Selingkuh

Juni

Pertengahan tahun sudah tiba. Mungkin bulan ini adalah bulan terbaik untuk kembali bersemangat setelah dua bulan lamanya saya bersembunyi dalam keremangan. Sounds like galau yah, hehehe.. better to skip that.

Baiklah, saya sepertinya sudah lama nggak update perihal dunia per-owa-an. Padahal di April lalu sepasang owa yaitu Robin dan Moni telah dilepasliarkan di Gunung Puntang. Pelepasliaran kali ini memang terasa spesial karena ada Pak Jokowi yang meresmikannya secara teleconference langsung dari Gedung Merdeka, serta disaksikan langsung oleh para delegasi KAA. Kalau boleh sombong, mungkin ini pencapaian yang luar biasa untuk memberikan awareness (penyadartahuan) kepada Pak Presiden bahwa kami (Indonesia) punya sumber daya alam yang harus dijaga. Ga melulu sumber daya minyak yang labil atau batu akik yang lagi asyik.

Membanggakan memang, tapi jujur saja acara pelepasliaran yang melibatkan seremonial cenderung menguras energi yang sangat banyak. Karena banyak hal hal teknis yang harus dipersiapkan, sedangkan tugas utama kami justru menanti begitu seremonial usai.

DSC_0210

Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang dijodohin sama Datuk Maringgih itu loooh

DSC_0196

Simulasi pelepasliaran oleh direktur Perhutani dan staff

Memang, beberapa hari setelah seremonial usai ada banyak hal yang kami hadapi pada Robin dan Moni. Kekhawatiran utama kami pada saat melepasliarkan sepasang owa adalah kemungkinan mereka untuk berpisah dengan pasangannya. Kasus ini seringkali terjadi pada owa yang dilepasliarkan. Padahal salah satu syarat pelepasliaran owa adalah sudah berpasangan atau membentuk keluarga. Syarat ini menjadi poin penting sebagai upaya meningkatkan kemampuan owa untuk beregenerasi.

Kasus owa yang berpisah dari pasangannya ini menjadi hal yang cukup bertentangan tentang kehidupan sosial owa yang selama ini saya ketahui di buku teks. Kehidupan sosial owa dilambangkan sebagai satwa monogamous/monogami atau disebut juga setia kepada pasangannya, tapi yang kami temukan pada owa rehabilitasi yang dilepasliarkan belum tentu menunjukkan perilaku yang sama seperti owa liar pada umumnya.

Bahkan di tempat lain yang tak jauh dari Gunung Puntang, salah satu organisasi yang juga telah melepasliarkan sepasang owa ternyata menemukan kenyataan lain. Sepasang owa yang telah mereka lepaskan pada akhirnya berpisah. Alih alih kembali pada pasangannya, si jantan justru berpasangan dengan owa liar yang justru memberikan dampak positif pada si jantan untuk berperilaku sebagaimana owa sesungguhnya.

Jika saya melihat dengan kacamata manusia, jelas saja saya akan mengatakan bahwa si jantan telah berkhianat atau sebut saja selingkuh. Tapi bagaimana jika si owa bisa menyuarakan hatinya, bisa saja dia mengatakan bahwa rumah tangga yang dibentuk selama rehabilitasi adalah rekayasa akibat campur tangan manusia, bukan cinta sejati dimana kesungguhan hati yang meyakinkannya untuk berbagi kehidupan.

Sampai paragraf ini tiba tiba saya galau. Yang namanya jodoh emang ga selalu harus jalan lurus, bisa jadi dia nongkrong dulu di warung orang lain sebelum akhirnya dia mesen kopi di cafe saya.

Mungkin harus saya sudahi saja tulisan ini sebelum aroma galau kembali merebak. I’ll try to keep update the story of gibbon next time =)

Tchus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s