Papang Ulu

Sehabis sahur saya dikagetkan oleh sms dari abah saya yang mengabarkan berita duka tentang berpulangnya Uwa ke rahmatullah. Sungguh saya langsung teringat masa kecil saya yang sempat diasuh oleh beliau.

Setiap kali saya mampir ke rumahnya, Uwa saya selalu menceritakan masa kecil saya yang menyedihkan dan tak terurus. Tapi beliau selalu bersyukur karena hal hal yang terjadi di masa lampau malah menjadikan saya lebih kuat. Satu hal yang selalu beliau ceritakan adalah masa masa ketika saya bermain di pangkuan kakinya dan beliau menyanyikan lagu “papang ulu papang ulu”. Sayangnya saya tak pernah ingat tentang hal itu.

Meskipun kilas ingatan saya tidak begitu kuat tapi ada satu momen di mana saya ditinggal pergi oleh ibu saya dan Uwa saya datang menemani, membawa saya pulang dari Cimindi ke Soreang. Sebuah perjalanan di dalam angkot itulah yang saya ingat, meski samar apa yang terjadi di dalamnya.

Setibanya saya di rumah beliau, saya langsung memeluk kaka kakak sepupu. Mereka menangis memohon maaf atas kesalahan beliau. Seharusnya saya yang meminta maaf dan berterima kasih karena beliau telah menyelamatkan masa kecil saya. Entah apa jadinya jika beliau tak pernah datang menjemput saya.

Saat lebaran saya selalu menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Uwa. Tapi sepertinya lebaran kali ini suasana di rumah Uwa akan jauh lebih sepi. Sepeninggal Uwa, mungkin tak pernah lagi saya mendengarkan nyanyian pengantar bermain sewaktu saya kecil.

 

Selamat tinggal Uwa, selamat jalan.

DSC_0389

One comment

  1. gung, ngiring bela sungkawa. mudah-mudahan almarhum ditampi iman islamna.. aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s