Lanjutan dari Surat terbuka untuk Musang Lovers

Wew.. tetiba saja blog saya jadi ramai gegara postingan ladu (lama) yang jadi rame. Padahal itu postingan pertama kali terbit tuh Oktober 2014 lalu. Hampir 10 bulan kemudian baru terbaca oleh pihak terkait yang saya tuju.

Rada telat sih emang jawabannya, tapi setidaknya ada perhatian dari teman teman yang mengatasnamakan pecinta musang terhadap postingan yang sudah saya tulis.

Saya memang mengharapkan ada tanggapan yang positif dari mereka yang memang mengkultuskan dirinya sebagai pecinta musang ataupun juga dari mereka yang sepaham (atau tepatnya gagal paham) oleh subtagline “melestarikan” yang diusung oleh para kolega komunitas musang. Inilah poin penting yang saya pertanyakan mengenai konsep lestari apa yang hendak dibawa. Jelas bagi saya bahwa sekedar memelihara kemudian mengawinkannya agar mereka beranak pinak tidak masuk dalam konsep lestari yang saya pelajari di bangku sekolah kuliah pekerjaan hingga kehidupan sehari hari. Saya takutnya jika konsep lestari yang sederhana ini adalah acuannya, maka para peternak sapi, kambing, ayam dan hewan ternak lainnya bisa dengan santai mengatakan bahwa mereka juga sedang “melestarikan”. Toh para peternak juga memelihara binatangnya, dikasih makan kemudian dikawinkan hingga akhirnya bisa menjadi profit kalau dijual. Konsep lestari yang saya pelajari memang lebih kompleks, namun bukan tidak mungkin bagi kita semua untuk melakukannya.

Saya juga memahami kegelisahan rekan rekan pecinta musang yang berusaha melindungi/memelihara si musang dari tangan pemburu yang membunuh musang karena dianggap hama. Tapi hal ini justru memunculkan kekhawatiran baru yang lebih pelik menciptakan rantai setan yang lebih kuat, yaitu perdagangan satwa yang mengambil langsung dari alam. Dan hal ini memang terjadi atau lebih tepatnya tidak ada yang bisa mengontrol bahwa musang musang yang diperjualbelikan adalah hasil breeding yang diklaim sukses oleh teman teman pecinta. Tidak ada sertifikasi resmi yang bisa menyatakan bahwa musang yang anda pelihara bukan rampasan dari alam. Saya kasihan jika ada pecinta pemula yang terjerumus masuk ke dalam rantai setan tersebut dikarenakan pemahaman yang kurang sehingga asal asalan memelihara musang.

Dan yang lebih sedih lagi adalah perlakuan pemeliharaan teman teman pecinta yang menurut saya jauh dari kaidah kesejahteraan satwa. Ya saya paham, tidak semua pemelihara memperlakukan kesayangannya dengan sembrono. Namun jika dia sudah termasuk sebagai anggota komunitas yang aktif, seharusnya dia paham. Atau setidaknya ada standar baku yang menjadi guideline bagi semua member pecinta untuk memperlakukan si musang dengan sebaikbaiknya. Apa yang harus dilakukan dan apa yang sebaiknya jangan dilakukan kepada si musang. Jika belum ada guideline yang baku, mungkin bisa dibikin semacam simposium musang seluruh indonesia dan asia tenggara untuk membuatnya. Leh uga tuh. Pokoknya jangan sampai ada lagi cerita si musang yang obesitas karena dikasih makan mie instan. Ini jelas konyol untuk saya pahami sebagai bentuk pelestarian.

Baiklah, saya jadi terkesan menyalahkan segala tindakan yang dilakukan oleh teman teman pecinta. Bukan menyalahkan sejatinya, anggap saja saya adalah fraksi oposisi yang menilai setiap kebijakan yang kaum pecinta buat. Anggap saja saya adalah social control. Atau biar lebih keren anggap saja saya kritikus. Dan saya akan tetap ada pada posisi yang berseberangan dengan kalian wahai pecinta musang. Ini penting loh, klo ga ada orang seperti saya, nanti kalian para pecinta kebablasan karena merasa semua tindakan anda benar dan ga ada yang negur.

Jangan cuman bisa kritik, apa saran yang bisa anda berikan!

Begitu mungkin komentar eheum sinis anda.

Coba baca setiap komentar yang masuk di postingan tersebut. Saya telah membuka wacana dengan membuat surat terbuka, dan hasilnya tidak hanya kaum pecinta musang saja yang numpang nimbrung. Ada juga rekan rekan yang merasa peduli sama halnya seperti saya yang menilai pada sisi yang berbeda dan telah memberikan masukkan yang menurut saya begitu baik, bijak, dan positif. Tinggal bagaimana dari member pecinta musang menanggapi saran saran yang sudah diberikan. Jika saran yang dituliskan oleh komentator menurut anda adalah masukkan yang bagus, kenapa tidak untuk anda coba lakukan. Jika komentar yang dituliskan hanya serapah (sama seperti beberapa komentar yang ditujukan kepada saya dan semakin membuat saya gagal paham), anggap saja angin lalu.

Jika memang anda tidak suka dengan surat terbuka yang sudah saya buat, silakan balas dengan satu artikel yang benar benar bisa menjawab keresahan hati, kegagalan paham, bahkan mungkin ketidaktahuan saya akan pelestarian yang kalian lakukan wahai pecinta musang.

Segitu aja dari saya. Tadinya mau ditulis dikomen, tapi kepanjangan. Ya udah jadi postingan khusus aja deh..

 

Salam wang.. eh lestari satwa satwaku.

12 comments

  1. nanangrusmana · September 7, 2015

    yah…itulah keuntungannya menulis di blog, suatu saat akan nyampe pada yang dituju…..:)

  2. cacpcuan · November 9, 2015

    gpp biar ga dapet pertamax, ss pemyematan di grup fb http://www.imagebam.com/image/c3a3a9445742979
    tolong diupload mas agung di wpnya biar secara gamblang seorang pendiri dan petinggi organisasi yang lebih mementingkan grup fbnya bisa terlihat oleh yang namanya lovers

  3. brawijayachan · Desember 9

    Saya setuju postingan postingan yg sebelumnya dan ini dari ts mas ismail agung,,,,,saya pernah tanya di instagram tentang musang,,,,tapi saya malahan d keroyok tuh para musang lover,,niat tanya tp di tuduh gw yang memojokan,,,pakek kata kata yg kurang etis juga menutut saya….. Lanjutkan om ismail
    Terimakasih
    Ig: brawijayagabah

  4. toufan · Desember 31

    maap nih sedikit meluruskan ga maksut apa apa
    1.post mas bener bgt soal melestarikan atau apalah itu, tapi inget mas beda kepala beda isi ada sepaham ada juga ngga bner kn??
    2.sya pernah ketemu beberapa orng yg memelihara musang di daerah rumah saya, saya tanya musang itu dapet dari mana?? dan mereka menjawab dari PEMBURU
    pasti udah negative aja nih hawanya pas baca pemburu hahah, iya mereka dapet dari pemburu, mereka membayar sejumlah uang kepada pemburu untuk menyelamatkan musang itu dari santapan para pemburu
    3. bukan ga mau mereka mengembalikan musang pada habitat nya, pasti mau ko mas, tapi sekarang mas pikirin gimana caranya supaya pembangunan berhenti, perkebunan ga usah di luasin lagi biar tempat untuk mereka ada dan mereka ga akan di buru karna nyari makan kelingkungan warga
    4.baca soal aturan pemeliharaan hewan ya mas sebelum bikin postingan, dari hewan biasa, sampe hewan langka, makasih

    • Ismail Agung · Desember 31

      terima kasih atas masukannya tanpa maksud apa apa pada poin 4. eh no hurt feeling bro hehehe aturan pemeliharaan yang mana ya? entar beda orang beda pemahaman lagi.

      bukan saya aja yang musti mikir mas. semuanya juga musti mikir. dan hasilnya dari postingan sebelumnya, akhirnya banyak komen yang masuk yang menurut saya positif. silakan dipilah dipikir yang mana yang bisa jadi solusi atau setidaknya kerangka berpikir melestarikan yang lebih baik.

    • siapasiapadanapaapa · Februari 25

      poin 3. menghentikan pembangunan? bang kalo lo anggap pembangunan salahsatu mengancam kehidupan musang, jangan ditambahin (stop juga) perburuan musang dengan alasan apapun

      poin 4. hewan biasa bisa jadi hewan langka bahkan punah bang kalo dieksploitasi

  5. bukansiapasiapadanbukanapaapa · Januari 25

    menurut saya, komMLI visi misi nya mempunyai pandangan baik..
    hanya oknum nya yg byk salah kaprah..bukan komunitas nya yg salah..tp oknum nya yg banyak gagal paham..

    • Ismail Agung · Februari 2

      Terima kasih masukannya bang.. semoga jadi pencerahan bagi teman teman yang lain

    • siapasiapadanapaapa · Februari 25

      Bukan salah oknum bang, intruksi sosialisasi datang dari induk organisasi. Sedangkan efek dari sosialisasi inilah yang bisa membahayakan kelestarian musang di alam.

      Awalnya musang diburu karena dianggap hama atau untuk dikonsumsi (sudah pasti musang dewasa), sekarang musang baby yang diburu karena dianggap lebih menguntungkan.

      Logika dapet musang dewasa galak jual 100rb pasti susah banget sedangkan jual musang kecil perekor bisa dapet minimal 300rb, 1 indukan bisa punya baby 3 jadi 900rb. Itu yang membuat pemburu beralih dari sekedar membasmi hama atau untuk konsumsi menjadi lebih buruk memburu babynya & hal ini buruk buat keberlangsungan keberadaan musang di sini.

      1 banding 3 bang, 1 indukan ga ada harganya dibanding 3 baby perekor bisa dijual minimal 300rb

  6. Wibowo · Mei 24

    Coba deh buat surat terbuka juga buat pecinta burung murai medan…

    Dan kalo bisa lampirkan data yang ada di alam liar dan yang sudah di ternak/lestarikan…

    Mnrt gw musang sama kaya murai..
    Dulu murai buru.. sekarang sudah punah..
    Dan karna ada pelestarian,murai masih bertahan dengan cara di ternak..

    Murai makan serangga..
    pas di ternak makan pur..

    Musang makan segala nya
    pas di ternak ttp makan buah dan daging

    • siapasiapadanapaapa · Juni 6

      # lampirkan data yang ada di alam liar dan yang sudah di ternak/lestarikan
      J: nah kalian yang punya organisasi malah minta data ke orang lain, sekarang tunjukin mli/p3mi yang katanya pecinta dan pelestari musang punya data ga?

      * paling kalian cuma bisa selfie gendong musang & majang musang mati di grup STUPID LOVERS

      # murai dan musang
      J: ini postingan tentang musang jadi bahas musang aja CUK

  7. Capcus · 21 Days Ago

    Gagal paham semua org yg punya “exotic pet” malah beralasan melestarikan atau melindungi binatang itu.

    Demand and supply! dimana ada demand dan disitu akan ada supply. Semakin banyak org ingin membeli “exotic pet” berati semakin banyak org akan men supply binatang itu.

    Kalian pikir semua binatang yg dijual untuk pencinta binatang itu hasil ternakan? Kalian cari tahu aja sendiri berapa % bayi binatang itu yg hasil ternak dan berapa % bayi binatang yg ditangkap di alamnya setelah ibu binatang itu dibunuh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s