Pekerja

Belum genap satu tahun kontrak kerja saya berakhir, ternyata di awal tahun ini malah diperbaharui. Bukan hanya saya saja, tapi juga rekan rekan yang lain. Entah kenapa, yang pasti manajemen kantor sedang berbenah.

Saya belum tahu apa isi kontrak yang terbaru, namun yang pasti berdasarkan hasil diskusi rapat staff, ada pertimbangan kenaikan gaji.

Senang. Ah saya sih biasa saja. Selama ini saya tidak terlalu mengeluh dengan besarnya pendapatan yang saya terima. Justru saya ingin kedua asisten saya yang setidaknya mendapatkan haknya yang lebih layak.

Tidak usah saya sebut berapa nominal kedua asisten saya tersebut. Yang jelas secara rasional, saya masih menganggap bahwa pendapatan mereka masih belumlah banyak mencukupi kebutuhan mereka+keluarganya sehari hari.

Dalam kontrak sebelumnya, kedua asisten saya diharuskan bekerja 6 hari seminggu, termasuk saya. Saya tidak bermasalah dengan kontrak tersebut, karena selama ini memang seperti itulah yang saya jalani. Tapi situasi tersebut sulit sekali saya aplikasikan kepada asisten saya. Perekonomian mereka tidak memungkinkan untuk bekerja lebih. Kalaupun mereka harus bekerja seperti itu, tentu saja ada kompensasi yang disesuaikan. Ibaratnya lembur lah. Sayangnya bidang pekerjaan saya tidak mengenal istilah lembur.

Dengan sedikit kebaikan hati, saya memberikan tambahan waktu libur satu hari. Tujuannya memang bukan untuk beristirahat, melainkan waktu yang bisa mereka pergunakan untuk mencari penghasilan tambahan.

Pekerjaan lapangan memang pekerjaan yang flexible. Kadang tidak memandang tanggal merah dalam kalender. Bahkan bisa seminggu penuh masuk kerja. Tapi segimanapun flexiblenya jam kerja, hari libur untuk beristirahat adalah sebuah hak yang wajib diberikan.

Saya tidak ingin membedakan pekerja kantoran atau pekerja lapangan. Intinya sih di situ ada hak dan kewajiban serta komitmen. Dan itu juga akan kembali kepada pemahaman si pekerja terhadap bidang yang digelutinya. Kalau si pekerja sukanya pekerjaan yang menyesuaikan kalender, berarti cocoknya jadi pekerja kantoran. Tapi kalau lingkungan kerjanya mengharuskan 24/7, ya nikmati aja. Buktinya pramuniaga Alfamart kayaknya hepi hepi aja dan selalu senyum kepada setiap pelanggan setia. Padahal hampir setiap hari jaga dan nggak kenal tanggal merah.

Jadi, apapun bidang pekerjaan yang digeluti. Setidaknya pekerjaan itu harus bisa memanusiakan manusia.

One comment

  1. nanangrusmana · Januari 8, 2014

    Ya benar sekali, setiap pekerjaan memang butuh konsekuensi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s