Secangkir Kopi Untuk Owa Jawa (sebagian cerita dari Pekalongan)

image

Selesai dari Info Pet Expo di BSD, awalnya saya berencana untuk langsung pulang ke bandung dan bersiap untuk perjalanan berikutnya ke Garut. Akan tetapi sepertinya sudah jalan takdir yang mengharuskan saya berbelok ke Pekalongan. Kolega saya di IAR harus pergi ke Pekalongan untuk memberikan sebuah materi tentang pengamatan satwa nokturnal.

Usut punya usut, kegiatan yang punya nama Pelatihan Metode Pengamatan Primata yang digagas oleh rekan rekan UGM ternyata berlokasi di Petungkriyono.

Mungkin sebuah kebetulan yang tidak disengaja. Seminggu sebelumnya, ketika saya sedang nongkrong di garasi merdesa kami membahas tentang kopi owa. Karena rasa penasaran apakah kopi owa itu sama dengan kopi luwak maka saya cari tahu sama om, dan kemudian googling mengarahkan saya pada sebuah liputan oleh kompas tv Coffee Story. Rasa penasaran  tersebut sedikit terjawab.

Berhubung kolega saya mau pergi ke sana, secara inisiatif saya menawarkan diri untuk ikut. Anggap saja hiburan bagi pengangguran dengan uang sisa gaji bulan kemarin. Yang pasti, saya ingin mendapatkan informasi secara langsung mengenai kopi, owa jawa, hutan dan satwa lainnya yang hidup di Petungkriyono.

Di acara pelatihan ini saya bisa dikatakan sebagai orang asing yang ikut numpang tidur makan mandi gratis. Saya tidak yakin jika nama saya tercantum sebagai peserta yang mendaftar ikut kegiatan. Meski di akhir kegiatan, saya malah dikasih sertifikat keikutsertaan.

Pelatihan pengamatan Primata bukanlah fokus utama saya. Saya sudah cukup expert tua untuk hal seperti itu. Biarkan yang muda saja yang belajar. Yang menjadi minat saya adalah jelajah hutan Petungkriyono dan kopinya.

Beruntung sekali, mas Arief Setiawan selaku project manager di sana punya set barista yang cukup lengkap. Dan saya dipersilakan sepuas hati meracik kopi dengan jenis, dan teknik apapun. Diberi kesempatan seperti itu, saya jadi peminum kopi aktif. Berbagai metode dari perlengkapan yang ada saya coba.

Aeropress, v60, v69, Vietnam drip, tubruk, single origin, blend, bahkan grinder manual yang bikin pegel tangan saya coba.

Lidah saya memang bukan pengecap yang baik. Meski begitu saya sekarang sudah bisa membedakan mana kopi Robusta dan mana kopi Arabica. Soal rasa sepertinya belum tentu sama dengan selera orang lain. Yang pasti, efek kopi gratis bikin saya melek sampai jam setengah dua pagi sendirian.

Selama 3 hari pengamatan di Petungkriyono, saya tidak bisa berjumpa dengan owa jawa. Tampaknya bukan hari yang baik buat saya. Tapi yang justru membuat saya takjub adalah pertemuan saya dengan Surili (Presbytis comata) atau masyarakat sana biasa sebut dengan nama Rekrekan. Setengah tidak percaya, surili di Petungkriyono memiliki morfologi warna yang cenderung gelap. Sekilas malah terlihat seperti Lutung jika diamati dari belakang.

Kenapa warna bulu (rambut) mereka bisa lebih gelap? Apakah dulu nenek moyang mereka kalah main gaplek dan kena coreng arang. Atau dulu nenek moyang mereka klo masak pake hawu, jadi mehong. Bisa jadi.

Untuk keberadaan owa jawa sendiri di Petungkriyono bisa dikatakan jumlah mereka lumayan cukup baik. Berdasarkan pengamatan suara “morning call”, terhitung ada 10 grup yang aktif menyapa hari. Dari jam 6 pagi hingga 8 mereka silih berganti bersahut sahutan. Sebuah pagi yang menyenangkan mendengar nyanyian mereka ditemani secangkir kopi khas Petungkriyono.

Jika suatu hari ada yang bertanya,
“dimana tempat asyik buat ngopi sambil mendengarkan nyanyian Owa Jawa?”

Saya akan jawab, Petungkriyono.

Sebenarnya banyak tempat lain dimana owa jawa hidup dan kita bisa dengan santai minum kopi mendengarkan mereka bernyanyi. Tapi hanya di Petungkriyono lah owa jawa dan kopi hidup berdampingan, di hutan yang sama

Tidak seperti di kebun kopi lainnya, kebun kopi Petungkriyono justru tumbuh di dalam hutan. Kopi Petungkriyono sudah ditanam sejak jaman Belanda atau tiga generasi sebelumnya. Sayangnya, kopi bukanlah sumber mata pencaharian utama bagi masyarakat desa. Tanaman kopi sengaja dibiarkan tak terurus sehingga tumbuh tinggi di bawah naungan hutan dimana owa jawa justru hidup di atasnya.

Masa panen yang setahun sekali dan akses pengangkutan hasil kopi yang menyita biaya menjadi salah satu alasan kenapa kopi Petungkriyono bukanlah komoditi utama. Padahal secara kualitas, kopi Petungkriyono punya nilai rasa yang patut diperhitungkan bagi pecinta kopi.

Pada mulanya, kopi di hutan Petungkriyono menjadi kekhawatiran karena dapat mengancam struktur vegetasi hutan alami habitat owa. Alih alih menjadi ancaman, perdamaian dikibarkan dan justru mengubah kopi sebagai media untuk membantu menyelamatkan owa jawa melalui produk kopi owa. Disamping membantu owa, sudah barang tentu kopi owa turut berperan dalam sendi ekonomi masyarakat Petungkriyono.

Dari sini akhirnya saya paham, kopi owa tidak sama dengan kopi luwak. Kopi owa tidak berasal dari feses owa, tapi tumbuh di hutan bersama owa.

Oia, kopi luwak Petungkriyono juga ada. Dan dijamin memenuhi kaidah Animal Welfare karena berasal dari luwak liar.

Di hari terakhir sebelum pulang, saya menyempatkan diri untuk membawa oleh oleh biji kopi Robusta yang siap roasting, kaos owa, dan kenangan manis wajahmu sebiru Jose Mourinho. Hehehe.

Secangkir kopi untuk Owa Jawa ( a cup of coffee for javan gibbon) #petungkriyono #javangibbon #arabica #robusta

A photo posted by Rusma Dipraja (@rusmadipraja) on

Penasaran dengan kopi owa? Main mainlah ke Petungkriyono. Dan cobalah menikmati pagi dengan secangkir kopi bersama nyanyian owa jawa.

Sidenote : sambil menunggu kereta tiba menuju bandung, saya menyempatkan diri untuk jalan jalan di kota Pekalongan (sendirian). Niatnya mau mencicipi kopi tahlil yang terkenal itu, tapi gagal karena kopi tahlil tutup lebih cepat karena habis.
Mungkin penampilan saya seperti anak hilang, jadi ada yang dengan baik hati memberi tumpangan motor untuk ikut jalan jalan di sekitar Pekalongan, disisipi cerita tentang owa. Namanya Aji, mungkin dia kasihan lihat saya jalan kaki dari alun alun ke stasiun (4km).

SAMSUNG CSC

8 comments

  1. oki 05 · September 22, 2015

    Akii jadi hayang ka ditu ki nyobaan kopina jigana mantaap

    • Ismail Agung · September 22, 2015

      Jig ulin kaditu.. Ngopi sing kembung jeung Owa wkwkwk

  2. Euisry Noor · September 22, 2015

    Baru tahu ada kopi owa sama kopi tahlil. Kalau udahan travelingnya bawa kopinya😀.

    • Ismail Agung · September 22, 2015

      Nanti merapat saja ke garasi merdesa, bisa icip icip sesuka hati riang gembira

    • Ismail Agung · Oktober 5, 2015

      mampir ke garasi merdesa euis. kopinya sudah mendarat di sana.

  3. kopi radix hpai · September 23, 2015

    wah, mantab tuh gan

  4. Nurul Inayah · September 28, 2015

    saya tinggal nggak jauh dari situ, tapi baru minggu kemarin melihat Petungkriono yang sudah baru (terkenal). tahu tentang kopi owa juga pas nonton coffee story. duh duh anak muda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s