Perihal Lebaran Kemarin

Saya ga punya cerita mudik selama libur lebaran kemarin. Kenapa eh kenapa karena saya ngga libur dan ngga mudik.

Pekerjaan saya sedikit memungkinkan untuk ditinggalkan. Tapi karena saya tidak mau mengambil resiko kenapa kenapa terhadap satwa yang saya bina, jadi saya memutuskan untuk mengijinkan asisten saya libur dan membiarkan saya kerja sendirian. Di hutan.

Di antara saya dan ketiga asisten saya, hanya saya seorang yang belum berkeluarga. Saya pikir, pastinya setiap dari mereka inginnya berkumpul bersama keluarganya di hari istimewa. Meskipun perjalanan selama satu bulan kemarinnya bolong bolong, hehehe. Buat saya memang tak masalah jika memang saya harus kerja sendirian di hutan menangani empat ekor Owa yang semakin hari semakin liar.

Berhubung lingkungan sekitar basecamp akan sepi menjelang H-1, maka saya memutuskan untuk memilih bermalam di hutan saja. Menurut saya tidak ada bedanya, baik di basecamp maupun bermalam di hutan. Saya tetap sendirian. Bedanya cuman di kerlap kerlip penerangan dan hiburan. Setidaknya saya ga akan terlalu cape untuk bangun pagi dan berkeringat menuju lokasi Owa esok paginya.

panorama puntang

Panorama pagi dari lembah Haruman

Sebagian orang pasti berpendapat kalau saya “berani” tidur di hutan sendirian. Ah, jangan salah sangka. Meskipun tidur di hutan bukan berarti saya “berani”. Tolak ukur saya adalah kenyaman untuk merebahkan diri. Untuk apa berani tapi nyusahin diri sendiri. Lagipula apa yang perlu ditakuti. Takut gelap? Kalau takut gelap, bagaimana kita bisa memejamkan mata, hehehe.

Setelah satu malam berlalu, ternyata saya keterusan untuk lanjut bermalam. Kalau dibilang sepi, ya sepi dalam radius 50 meter. Tapi jauh di bawah sana, desa ramai oleh dentuman petasan yang memecah langit. Hiburan yang tidak menyenangkan sebenarnya. Anak anak saya pasti tidak bisa tidur nyenyak. Subuh subuh saat masih gelap buta, saya mencoba untuk mengamati mereka. Ternyata benar saja, mereka langsung bereaksi oleh kehadiran saya.

Di hari ketiga di hutan, akhirnya saya memutuskan untuk berlabuh ke peradaban. Saya sudah habis gaya karena semua perangkat elektronik saya mati. Termasuk perlengkapan riset.  Andaikata di hutan ada tenaga listrik alternatif, mungkin saya lebih memilih untuk kembali bermalam hingga asisten saya kembali kerja.

Nampak lebaran saya tidak terlalu menyenangkan memang. Saya merasa tak perlu merayakan lebaran, karena saya belum memenangkan apa apa. Termasuk hatimu.

*Da aku mah apa atuh lah, hanya butiran ranginang dalam kaleng kongguwan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s