Mengayuh

Terakhir kali saya sepedaan di kota Bandung itu sekitar 4 tahun lalu. Tepatnya satu bulan setelah saya di wisuda di bulan Agustus dan kemudian memutuskan untuk mulai merantau di kampung tetangga.

Dua tahun sepulang saya dari perantauan tak lantas membuat saya kembali mengayuh. Sepeda yang biasa saya pakai sudah dijual sama Abah karena rusak akibat tabrakan. Jadi sesudah itu saya lebih sering ngangkot, ngojek, dan numpang klo ada kesempatan untuk main ke Bandung.

Nah akhir pekan kemarin saya lihat sepeda nganggur di rumah abah. Sepeda adik saya. Kebetulan dia sedang tidak di rumah, ikut Abah touring ke Banten.

Berhubung saya ada janji bertemu seseorang, saya pikir kenapa tidak untuk kembali mengayuh sepeda ke Bandung. Lagipula, Bandung di akhir pekan itu menyedihkan bagi pengguna angkot macam saya.

***

4 tahun tidak bersepeda itu ada pengaruhnya. Otot betis terasa berat seperti diikat barbel 2 kilo. Lebih parahnya lagi selangkangan saya seperti sarang semut yang banyak prajuritnya patroli keliling area. Ada yang salah sama jok nya, atau pantat saya yang makin tepos.

Ditambah lagi mentari Bandung yang sedang gigih bagi bagi keringat. Baju saya lumayan bau hangit. Di persimpangan jalan sekitar Alun alun saya sempat berpikir keras untuk mengingat rute yang biasa saya lalui. Walhasil sesekali saya memutar balik sepeda dan sedikit memaksa melalui jalur searah. Ternyata tiga helai uban di kepala saya dampaknya seperti ini toh.

Untungnya saya sampai tepat janji di tempat yang ditentukan. Sebelum cuaca Bandung berubah semakin sendu di malam minggu.

***

Malamnya, usai duduk duduk manis di Ciwalk saya kembali mengayuh. Pulang.

Ternyata cerita sepedahan belum berakhir. Belum sepuluh menit dari Ciwalk, tepatnya di sekitaran biofarma, rantai sepeda putus.

Sialnya, sepanjang jalan biofarma itu termasuk kawasan sepi dan jarang ada tukang tambal ban. Memasang rantai yang putus ternyata tidak mudah hanya dengan mengandalkan tangan kosong. Sepeda terpaksa saya tuntun sambil bertanya ke setiap kios warung pinggir jalan, siapa tahu mereka punya tang yang bisa saya pinjam sebentar.

Warung pertama tidak punya tang. Warung kedua juga sama. Warung ketiga alhamdulillah punya.

Dengan kemampuan mekanik yang seadanya rantai kembali tersambung. Sialnya, baru lima menit jalan rantai putus lagi di sekitar jalan Radjiman.

Lagi lagi saya meminjam tang. Kali ini ke mamang mamang nasi goreng. Kebetulan dia punya gegep.

Saya tak yakin kalau rantai bakal bertahan lama. Apalagi sampai rumah.

Benar saja, baru sampai perempatan Istana Plaza rantai putus untuk ketiga kalinya.

Saya pasrah, lebih baik cari tukang tambal ban yang punya peralatan lengkap. Dan itu memaksa saya untuk berjalan jauh hingga ke perempatan Sudirman – Astana Anyar.

Di perempatan Sudirman kebetulan ada tukang tambal ban yang sehari harinya bertugas malam hari. Karena dia tidak begitu paham soal rantai sepeda, jadi saya kerjakan  sendiri sambil meminjam beberapa peralatannya.

Cukup lama saya di sana. Ada dua jam saya sibuk mengutak atik rantai supaya tersambung dan tidak mudah lepas lagi.

Begitu rantai sudah tersambung dan dijamin kokoh, waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tidak memungkinkan buat saya pulang ke rumah. Saya lupa pinjam kunci rumah. Lagipula saya memang tidak memberi kabar akan pulang.

Akhirnya saya memutuskan untuk ikut nongkrong sama si mamang tambal ban. Sambil ngobrol ngobrol soal apa saja.

Mungkin cuma saya doang yang malam minggunya mojok sama tukang tambal ban. Jomblo pula.

Nanti saya mau cerita ah tentang profil si mamang tambal ban. Soalnya pekerjaan tambal ban cukup lumayan loh prospeknya.

Jam empat pagi saya pamit dan lanjut perjalanan pulang. Alhamdulillah sampai ke rumah tanpa hambatan apapun.

Begitu nyampe kasur, saya langsung tidur. 11 jam.

*pesan moral, klo mau sepedaan jangan ampe malam.

One comment

  1. Kakmoly · Maret 25, 2015

    Huwa udah lama banget ga sepedaannya, sampe 4 tahun -.-

    Aku terakhir kapan, ya? kayaknya sekitar Juni-Juli tahun lalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s