Bukan FTV

Beberapa minggu lalu saya ngobrol ngobrol dengan sahabat saya di sebuah restoran ala middle east di Bandung. Tidak banyak yang diobrolkan karena memang kami sering ngobrol melalui media nirkabel. Mulai dari obrolan remeh temeh hingga obrolan tak berdasar dan tanpa kesimpulan.

Dalam setiap obrolan atau diskusi, saya selalu mengambil posisi yang kontra dengannya. Untungnya tidak jadi perdebatan panjang karena ini hanyalah sebuah obrolan bukan doktrin.

Obrolan tentang jodoh dan asmara selalu menjadi obrolan terpanjang yang kami bahas. Sudah berapa kali baik saya atau dia bertukar cerita tentang hidup.

Di usia kami yang memang sudah matang matangnya, pertanyaan tentang fase hidup berikutnya selalu jadi topik yang dipertanyakan oleh orang orang di sekitar kami. Saya yang sebagai pria tak ada habisnya disindir oleh orang di tempat kerja tentang kenapa saya masih “sendiri”. Apalagi sahabat saya yang seorang perempuan.

Kami memang punya permasalahan yang sama namun situasi yang berbeda. Bagi sahabat saya, menemukan si calon adalah ujian terberat. Kesiapan hatinya untuk berumah tangga adalah doa yang selalu ia lantunkan setiap kali bersujud di sajadah hingga ke arab. Siapapun dia, kalau udah taaruf 3 bulan dan deal mah bisa langsung digelar hajatnya. Pokoknya udah siap lahir batin.

Sayangnya, pertemuan demi pertemuan ternyata malah berujung pada kegagalan. Lambat laun kondisi tersebut membuatnya menjadi pasrah, pesimis dan hati hati setiap meladeni calon kandidat. Kalau gelagat dari pertemuan awal tidak jelas visi dan tidak bisa diharapkan menjadi imam baginya, coret.

Saya, situasi saya tidak bisa disebut lebih baik atau lebih buruk daripada sahabat saya. Permasalahan saya ada pada “ketidakyakinan” dalam sebuah hubungan jangka panjang. Sekian kali menjalin hubungan, saya memutuskan untuk mengakhirinya ketika komitmen cinta cintaan mulai masuk ke ranah cinta sesungguhnya. Walau hanya sejengkal.

Dan sekarang, saya malah berada di situasi ogah untuk memulai sebuah hubungan lagi. Parahnya, saya memilih untuk menyepi dari lingkungan sosial. Ada sih yang mencoba untuk mengenalkan saya pada seseorang. Saya bilang oke, dan esoknya saya lupa tentang obrolan kemarin.

Pernah ada yang mengamati situasi kami berdua dan memberikan alternatif hidup. Kenapa tidak kami berdua saling mengisi?

Tentu saja tidak, karena ini bukan FTV.

2 comments

  1. kakmolly · Januari 28, 2014

    Kenapa Tidak, Bang?😀
    Hmm…
    Apakah saya harus meninggalkan bloging karena nge-blog itu mainstream? Saya harap jawabannya tidak.😀
    Jangan bawa-bawa ftv dong, saya penggemar ftv soalnya :p

    Membuka diri adalah salah satu solusi. Semangat Bang Bro, semoga diberikan yang terbaik.🙂

    • Ismail Agung · Januari 28, 2014

      Hahaha, Anti-mainstream juga sekarang mah udah mainstream.

      FTV ga jelek jelek am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s