Soal Kartu Nama

image

Ngomongin soal kartu nama, baru tiga minggu lalu saya dikasih stok kartu nama dari kantor setelah menjalani 2 tahun masa bakti. Agak telat sih, harusnya dari tahun kemarin kantor sudah inisiatif menyediakan kartu nama. But it’s okay than nothing.

Sebenarnya niat bikin kartu nama sendiri juga udah ada dari dulu. Tapi ga terlaksana karena saya labil sih suka menunda nunda hingga akhirnya disabet orang lain *curcol*, saya mah  gitu orangnya.

Tapi setelah membaca postingan teman di
6 Alasan Mengapa Kartu Nama Itu Penting

saya jadi kepikiran kembali untuk bikin kartu nama sendiri. Lagipula siapa yang mau nolak rejeki dibikinin kartu nama gratis oleh

http://kartunama.net/2015/01/dear-blogger-mau-kartu-nama-gratis/

Soal kartu nama, kayaknya kartu nama udah jadi sesuatu yang “so not up to date” semenjak Primus tak lagi menjadi manusia millenium. Lagi pula hal ini dikarenakan perkembangan dunia telepon  yang cenderung menyederhanakan proses mengenal menjadi “Boleh minta no teleponnya?” lalu save di phonebook and probably we forget who’s that name and scroll down all contact to remember.

Yeap, kita memang suka lupa. Gampang melupakan malah. Terus apa hubungannya dengan kartu nama?

Inilah pentingnya kartu nama, apalagi dalam hubungan relasi yang resmi misal terkait dalam pekerjaan atau bisnis.

Kartu nama itu ibarat profil page LinkedIn untuk orang kekinian. Sarana untuk mengenalkan diri dan media supaya orang kenal kamu seperti yang kamu inginkan.
Bahasa kerennya personal branding. Dengan selembar kartu nama, kamu bisa menjelaskan tentang profil diri sepenuh hati jiwa raga sekaligus promosi.

Memang, informasi yang tercantum di kartu nama tidak sebanyak hal hal yang biasa tertulis di profil FB. Sederhana saja, seperti.

Siapa kamu
Ini jelas, informasi mengenai nama kamu atau nama organisasi/perusahaan harus jelas terbaca. Bayangkan saja jika nama yang tercantum adalah nama alias yang sungguh alay terlalu. Pastinya tuh kartu ta sobek sobek. Kecuali nama asli kamu memang seperti alay itu adanya.

Bagaimana menghubungi kamu
No telp, email, dan alamat agar orang mudah mencari kamu. Akun Twitter dan FB juga bisa dicantumkan karena sekarang udah banyak yang contact via medsos. Hindari memberi kartu nama kepada debt collector. Nanti dia bakal gampang nyari kamu.

Keep it simple
Ini soal desain sih. Mungkin biar kerasa beda dibandingkan dengan kartu nama orang lain jadi ukuran kertasnya beda dari standar 8,8×5 cm. Klo mau bikin yang ukurannya A5 boleh saja, cuman saya sarankan sudah termasuk nama calon mempelai *lah itu mah kartu undangan kawin*.

Desain visual juga penting untuk membantu personal branding. Misal kayak saya yang aktif di dunia permonyetan, maka dirasa perlu untuk menyisipkan gambar monyet di dalam kartu nama. Jadi klo lihat gambar monyet, pasti langsung inget sama saya :3
Yang pasti, desain visual jangan terlalu ramai sehingga poin penting yang di atas jadinya tidak terbaca.

Apalagi jaman sekarang kan ada juga orang yang dikasih kartu nama malah difoto terus dimasukkan deh ke data kontak. Jadi usahakanlah untuk menggunakan font yang mudah terbaca.

Berikan dengan senyuman termanis yang kamu punya
Biar berkesan.
Ini ngasih kartu nama buat relasi loh. Bukan bagi bagi stiker pas nyanyi di atas panggung sambil tereak tereak kagak jelas.

Ah segitu aja sih kata saya mah. Kalau dapat rejeki dari kartunama.net mau bikin kartu nama yang ada gambar monyetnya.

Biar bisa dibagi bagikan di atas pohon sambil tereak tereak. Wo u wooooo

Sumber gambar: http://www.youthedesigner.com/graphic-design-resources/35-quality-business-card-design-templates-for-free/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s