Presiden Saya

Saya tidak terlalu begitu paham soal politik tanah air. Politik itu taik kucing. Tapi bukan berarti saya tidak peduli dengan gejolak politik, apalagi menjelang pemilu yang tinggal hitungan bulan. Suasana politik sangat terasa sekali menjelang helaran 5 tahunan.

Hampir di sepanjang jalan penuh sesak dengan ornamen ornamen kepartaian beragam warna. Belum lagi wajah wajah yang cukup asing untuk dikenal mencalonkan dirinya untuk menjadi wakil rakyat. Juga iklan iklan di tivi yang kian hari ingin menonjolkan figur calon pemimpin negeri. Ga hanya iklan sih, ada juga yang pake strategi kuis dan sinetron sebagai media untuk mendongkrak popularitas.

Figur figur calon presiden memang sengaja dijual lebih awal agar popularitas partainya naik. Ada juga yang sengaja ditahan ditahan biar publik penasaran dan akhirnya meminta. Sengaja ditahan karena keputusan ada di tangan ketua partai. Dipikir pikir, nama partainya sih ada embel embel demokrasi, tapi demokrasi adalah hak ketua partai. Heran saya.

Gembar gembor capres juga buat saya pribadi ini strategi yang sia sia. Terutama capres yang sudah sepaket sama cawapresnya. Bukan hal yang tidak mungkin sih jikalau si partai tersebut ternyata parliamentary treshold-nya mencukupi untuk mencalonkan paket capres-cawapresnya sendiri, seperti capres-cawapres negeri kita saat ini. Tapi kalau lihat figur yang ditonjolkan, ah sudahlah.. jangan jangan ini rekayasa seperti kuis dan tukang buburnya.

Seperti banyak rakyat indonesia sudah ketahui bahwa bapak presiden kita pak SBY tidak lagi bisa mencalonkan diri sebagai presiden. Sebenarnya ada celah buat beliau untuk maju lagi sebagai wakil presiden. Tapi saya pikir beliau tidak akan mengambil jalan tersebut. Kalau beliau punya jiwa ksatria untuk legowo menyerahkan tampuk kepemimpinan pada generasi selanjutnya. Lagipula rakyat sudah muak dengan hasil kepemimpinan beliau selama satu dekade ini.

Kalau saya pribadi sih ga ada masalah dengan beliau, karena saya tidak menggunakan hak pilih saya untuk menentukan nasib bangsa pada pemilihan yang lalu. Hanya saja para koruptor kebanyakan bermunculan dari partai binaannya. Mungkin ini jadi salah satu alasan kalau kepemimpinan beliau tidak memuaskan dan menimbulkan sikap antipati. Padahal, partai mana sih yang nggak korupsi. Justru yang harus diacungkan jempol adalah KPK karena berani membongkar kasus korupsi yang ada dan menyeretnya ke tahanan –katakan tidak pada(hal) korupsi.

Jika di periode berikutnya partai yang berkuasa tak lagi berbintang mercy, menurut saya kasus korupsi bisa jadi muncul banyak ke permukaan dari partai yang berkuasa nanti. Bukan hal yang tidak mungkin, karena ini jadi sasaran empuk untuk menjatuhkan citra. Politik itu sakit.

Soal capres juga sebenarnya saya sudah bosan. Hampir kebanyakan yang muncul itu muka muka lama yang begitu begitu aja. Tentu saja saya berharap pada figur figur muda atau tokoh tokoh baru yang rekam jejaknya tidak perlu  diragukan kapabilitasnya. Sayangnya tokoh tokoh baru tersebut kebanyakan tidak dibawah naungan partai politik, sehingga perlu pinangan dari pihak partai yang pola pikirnya ngga kayak acara musik hore hore tiap pagi di SCTV –out of the box.

Faktanya, si partai beringin punya calon yang punya kasus lapindo. Si partai burung punya calon yang punya kasus penculikan mahasiswa. Si partai kerbau punya calon yang masih dirahasiakan tapi nggak jauh jauh dari garis keturunan founding father. Si partai kuis punya calon yang punya kasus pelanggaran HAM. Si partai langit di malam hari punya calon pengacara yang terkena kasus korupsi. Si mercy calonnya banyak, jadi musti pake kontes poling polingan. Si partai lainnya ada yang mencalonkan mantan hakim, penyanyi dangdut dan tokoh yang sedang hits.

Kalau saya suka yang mana?

Tentu saja saya juga punya unggulan. Hanya saja dia bukan orang partai. Suka tidak suka kesempatan jagoan saya hanya terbuka melalui poling polingan si bintang mercy. Agak berat sih, apalagi stigma masyarakat sekarang kadung sudah menilai negatif kepada siapapun calon di bawah naungan si bendera bintang mercy.

Kenapa saya memilih beliau. Jawabannya sih karena beliau sudah memberikan sumbangsih nyata pada bangsa dengan cara mengajak potensi potensi muda terbaik untuk turun tangan membantu permasalahan negeri ini melalui program pendidikan di daerah daerah pelosok Indonesia. Dan semua itu beliau lakukan tanpa jabatan tinggi di pemerintahan.

Memang sih beliau tidak terkenal. Aktivitasnya jarang nongol di televisi. Beritanya jarang dimuat di koran. Dan mukanya jarang dijajakan di pinggir jalan. Coba bandingkan prestasi yang sudah pernah beliau raih dibandingkan calon calon lainnya? Kira kira sumbangsih nyata apa yang sudah mereka berikan untuk menjawab permasalahan bangsa. Bukan sekedar bagi bagi indomie waktu bencana atau karena udah deket deket jadwal kampanye.

Haduh, nih tulisan jadi ngetan ngulon. Padahal intinya sih, saya mendukung Anies Rasyid Baswedan untuk menjadi pemimpin negeri ini. Saya percaya pada sosok beliau, bukan sebagai satu orang untuk menyelesaikan ribuan masalah namun satu orang yang menggerakan seluruh rakyat bergotong royong menghadapi dan menyelesaikan jutaan permasalahan di negeri kita. Indonesia.

20140205_153306[1]

Untuk lebih tahu mengenai beliau, bisa kunjungi situsnya beliau di aniesbaswedan.com 

Pernyataan saya mengenai sosok beliau bisa saja anda tidak setuju. Akan tetapi, jadilah rakyat yang cerdas untuk mengenali siapa sosok pemimpin negeri ini yang bersih, berintegritas, kompeten dan bisa menjalankan amanah. Saya yakin sosok seperti ini tidak hanya ada pada Anies Baswedan. Dan akan lebih baik, jika pemimpin pemimpin seperti itu bermunculan dan duduk di politik negeri ini yang semrawut. Siapapun mereka, jadilah harapan untuk Indonesia yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s