Amazing River

Nama desa tujuan kami kali ini adalah Amasing Kali. Tapi Harry sering memelesetkannya dengan sebutan Amazing.

Sebenarnya waktu masih jaman Belanda dulu, nama desa di sini bukanlah desa Amasing Kali melainkan Amasing Karet, kata bapak Kepala Desa. Berhubung pohon karetnya sudah tidak banyak lagi dan yang tersisa hanya tinggal sungainya, maka nama desa berganti menjadi Amasing Kali.

Seperti survey hari hari sebelumnya, kami dibagi menjadi dua tim dengan arah jalur yang berbeda. Partner saya kali ini adalah mas Gaetan, pak Polhut Waka dan seorang pemandu dari desa.

Selama jam pengamatan hingga tengah hari, tidak banyak rintangan yang kami lalui. Semuanya lancar dan mudah karena kami menggunakan jalur yang sering dipakai masyarakat ketika masuk hutan.

Sayangnya, kemudahan tersebut tidak dibarengi dengan penampakan yaki. Tidak seekor pun yaki berhasil kami temukan. Okelah, ada beberapa suara yang kami dengar dan kami yakin adalah suara yaki. Tapi tidak satupun dari mereka menampakan dirinya.

Tengah hari setelah usai pengamatan, kami memutuskan untuk kembali pulang. Pemandu lokal kami menyarankan untuk menggunakan jalur yang berbeda, katanya lebih dekat pulang ke desa kalau mengikuti sungai ketimbang jalur yang kami lalui sebelumnya. Dan ada kemungkinan kami bisa bertemu dengan yaki di sungai.

Menurut kami itu ide yang bagus karena hutan sekitar desa Amasing Kali bisa terjelajahi.

Di perjalanan pulang kami bertemu dengan penduduk desa yang memiliki pondok di pinggir hutan. Dalam perbincangan singkat kami mendapatkan informasi bahwa tadi pagi ada sekelompok yaki yang masuk ke kebunnya. Bukan hanya itu saja, petani tersebut ternyata menyimpan seekor bayi yaki.

Kata beliau, bayi tersebut terjatuh dari induknya ketika dia berusaha mengusir kawanan yaki yang merusak kebunnya. Karena merasa kasihan, si petani kemudian mengambil dan membawanya ke pondok.

Saya bertanya mengenai apa yang akan dia lakukan pada bayi tersebut selanjutnya?

Dengan ringan dia menjawab akan menjualnya di pasar seharga 300.000. Sedih saya ketika mendengar jawaban tersebut, apalagi si bayi ini masih sangat mungil dan tak berdaya untuk menjejakkan kakinya. Saya tidak yakin kalau bayi ini akan bertahan hidup lama dalam asuhan si petani atau siapapun yang membelinya nanti.

bacan-15-feb 009

Saya tidak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan si bayi mungil tersebut. Menyelamatkan dengan cara membelinya justru akan membuka peluang si petani untuk memburu lebih banyak lagi.

Kami lalu melanjutkan perjalanan pulang, namun rasa sedih ternyata terus berlanjut. Bukan hanya tentang nasib si bayi mungil tapi juga nasib kami. Si pemandu ternyata tidak menjelaskan lebih detail mengenai “pulang mengikuti sungai”. Kami mengira bahwa ada jalur di sepanjang sungai menuju desa, ternyata bukan itu yang dia maksud. Yang dia maksud dengan pulang mengikuti sungai adalah berjalan di dalamnya.

Dia bilang tidak jauh. Hanya satu jam saja di sungai.

Yup, satu jam di Amazing River.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s