Surat Terbuka Untuk Musang Lovers

DSC_5342

Saya gagal paham sama ajakan “melestarikan” yang menjadi subtagline dari komunitas Musang Lover seperti pada gambar di atas. Kenapa saya gagal paham, karena ajakan melestarikan yang mereka serukan lebih ke ajakan untuk memelihara Musang.

Coba kritisi saya jika memang pendapat saya salah. Apakah dengan memelihara musang a.k.a menjadikan mereka hewan peliharaan akan membuat mereka lebih lestari?

Boleh saya tanyakan kepada anda, darimana anda mendapatkan musang yang anda pelihara itu?

Saya yakin pasti anda mendapatkannya dari alam liar, dari hutan, dari kebun, dari rumah alaminya si musang. Apa anda mendapatkannya dari penangkaran, tolong beritahu saya di mana itu penangkarannya.

Aha, iya benar anda menjadikannya lestari dengan bantuan komunitas sebagai biro jodoh, sehingga mereka bisa beranak pinak. Tepat sekali anda telah berperan untuk melestarikan musang, sayangnya kelestarian musang yang anda pelihara hanya sejauh sekat rumah anda. Padahal kelestarian musang di alamnya adalah kabar gembira bagi pembuat gula aren tradisional.

Coba tanya pembuat gula aren, bagaimana cara menanam pohon aren jika bukan karena bantuan si musang.

Anda mengajak untuk melestarikan Musang, tapi musang yang ingin anda lestarikan anda usik hidupnya yang lestari di alamnya.

Kamu kira si musang cuman bisa berak kopi.

DSC_5325

DSC_5331

Lucu yah, apalagi kalau si musang sampe obesitas seberat 17 kilo.

Dengan bangganya anda bilang memberinya makan buah buahan, telur, nasi dan mie instan. Menyehatkan memang, sekaligus gila.

Eh, sejak kapan obesitas adalah sehat?

 

Sekali lagi, mohon berikan saya pencerahan dan ajaran mengenai konsep “Melestarikan” yang anda serukan. Siapa tahu konsep tersebut bisa menjadi kabar benar benar gembira bagi seluruh musang di Indonesia.

 

Salam hormat,

 

-bukan pecinta kopi luwak-

55 comments

  1. Indonesia in my pocket · Oktober 12, 2014

    Duh kok salah kaprah soal plestarian yah? Aku nggak ngerti orang2 yang piara binatang liar (kecuali adopsi dari sanctuary karena ditelantarkan oleh pemilik sebelumnya) kok bisa bilang mereka sayang binatang yah? Eurgh..

  2. Raras · Oktober 22, 2014

    sekarang sudah banyak di jual belikan di pasar-pasar hewan, kasian ya, semoga ada yang peduli dan bisa menjaga kelestariannya

  3. Biolog · November 3, 2014

    Reblogged this on G.I.M'57 and commented:
    buat yang katanya “pecinta” yang tidak benar-benar “mencintai”

  4. cacpcuan · November 24, 2014

    Efek sosialisasi tanpa edukasi, sebelumnya ancaman cuma dari pemburu & petani sekarang bertambah dari yang ngakunya “pecinta musang” itu sendiri. Awalnya mungkin hanya hilang 1-2 ekor diburu itupun pasti musang dewasa sekarang musang kecilpun jadi sasaran. Di salahsatu grup fb, 1 pedagang bisa menjual sampai dengan belasan ekor musang kecil dalam 1kali pasang iklan di grup tersebut.

    • Ismail Agung · November 29, 2014

      Really!! Ini bisa jadi masalah serius dalam 5 tahun ke depan klo dibiarkan salah edukasi terus menerus. Menyedihkan😦

  5. cacpcuan · November 29, 2014

    Bisa dilihat artikel di grup fb kebiasaan makan yang berubah, nasi menjadi makanan utama. Carnivora makan biji-bijian … ???

    • anonymus · Agustus 6, 2015

      sebenernya musang itu omnivora

  6. Bima awan · Januari 13, 2015

    Halo om cap . Musang itu omnivora dan karnivora . Salah satu jenis musang karnivora adalah musang rase sedangkan pandan , bulan , binturong , dll itu omnivora . Sebaiknya kamu banyak belajar di wikipedia dan lebih memahami lagi .

    Kamu jangan bilang kita tidak melestarikan , sekarang apa yang kmu lakukan saat hewan tsb sudah hampir punah , kamu jangan beranggapan lama lama akan punah kita telah berhasil membreeding 132ekor musang . Dan skg masih bertambah , salah satu usaha kita melestarikan saat musang tsb tidak bisa beranak dengan normal kita dengan dibantunya drh yuke ragunan , dia di cezar seperti manusia . Hal hasil semua selamat . Tlg anda menulis begini karna mencari view visitor mnrt saya . Tidak memikirkan omongan yg anda perbuat .

    Kalau untuk obesitas saya setujuh dengan anda karna saya tidak suka musang gemuk

    Dan satu lagi kita sudah dilegalkan oleh hukum melalu P3MI , hati hati kalau bicara ! Kami bisa tuntut dijalur hukum .
    P3MI adalah wadah pelindung bagi musang lovers , karna untuk membuat sesuatu yang dilegalkan oleh negara tidak boleh menggunakan bahasa asing , karna itu kita tidak menggunakan Musang Lovers tapi kita membuat lagi P3MI (perkumpulan pecinta pelestari musang indonesia) yang legal dari badan hukum dan negara .

    Salam wangi dari saya kordinator lapangan dan pencatatan data breeding diMLI

    • Musangin · Agustus 6, 2015

      Harusnya lebih seimbang antara konservasi pada objek in situ , sementara yang saya lihat dari sudut pandang saya pribadi kebanyakan kata konservasi dari musang tersebut lebih dipraktekan dalam ex situ dimana ” perlindungan ” yang anda maksud mungkin dijadikan hewan peliharaan , sementara sejatinya ex situ haruslah melestarikan juga behaviour alami si hewan tersebut bukan hanya lestari fisiknya saja , coba anda lihat mungkin tanpa ada di tangan keeper dan hanya hukum alam yang menentukan kesuksesan breeding bisa berhasil tanpa sulit sulit mengeluarkan waktu dan lain lain mengenai praktek bedah cecar nyatanya jika dibiarkan di alam saja tanpa di usik mereka sudah bisa berkembang biak dengan alami , maksudku sistem yang sudah sederhana bisa berjalan di alam tidak usah diganggu dengan dibikin lebih repot , jika benar ingin lestari seharunsya dibiarkan di lingkungan in situnya saja si musang tersebut , mengenai praktek cecar dan lain lain itu hanya keribetan yang dibuat anda sendiri karena mengambil si musang tersebut dari alamnya dan jika bukan kata lain , sebenarnya pengambilan si musang tersebut hanya untuk kepentingan pribadi saja rasanya .
      Kata kata diatas tidak saya tujukan untuk menyerang siapapun , mohon maaf bila ada salah kata , kata kata diatas hanya murni opini saja saya dan dalam ruanglingkup online freedom of speech

      • anonymus · Agustus 6, 2015

        iya di alam ditembak mati dimakan
        disini dulu banyak musang sekarang ga ada gara2 ditembak buat dimasak sama orang2

        penangkarannya ada kok

  7. CACPCUAN · Maret 23, 2015

    Berhasil membreeding 132ekor musang? yg ditangkap dari alam untuk diperjualbelikan brp ribu bim, yg meninggal saat dipelihara brp?
    Eloh mau nuntut malah blunder nanti

    • anonymus · Agustus 6, 2015

      yang mati ditembak ada brp juta ?

      • almahran · Agustus 7, 2015

        brp juta endasmu, belajar cara konservasi dari luar sono, ga gini caranya konservasi atau penyelamatan, konservasi tidak untuk di perjual belikan tidak untuk dijadikan bahan mainan tidak untuk di pamer2kan, konservasi itu bagaimana menjaga keseimbangan di alam menggalakan penghentian perburuan liar, tidak ada tujuan untuk benar2 memelihara untuk keperluan pribadi, memelihara yg benar untuk tujuan konservasi itu setelah besar mau tidak mau harus segera di lepaskan di alam liar, di hutan atau di taman nasional itu baru benar

      • komar · Oktober 29, 2015

        Tapi musang saya lebih nyaman tinggal di rumah,karena pagi siang sore dikasih makan

      • ewilianto · Oktober 31, 2015

        Mas @Komar… Musang kalo dialam lebih sejahtera lagi.. Mereka makan kapanpun dia mau… Ga nunggu yang ‘miara” ngasih.. Dan dia bisa milih makanan apapun yg dia suka.. Bukan yang dirimu kasih…

        Musang liar kalo sabtu/minggu abis shubuh tuh sukanya bocan alias bobo cantik.. Bukannya dibikin cantik trus diseret ke acara pamer piaraan atau kontes di mall atau taman2…

  8. CACPCUAN · April 6, 2015

    Kalo berkenan mas agung saya mau posting skrinsut (gambar) dari grup biar hati/pikiran kita terbuka

    • Ismail Agung · April 6, 2015

      boleh silakan, dengan senang hati

      • CACPCUAN · April 23, 2015

        posting gambar gimana caranya mas? bisa dioprek sedikit pengaturannya

  9. Gigi Hilang · Agustus 6, 2015

    Kalau cinta, lepaskanlah…. bawa ke dunianya kembali…….. huuoooohuuuoooooo….

    • madhek · Agustus 6, 2015

      Dibunuh orang didepan mata saya

  10. Maktal · Agustus 6, 2015

    pro kontra mah pasti ada, seperti siang dan malam, jgn cm bs berkomentar aja tanpa bertindak, lanjut trus MLI

  11. Sakti Rahmadian · Agustus 6, 2015

    Menurut saya sih bukan karena komunitas, orang awam, atau yang lain lain… yang harus di pertanyakan lagi adalah, habitat dari si hewan ini yang sudah mulai mengecil… pembukaan lahan baru yang di jadikan perumahan atau pun pabrik, ketidak tahuan orang awam akan peran penting si hewan pada kehidupan kita sehingga menganggap mereka sebagai hama..
    Dan setiap orang pun punya pemahaman yang berbeda beda dalam melestarikan, mungkin dari komunitas berbicara mereka berhasil mengembangbiakan di bandingkan orang awam yang tidak tau apa apa, tapi tidak sedikit juga si hewan banyak yang mati karena orang awam yang menganggap si hewan adalah hama, dan bisa terjadi di tangkap oleh pengepul dan di selamatkan oleh komunitas (karena yang pengepul tau adalah bagaimana cara mereka menyambung hidup mereka sendiri, bukan menyambung hidup si hewan) tapi tidak sedikit juga pengepul yang juga melestarikan si hewan dengan di ternak.. dan ada juga di saat si hewan di lepas ke alam, akan tertangkap lagi kerena adanya pengepul…
    Banyak alasan, dengan situasi kondisi lapangan yang berbeda beda… jadi siapa yang salah??
    Setidaknya kita lihat diri kita terlebih dahulu, apa yang telah kita perbuat untuk alam ini, baru kita ajak orang sekitar kita untuk melestarikannya bersama sama… tanpa merugikan orang lain…

  12. agongs_DAP · Agustus 6, 2015

    Qo’ pd repot bgt siy.??! sejauh ini langkah nyata apa yg anda2 perbuat utk melestarikan hewan tersebut.??! klo mmg blm mampu (gak punya kepedulian) gak usah ksh komen yg aneh2, yg terkesan seperti pahlawan tp gak ada kerja nyatanya.!!! maju terus MLI a.k.a P3MI

  13. Prima · Agustus 6, 2015

    Proses awal sosialisasi impact terbesar adalah naiknya jumlah peminat yg akan menyayangi musang, seiring berjalan ya waktu akan terfilterisasi para musang lovers dan selanjutnya hanya yg benar2 peduli tentang kelestarian hewan asli indonesia yg memiliki manfaat dialam oleh para pelestarinya.

    Langkah kedua setelah pelestari semakin byk jumlahnya, muncul lah para breeder handal yg bisa menyuplai musang2 yg jinak tanpa harus mengambil dr alam.

    Sabar saja semua ada prosesnya, dan tolong kritik kami para anggota MLI/P3MI agar terus berada di track yg tepat .

    Karna dr para kritikuslah kami bisa selalu memperbaiki apa yg kurang dr para pecinta musang.

    Terima kasih kepada mas yg sudah perduli dengan kondisi musang dialam.

    Thx a lot.

    • Bekasi · Agustus 6, 2015

      mantab brooo….

  14. Bekasi · Agustus 6, 2015

    Hadeuuuuuuh, ya melihat dari awal ada kemungkinan bahwa penulis memiliki antipati terhadap Musang, mungkin geli atau takut dengan musang….
    😀😀😀😀
    Piss mas Agung😀
    Mas mampir sini ke Bekasi kita juga sudah membuat balai konservasi Musang, tepatnya daerah Jatiasih…
    kebetulan saya Pecinta Hewan musang, akan tetapi tidak seperti yang di bayangkan pemerhati hewan, kalau di buru akan habis ludes di habitatnya…..
    Justru kami mencoba untuk menghapus paradigma bahwa musang itu hewan santapan ataupun Hama sehingga meresahkan masyarakat.
    Kami juga berlomba di setiap Kota yang ada di Indonesia untuk membuat rumah pelestarian musang lho!
    jadi sama juga kita berlomba dengan pemburu Musang secara tidak langsung😀😀
    Para pecinta Musang sedang membuat Rumah pelestarian musang di setiap Kota yang ada Di Indonesia… Bekasi Sendiri sudah ada 2 tempat konservasi untuk Musang Khususnya… kita bisa kirimkan Foto2 nya…
    ya bisa saja 4-5 tahun kedepan Bekasi sendiri bisa menghasilkan 3-10 ekor musang setiap bulannya… di kalikan kota2 se Indonesia😀
    Hayoooooo…. jadi gagal ngitung kan, bukan gagal paham… hehehehhe
    Kalau untuk Obesitas saya salah satunya juga yang kurang setuju, saya juga pernah memiliki pengalaman pahit dengan musang yang Obesitas…
    Ada bagusnya surat terbuka ini, semoga orang yang awam dengan musang, menjadi lebih mengerti musang😀😀😀
    Salam…
    Good Job Bro (y)

  15. madhek · Agustus 6, 2015

    Paling tidak saya memelihara musang supaya tidak dibunuh orang…
    Saya sudah sering melihat orang ketemu musang langsung dibunuh, apa salahnya sih si musang… kehidupan diluar sana masih blm bersahabat dengan musang2 liar

  16. sarap · Agustus 6, 2015

    Memang suatu hal yg sedikit rancu dan banyak pro dan kontra
    Namun jika di lihat dari sisi negative mungkin memang ada beberapa point yg dapat di angkat dr kasus ini
    Pertama musang memang bukan binatang peliharaan ia adalah hewan liar bukan tempatnya d dalam rumah tapi coba anda pikir apakah dahulu anjing dan kucing bukan hewan liar?

    Yang ke dua anda berkata seolah olah alam adalah tempat yg terbaik untuk hewan berkembang biak ? Ya memang benar jika habitat mereka tidak d jadikan pertambangan,perumahan,mall dan sebagainya. lalu mereka terasingkan di tempat mereka sendiri. Di anggap hama saat masuk ke perkebunan di anggap perusak saat masuk ke perumahan
    Akhirnya mereka d buru d jerat bahkan ada yg di racun. Lalu apa yg anda lakukan setelah melihat kejadian itu ? Cuma jd penonton !!!

    Yg saya lihat para musang lovers hanya ingin berbagi atap dengan hewan yg bernama musang berbagi makanan dan berbagi kehidupan. Tidak sedikit saya melihat teman teman pecinta musang membantu musang yg habitatnya telah di curi memindahkan mereka ke lokasi yg lebih baik atau menciptakan penangkaran di tempat mereka walaupun terkesan seadanya. Setidaknya mereka pernah BERUSAHA walaupun tidak semua menggunakan cara yg kita anggap benar

    Tetapi yang jelas mereka pernah mencoba bukan hanya penonton dan menjadi pahlawan keyboard

  17. muloci · Agustus 6, 2015

    Kritikan anda kami terima tp tolong kasih jg kami saran yg menurut anda terbaik bagi musang apakah anda bisa mengatasi kepunahan tsb?
    Anda jangan hanya bisa kritik saja tp kasih jg solusi jalan keluar yg terbaik.
    Kami communitas sudah bertindak dan sudah mengahasil kan bukti meski blm maksimal dg agenda breeding (program pengawinan) musang
    Selain itu solusi dari anda apa jika agenda communitas yg kami adakan kurang maksimal?

    Kami communitas bukan pemberatas musang dan kamibdi legal kan oleh hukum P3MI induk kami MLI saya adit dari muloci (musang lovers cipanas)

    Jika kami salah tolong di maafkan kami jg manusia yg tak luput dari salah tp kami jg tidal mau di judge seperti itu
    Salam wangi

  18. kobar · Agustus 7, 2015

    Tulisan sampah
    Semua isi tulisannya cuma sampah

  19. wahyu · Agustus 7, 2015

    Gatel ni gw pen jiwir kuping ni ank
    Klo sempet lu dateng ke rumah gw duduk sila nanti gw kasi air bening se gelas trus gw bacain ayat kursi abis lo minum baru gw jelasin apa yang masih membuat lo gagal paham karna sebagian dari musang lover punya jawaban yang pasti tentang pertanyaan lu gak semuanya yang melihara cuma buat gaya2an

  20. Ari kurniawan · Agustus 7, 2015

    Saya mau bertanya. Dan tidak perlu dijawab panjang lebar. Adakah dr 132 ekor hasil breeding bahkan lebih yang dikembalikan ke alamnya ?
    Dan menurut saya cara melestarikannya adalah dengan cara memembiarkannya didalam dan menjaganya dari para pemburu yang hanya menginginkan keuntungan. Dan yang harus dituntut jalur hukum adalah orang-orang yang mengambilnya dari alam untuk mencari keuntungan. Dan untuk bima saya mau bertanya musang anda pertama kali anda pelihara itu dapat darimana? Anda beli, dapat dari hutan langsung atau lainya.

    • bembengbemsq · Agustus 7, 2015

      Yg pasti petani/peternak benci musang karena merusak tanaman/memakan ternak. Sehingga musang jadi musuh.. dan situ bisa apa melihat situasi seperti ini..??

  21. rey · Agustus 7, 2015

    hayo lohh di tuntut sama musang lovers hahaha

  22. lalijiwo · Agustus 7, 2015

    Secara tidak disadari telah melakukan ekploitasi berkedok pecinta satwa.Fromm (1987) menjelaskan adanya karakter manusia dengan modus memiliki dan menjadi. Modus MEMILIKI adalah ajaran kapitalisnya yang mendorong orang untuk memiliki sebanyak mungkin hal yang menjadi kebutuhannya. Kedaulatan alam diabaikan dan manusia bertindak menuruti egonya. Sementara MODUS MENJADI akan menghargai apapun sebagai subjek yang perlu dihargai kedaulatannya. Sebagaimana yang sudah dijalankan oleh tradisi-tradisi masyarakat dengan kearifan lokal.

    BERDAMAILAH DENGAN ALAM
    Biarlah mitos yg berkembang dimasyarakat tetap ada,dengan adanya mitos tersebut kelestarian alam Indonesia akan terjaga. coba banyangkan semisal mitos yg berkembang itu hilang, pasti kelestarian alam Indonesia akan hilang.

    KONSERVASI
    berbicara soal konservasi tidak semudah yg dibayangkan, bukan cuma mengembangbiakkan kemudian dilepas dialam liar. konservasi maknanya jauh sekedar breeding,kl cm breeding udah banyak yang bisa.
    Syarat konservasi :
    1. Tidak bersifat profit oriented (wajib)
    2. Pencatatan/recording jelas.
    3. Ada bukti otentik hasil breedingan
    4.dll (maaf lupa,bs ditanyakan ke BKSDA terdekat)

    Dan perlu dicatat, hewan peliharaan/hasil penangkaran tidak bisa langsung dilepas dialam liar krn perlu waktu lama supaya bisa hidup dialam liar dengan mengajari makan yg ada di alam dan bertahan hidup untuk menghindari hewan predator… (mungkin ada yg mau menambahi)

    INTERAKSI DENGAN MANUSIA
    satwa liar dianggap hama oleh petani/peternak disebabkan oleh makanan dihabitat asli menipis,sehingga akan pergi ke tempat yg banyak makanan. jadi wajar kalau hewan itu akan berdiam disatu tempat untuk jangka waktu lama. dikarenakan banyak makanan, dan kebetulan ada dilahan pertanian/peternakan sehingga dianggap pengganggu penganggu/hama. jadi jgn disalahkan kl ada satwa liar yg dibunuh dan dimakan.

    EDUKASI
    memberikan edukasi ke masyarakat awam memang tidak mudah,dikarenakan mitos yg sudah ada susah dihilangkan. pemberian edukasi tidak hanya sekedar mengenal jenis musang, mengajak untuk pelihara dan breeding saja. disamping itu berilah POSITIF dan NEGATIF dari satwa yg diperkenalkan itu.dan apabila dlm pemberi edukasi paham soal cara mengusir/menangkap satwa liar itu malah ada nilai PLUS, jadi tidak sampai dipukul/dibunuh. alam bukan tanggung jawab komunitas saja, tetapi masyarakat juga perperan untuk melestarikan alam. dengan memberikan tulisan “DILARANG BERBURU” dan peran dan kesadaran masyarakat, insya allah pemburuan satwa liar berkurang.

    TAMBAHAN
    Memelihara Satwa liar adalah kaum minoritas,berilah rasa aman kpd masyalakat apabila memelihara satwa itu. dikarenakan memehara satwa liar dengan mitos yg ada dimasyarakat banyak yg tidak suka dengan satwa tsb.

    maaf kalau terlalu panjang, bukan bermaksud pahlawan keyboard. saya juga pelihara hewan exotic,dan dgn sadar sudah pernah ambil dari alam. dan alhamdulilah ditempat tinggal saya masyarakatnya welcome dengan hewan yg saya pelihara, saya bersyukur masyarakat disini sudah saya beri edukasi dan pinter2 untuk penanganan satwa liar

    jogja

  23. bembengbemsq · Agustus 7, 2015

    Yg pasti petani/peternak benci musang karena merusak tanaman/memakan ternak. Sehingga musang jadi musuh.. dan situ bisa apa melihat situasi seperti ini..??

  24. ndoprtama · Agustus 7, 2015

    BACA <– KESALAHAN PERTAMA PEMERINTAH , kita diajak untuk melestarikan hewan, sedangkan hutan yg habitat hewan itu sendiri, malah di jual belikan untuk lahan penambangan . kemudian hewan terancam habitat dan makanan nya berkurang.. Pemerintah dapat UANG dari izin penambangan …… Sekarang, kita pelihara hewan, kalo gak pake surat izin, ditangkap atau disita bahkan didenda UANG yg nominalnya gak masuk akal ……. kemudian giliran kita mau bikin surat izin pelihara, malah dimintain UANG LAGI !! APA SEMUA KARENA UANG ?!!! bisa disimpulkan, yang salah siapa ? … oke sekarang kita biarkan hewan di habitatnya, TAPI apa daya ? TIDAK TERLIHAT Peduli untuk membantu mengembalikan lahan yg hancur, Gimana ? apa susah ya ? ngajak masyarakat mengadakan acara penanaman pohon setiap tahun paling tidak 1x . sekarang gua tanya, lo pemerintah atau rakyat sipil ? kalo lo rakyat sipil, yaudah diam aja gak usah ngomentar hal yang gak bermanfaat begini . cukup didiskusikan didalam suatu forum komunitas tersebut . MANA DIJAWAB, BISANYA KOMENTAR TAPI GAK PUNYA PENYELESAIAN .

  25. brianmartin · Agustus 7, 2015

    mari kita coba berfikir terbuka dan out of the box! mengapa kita tidak sama-sama melestarikan lingkungan hidup sih Musang, atau melestarikan Habitatnya? karena intinya selama hutan (habitat)-nya terjaga dan rantai makanan tidak terputus tidak ada satupun satwa (musang) yang akan menjadi hama bagi manusia! mayoritas dari kita hanya berfokus pada objek kecil yang terkena dampak! karena saya kira itu hanya menyelesaikan sedikit masalah, karena musuh besar yang sebenarnya masih ada! jika sebuah komunitas memang berjiwa konservasi dan kelestarian, kenapa harus mencintai musang saja? bagaimana dengan orang utan, gajah, harimau, badak, lutung merah, babi hutan dan satwa liar lain? pasti kita akan kerepotan untuk berbagi atap bukan?

  26. Erwin We' · Agustus 7, 2015

    Kalo boleh ikut nimbrung dikit.. niatnya biar diskusinya positif aja..
    MLI atau P3MI emang sempet jadi tren topic dikalangan KONSERVASIONIS.. awalnya karena kekhawatiran pemanfaatan yang tidak terkontrol, secara sebagian besar keluarga musang tidak dilindungi UU yang artinya tidak ada sebuah bentuk kewajiban pun institusi yg intensif memantaunya.
    Dan melihat tren kebiasaan orang indonesia yang latah, munkin karena minim edukasi dan awareness, terbukti di kalanan MLI ada yang merambah utk memelihara, adopt, nangkarin keluarga musang yg dilindungi seperti Binturong dan Linsang.. bahkan ada jg event yg mengajak saudara lain d keluarga Otter..
    buat TS ini membuat dia Gerah.. karena sebagian besar (atau kecil.. relatif dan tidak ada bukti rill) berasal dari tankapan alam..

    Dikalangan “TRUE” animal lovers.. perilaku pecinta satwa di Indonesia masih dianggap lebih cenderung meng-eksploitasi satwa nya ketimbang melindunginya.. tentu kawan2 MLI hafal dengan kaidah 5 FREEDOM of Animal Right.. dan konsensus dunia kalo satwa yg dipelihara dan diperagakan sedapat mungkin tidak merubah perilaku aslinya… kalo diatas ada yg meng-analogi kan dengan anjing dan kucing sepertinya terlalu jauh.. proses evolusi perilaku mereka sangat panjang…. dan saya yakin temen MLI tidak bermaksud untuk melakukan REVOLUSI MENTAL para musang ini kan..

    Fakta lain yang ga kalah penting Data ilmiah soal keluara musang SANGAT MINIM.. berapa banyak mereka di alam, dimana saja.. itu yang sebenrnya MENGANCAM eksistensi mereka di alam.. kenapa? karena minim data itu, IUCN memasukkan mereka ke kasta Data Defficient yang tergolong TIDAK TERANCAM.. dan pemerintah tidak memasukkan ke golongan satwa dilindungi..

    saya salute sebagian anggota MLI dah melirik upaya perlindungan dan pelestarian dengan bikin breeding dan rumah penyelamatan (aku lupa apa tadi sebutannya).. keep working, saya dan beberapa teman siap mendukung, kita juga lagi ngembangin perubahan penanganan luwak di para petani kopi luwak..

    kalo boleh saran buat kawan MLI yang mantau trit ini..
    – perbanyak edukasi dan awareness utk muatan konservasinya.. terutama kalo pas tiap weekend nongol g car free area… biar masyarakat laen yang ga paham konsep MLI ga asal ikutan miara musang..
    – kalo ada member MLI yang punya basic ilmu di Biologi atau Kehutanan bisa mulai melakukan riset.. disini kawan2 juga nantinya bisa melihat keberasilan program2 penyelamatan dan perlindungan MLI..
    – edukasi dan pemberdyaan masyarakat di kawasan hutan penting agar meminimalisir panen dari alam.. kan kawan MLI suda berhasil Breeding.. dari breedin itu, seperti penangkar legal lainnya wajib mengembalikan 10% hasil tangkarannya ke alam.. so pasokan ke ‘market’ jalan, dan populasi musang di alam lebih kuat atau mengganti musang yang dulu diambil sebelum ada breeding
    – musang eksotis dan abnormal kadang jadi favorit para hobbis.. disarankan dalam breeding tidak ‘DENGAN SENGAJA’ menciptakan binatang2 alien itu… musang albino atau musang crossbreed..

    mungkin itu saja.. jangan terlalu diambil hati.. apalagi pake jalur hukum.. pro dan kontra biasa aja.. yang penting buat kebaikan semuanya…
    Salam Wangi.. Salam Lestari

    kalo boleh menutip kalimatnya Soe Hok Gie
    “Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
    Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
    Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
    Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.”

  27. tesa86 · Agustus 7, 2015

    Ada yg berminat me’lestari’kan gajah?harimau sumatra?elang jawa?yaki?otan?

    • Wibowo · Mei 24

      Itu hewan di lindungi semua pak..
      Hanya negara yang pnya hak untuk melestarikan mereka..
      Bukan per orangan..

  28. Pecinta anonymous · Agustus 7, 2015

    ‘daripada ditembak, mending kami pelihara’, katanya. Eh, kedengarannya seperti omongan pengamen di bis ya: ‘daripada kami merampok, lebih baik mengamen’. Itu yang nembak, kalau tahu banyak yang malihara, pasti bakalan tambah menggila nyari musang. Tidak lagi buat ditembak, tapi buat dijual ke ‘pecinta’ musang.

  29. Astari · Agustus 9, 2015

    Tulisannya mencerminkan sekali kemirisan saya terhadap komunitas-komunitas pemelihara binatang liar yang saat ini semakin menjamur. Sorry to say, sepengamatan saya komunitas-komunitas seperti ini banyak ngelesnya di belakang alibi melestarikan. Saya awam di bidang konservasi, tapi sepengetahuan saya pelestarian itu butuh pendataan dan prosedur yang tepat. Tujuannya pun untuk melepasliarkan kembali hewan-hewan di habitat aslinya, where they belong. Dan untuk melepasliarkan juga bukan asal lepas juga. Butuh ‘pendidikan’ dan pemberian enrichment-enrichment untuk memastikan si hewan bisa hidup mandiri. Dipasangi tracker juga untuk memantau si hewan. Nah sejauh pengamatan saya sih, komunitas-komunitas itu tidak ada yang visi misinya kesana tuh.

    Kalaupun memang tujuannya se’mulia’ yang di klaim, draw back dari komunitas semacam ini adalah minimnya edukasi dan kontrol terhadap anggota-anggotanya. Dari komunitas-komunitas yang kadang legalitasnya diragukan inilah yang menyebabkan orang-orang baru ikut-ikutan. Keren-kerenan dengan pelihara binturong lah, soa layar lah, kukang lah, hanya dengan berbekal care sheet dari google yang diragukan benar infonya atau tidak (dipikirnya kayak pelihara hamster aja). Makin langka makin keren dipikirnya. Dan ternyata di page komunitasnya banyak newbie coba-coba yang ngeluh ini itu binatangnya sakit ini itu, sekarat.
    Diperhatikan juga, di balik alibi melindungi itu, berapa banyak yang sudah mati tanpa terkontrol akibat munculnya newbie-newbie seperti itu.

    Dan kebanyakan manusia itu egois, mikirnya asal hidup dipikirnya sudah oke, sehat, etc etc, tanpa memperhatikan wellbeing si hewan. Pernah ada komen TS di threadnya yang menjual kukang. Dibilangnya hewannya sehat, bahagia. Wel, can’t stand but to say, “how do you know, stup*d?” Padahal dari fotonya saja kukangnya dikurung di cage kucing, yang harusnya di habitat aslinya, si kukang bebas berkeliaran di pepohonan tinggi. Kalau cage nya sebesar cage macan tutul di kebun binatang bandung, mungkin sedikit dipercaya lah. Yang sok pinter begini nih yang bikin gerah.

    Izin share, mas Agung. Tetap semangat melestarikan fauna! Hewan liar habitatnya tetap di alam, bukan di perumahan atau di tangan manusia.

  30. AEGLE MARMELOS · Agustus 9, 2015
  31. Mikir Dong · Agustus 15, 2015

    Mengapa tak pernah berpikir untuk budi daya pohon enau? Sehingga posisi tumbuhnya dapat diatur misalnya di perkebunan??? Ha????

  32. ucing ala ue · Agustus 15, 2015

    Semakin ente memberi edukasi bahwa musang itu hewan jinak dan bisa bonding,makin bnyk yg pingin pelihara musang,dgn begitu permintaan terhadap hewan musang semakin tinggi,dan makin bnyknya penjual musang,dan siapa ya yg diuntungkan? Musangnya atau siapa?

  33. Ismail Agung · September 8, 2015

    Wah udah banyak juga yang memberi komentari di mari. Saya pribadi si empunya blog pengen juga sih ikut komen panjang lebar, tapi karena terlalu panjang akhirnya saya jadikan satu posting tersendiri.
    Selamat dibaca

    https://agungsmail.wordpress.com/2015/08/22/lanjutan-dari-surat-terbuka-untuk-musang-lovers/

  34. cacpcuan · November 9, 2015

    oke gue kasih ss barbuk gmn seorang pendiri, petinggi organisasi yang lebih mementingkan grup fb drpd musangnya itu sendiri http://www.imagebam.com/image/c3a3a9445742979 enjoy

    “demi keberlangsungan hidup grup” WTF

  35. om kapten · November 20, 2015

    bebaskan musang biar rantai makanan dialam liar seimbang

  36. danu · April 29

    Mungkin yg terpandang dari komunitas yg masih memelihara, nah apakabar dg mereka yg memburu,disembelih dan dimakan- pernahkah anda menyorot mereka para pemegang senapan? Lol

  37. dika · April 30

    coba di urus dulu pemburu” harimau di gunung lawu saya mau liat tindakan kalian jngan cuma komentar tok ra genah ..komentar mah gampang cuma tinggal ngetik doang

  38. Wibowo · Mei 24

    Hadeh.. TS nya berfikir cuma sepikiran dia doank..
    Pdhl gak ngerti tujuan nya apa..

    Mending debat sama P3MI,lembaga legal itu dan sudah ada undang undang nya.. atau anda bisa di tuntut balik loh..

    Selama ini mindset orang ke musang adalah hama..
    Di mana hama di bunuh. Lah kalo di bunuh itu yang ngerusak ekosistem nya siapa..? Nah kalo punah atau sudah seperti binturong siapa yang tanggung jawab..??

    ambil data aja mas.. di compare brp musang yang di bunuh dan di makan daging nya sama yang di lestarikan dan di kembang biakan..

    Mungkin lo liat musang di rumah lo yang buat maenan anak kecil. coba deh tanya sama anggota MLI, sebener nya gak boleh buat maenan dan akan ada teguran langsung buat pemilik musang..

    Tujuan MLI adalah melestarikan agar tidak di bunuh.
    Dan banyak yang sudah jinak dan di jadikan hewan peliharaan.
    Jangan sampai musang khas indonesia punah atau bernasib seperti binturong..

    Musang adalah hewan omnivora,pemakan segala nya..
    Kecuali musang rase yang masih 1 ras dengan anjing..
    Mas pernah belajar kan omnivora tuh makan apa..??

    Terus knp mas buat surat terbuka hanya untuk musang aja..
    Knp gak pencinta burung murai juga…??
    Yang populasi ny udh di bilang langka..
    Tapi masih aja di buru..

    Belajar dri burung murai medan mas..
    Sekarang populasi udh gak ada di alam liar..
    Tapi karna banyak yang ternak..
    Kita jadi masih bisa lihat jenis burung nya..

    Terus masalah Surat terbuka ini ada di mana..??

  39. Capcus · 25 Days Ago

    Gagal paham semua org yg punya “exotic pet” malah beralasan melestarikan atau melindungi binatang itu.

    Demand and supply! dimana ada demand dan disitu akan ada supply. Semakin banyak org ingin membeli “exotic pet” berati semakin banyak org akan men supply binatang itu.

    Kalian pikir semua binatang yg dijual untuk pencinta binatang itu hasil ternakan? Kalian cari tahu aja sendiri berapa % bayi binatang itu yg hasil ternak dan berapa % bayi binatang yg ditangkap di alamnya setelah ibu binatang itu dibunuh!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s