Selamat Datang di Dunia

Kemarin, tepatnya 10 juni. Kakak pertama saya melahirkan anak keempatnya. Dan itu adalah keponakan saya yang keenam dari kedua kakak saya. Dan juga keponakan lelaki kedua dari seluruh keponakan yang ada.

Syukurlah yang keluar ternyata laki laki. Di garis keturunan ibu dan bapak saya, anak laki cukup langka untuk dihasilkan. Dari ibu saya, saya adalah anak lelaki satu satunya. Sedangkan dari bapak saya, dari 3 kali pernikahan dalam hidupnya 2 dari 7 anak yang dihasilkannya adalah lelaki.

Sebagai anak biologi saya mengerti bahwa persaingan kromosom Y terhadap X itu berbanding 1:3. Jadi wajar saja klo chance lelaki agak seret. Tapi kalo dalam satu keluarga kebanyakan anak cowoknya, berarti sekill positioning si bapaknya emang jago, atau Tuhan Maha berkehendak, manusia hanya berusaha.

Mengingat jumlah keponakan saya yang udah banyak, saya jadi berpikir untuk tidak ikut dalam persaingannya mereka. Bagi saya kelak, satu saja cukup. Laki atau perempuan bukan masalah, mungkin laki lebih baik untuk meneruskan nama keluarga saya meskipun nama keluarga pada suku sunda tidak terlalu diperhatikan, alias sering diabaikan dalam pemberian nama anak.

Kakak saya dan keempat anaknya sedikitnya membantu saya berpikir dalam hal perencanaan rumah tangga. Jarak kelahiran yang pendek tentu bukan pilihan yang tepat di jaman yang penuh dengan tekanan ekonomi saat ini. Saya bukannya meragukan kemampuan kakak saya untuk membesarkan keempat anak anaknya, saya justru menilai kepada diri saya bila saya ada di posisinya, saya tidak akan sanggup memberikan nilai nilai yang terbaik sebagai modal hidup untuk anak saya saat masa tumbuh kembangnya hingga ia memilih jalan hidupnya sendiri.

Tidak ada yang mustahil jika kita berikhtiar. Begitu mungkin komentar seseorang. Tapi saya sadar, ikhtiar bukan berarti berusaha karena sesuatu di luar perencanaan. Ikhtiar bukan berarti berusaha karena kita tidak mengenal batas kemampuan kita sendiri. Saya akan tetap berikhtiar karena saya fokus memberikan yang terbaik kepada anak saya kelak yang jumlahnya tidak banyak.

Ah dudul. Saya terlalu kebanyakan melamun di pagi ini. Saya sudah membayangkan anak saya nanti, padahal yang lebih krusial adalah siapa ibu dari anak saya kelak?

Mungkin kamu.

Last thought,
Semoga ponakan saya ga kayak gini.

image

Cukup om-nya aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s