Narso

Narso. Sebut saja dia begitu.

Di akhir juli lalu saya mengantarnya pulang. Sama sama kami naik bis ke Wonosobo dari Cicaheum. Tiba di Wonosobo, saya berbelok ke Dieng, sedangkan ia melanjutkan ke Banyumas.

Awal perkenalan saya dengan Narso sendiri juga lumayan sudah lama, mungkin sekitar bulan februari lah. Waktu itu dia numpang tidur di saung yang ada di jalur pengamatan owa. Sempet sih agak saya galakin terkait kegiatan dia yang tidak biasa dan kayaknya bakal lama serta perlu pengawasan petugas. Saya suruh dia untuk minta ijin secara resmi ke petugas wisata supaya keberadaannya diketahui.

Oia, soal kegiatan, Narso ini bisa dikatakan backpacker sejati, tapi niatnya bukan jalan jalan. Apalagi foto foto narsis (Narso tapi ga narsis) pake kertas bertuliskan Puncak Gunung Kembar 36 dpd (buat yang ngerti aja). Bagaimana dia bisa terdampar di Gunung Puntang, menurut apa yang diceritakannya sih bermula dari sebuah mimpi.

Mungkin isi mimpinya tuh kayak gini,

“Hei Kisanak! Pergilah engkau mengembara ke barat. Bertapalah di setiap batu, pohon dan air terjun.” ujar kakek tua berambut putih yang memakai pakaian serba putih dan senal eger.

Begitu terbangun, Narso merenungi makna mimpinya. Lalu dengan keteguhan hati, dia membulatkan tekad untuk pergi mengembara seperti apa yang dikatakan oleh mimpi semalam. Setelah berpamitan, Narso akhirnya meninggalkan kampung halaman dengan uang saku seadanya.

Berdasarkan tuturnya, dia sudah ada satu tahun berkelana dan tak ada kabar sama sekali kepada keluarganya di kampung. Sebenarnya dia menyimpan no kontak keluarganya, sayangnya no hape yang dituliskannya di selembar kertas hancur ikut tercuci di dalam saku celana.Tragis.

Destinasi akhir memang mempertemukan Narso dengan saya di Gunung Puntang. Kurang lebih selama 5 bulan, dia yang pada mulanya hanya mengikuti tirakat, bersemedi dan berpuasa mulai ikut terlibat dalam kegiatan memantau owa. Pernah pada suatu kesempatan dia menghilang tanpa kabar dan diketahui keberadaannya selama 5 hari. Ternyata dia sedang bertapa di puncak. Tapi hal yang lebih mengejutkan adalah kabar yang dibawa olehnya ketika turun dan bertemu tim lapangan.

“Si Moni udah nyampe puncak ya..?” tanya dia dengan polosnya.

Jelas saja pertanyaannya membuat kaget, karena semua owa yang sedang dipantau kondisinya aman terkendali. Dan tentu saja kami tidak meragukan apa yang dia lihat. Dia bisa membedakan mana itu owa, monyet, lutung, surili, bahkan makhluk halus sekalipun.

Dia kemudian menceritakan lebih detail bagaimana owa yang ia temui itu berperilaku.

Hard to say to believe. Owa yang ia lihat bukanlah Moni, tetapi itu adalah Sadewa yang sudah menghilang sejak 2 tahun lalu. Secara perawakan memang Moni dan Sadewa memiliki warna bulu yang lebih cerah dibandingkan dengan owa owa lainnya yang abu kusam. Dan yang lebih meyakinkan kami adalah bagaimana reaksi si owa ketika berhadapan dengan Narso. Dia turun mendekati Narso. Persis seperti tingkah laku Sadewa yang terlalu kepedean.

Mendapat laporan seperti itu, tim lantas segera bergerak mencari sisa sisa jejak yang ditinggalkan Sadewa. Syukur syukur bertemu dengannya. Sayangnya, tak ada penampakan yang muncul dari Sadewa. Mungkin butuh indera keenam yang dimiliki si mas Narso untuk bisa bertemu.

Selain kemampuan bertahan hidup di alam yang patut diapresiasi, ternyata kemampuannya untuk melihat makhluk Astral juga bisa dibilang luar biasa. Beberapa kali Narso menunjukkan dimana posisi makhluk Astral sedang nongkrong di sekitar area basecamp. Karena saya tidak memegang teguh tentang Astral, apa yang saya lihat hanyalah hamparan pohon di kegelapan.

Terkadang juga Narso mendapat bisikan ghaib. Bisikan yang cukup membantu karena waktu itu dia mendapat bisikan bahwa ada wisatawan nakal yang masuk menerobos ke area kandang owa. Setelah mendapat bisikan itu, Narso langsung bergegas pergi ke area kandang. Padahal dia baru saja tiba di basecamp.

Ternyata bisikannya itu benar adanya. Walaupun bisikannya telat, setidaknya ia telah mencegah lebih banyak orang untuk berbuat nakal.

Well, finally we have to say good bye.

Tengkyu mas bro atas bantuannya selama ini. Semoga engkau sampai di rumah dengan selamat. I bet you never forget the time and moment you had in here.

DSC_0008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s