangkan, berapa ribu nyawa yang dikorbankan untuk membangun jalur kereta pada saat jaman Daendels. Dan sekarang saya membayarnya hanya dengan 70rb. Terlalu berlebihan, baiklah tak usah dibayangkan.

Di dalam kereta saya berusaha membuat kontak dengan relasi yang saya kenal di Surabaya. Relasi yang sangat baik karena dia menawarkan jemputan dari stasiun dan mengantar ke terminal bus. Padahal saya belum pernah bertemu muka dengannya. Perkenalan saya dengannya hanyalah percakapan pada layar. Tapi memang sebaiknya pertemanan itu harus disertai dengan peraduan mata, bukan hiasan rangkaian kata.

Setibanya di Surabaya, dia benar benar menjemput saya dan mengajak berkeliling sebagian kota Surabaya di pagi hari. Buat saya Surabaya jauh berbeda dibandingkan dengan Bandung. Jalanan di Surabaya lebar lebar dan bersih. Sepertinya memang Bu Risma bekerja sangat baik untuk membenahi kotanya.

Walau begitu, ternyata teman saya tidak sependapat. Ia merasa tidak senang dengan keputusan Risma yang telah menutup lokalisasi Dolly. Menurutnya, penutupan lokalisasi Dolly menyulitkannya untuk mendata dan meminimalisir penyebaran penyakit HIV/AIDS. Usut punya usut ternyata dia aktif dalam penanganan transgender dan OHIDA.

Oia saya lupa bilang, dia perempuan. Tulen. Sudah saya cek, tidak ada jakunnya.

Hal yang membuat saya lebih kaget, dia mengatakan bahwa orang dengan perawakan seperti saya adalah seleranya kaum waria. Kurus, tinggi, putih dan berkacamata. Sayangnya, saya tidak bisa membalas selera itu. Saya apreasiasi jika memang ada waria yang suka, tapi maaf hati saya memang belum ada yang punya. Eh.

Saya tidak antipati kok dengan LGBTQ, as long as they respect me as straight and i respect them as what they choose to be.

Sebelum ke terminal saya singgah dulu di kosannya yang tidak begitu jauh dari terminal bus Bungurasih untuk beristirahat dan menikmati sarapan pagi. Di kosannya itu kami berdiskusi mengenai kehidupan waria yang banyak dipandang orang sebelah mata. Wajar sih jika awam memandang mereka sinis, mungkin awam bingung menentukan sikap bila berhadapan dengan mereka. Apakah lebih mengedepankan logika, atau perasaan. Apakah kencing di toilet pria, atau di toilet wanita. Bingung kan.

sumber: di sini

Jika ada kesempatan, dia berniat mengajak saya untuk mampir di tempat biasanya teman temannya berkumpul. Boleh sih, mungkin di kesempatan nanti.

Bersambung menuju postingan berikutnya.

5 comments

  1. linschque · Oktober 5, 2015

    tema tulisannya enggak seperti biasanya, ya (walaupun sebenarnya yang biasanya juga enggak biasa, sih). tapi saya setuju soal Dolly. Akibatnya bisa semakin berdampak luas, salah satunya yang baru2 ini didengar, peningkatan PMS (penyakit menular seksual) di kalangan ibu rumah tangga.

    • Ismail Agung · Oktober 5, 2015

      emang biasanya temanya apa ya? hehehe
      pro kontra ya. klo ga ditutup merajalela, klo ditutup ternyata merajalele juga akhirnya. Malah sekarang prostitusinya sendiri sudah masuk ranah kampus. fried chicken tak segurih Academy chicken :p

      • linschque · Oktober 5, 2015

        Hmm.. yg soal Dolly ini sudah pernah didiskusikan oleh yang ahli,. Tapi ya sudah terjadi, jadi tinggal penggiatnya (seperti mbak aktivis teman Anda) yang harus kerja ekstra.

      • Ismail Agung · Oktober 5, 2015

        sulit ya ternyata.. semoga teman saya ga bosan untuk berusaha menolong

      • linschque · Oktober 6, 2015

        Sulit, ya, sangat. Apresiasi untuk aktivis sosial (apapun), pekerjaan yang enggak mainstream.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s