Neraka Rawa

Akhirnya giliran masuk hutan tiba. Senang rasanya, apalagi setelah dua hari kemarin berjibaku dengan tumpukan kertas kuesioner yang membuat saya lieur.

Sedikit yang saya sesalkan adalah saya tidak membawa banyak perlengkapan lapangan yang biasa saya gunakan. Saya terlalu buru buru untuk packing dan malas untuk mengambilnya kembali di basecamp Tangkoko. Jadi yang tersisa yang bisa saya gunakan hanyalah sepasang sepatu boot setinggi mata kaki merk AP Boot dan kursi lipat keluaran ACE Hardware. Perlengkapan penting seperti binocular/teropong, jas hujan bahkan sepatu boot selutut hanya mematung di basecamp.

Rencana hari ini adalah survey di Desa Wayamiga, sekitar 8 km ke arah barat dari rumah atau 15 menit perjalanan mobil. Pulau Bacan bukanlah kota besar, dari satu desa ke desa lain cukup dekat bila masih bisa dijangkau melalui jalan aspal.

Seperti biasa, kami memulai perjalanan menuju lokasi pada pukul setengah delapan. Dan seperti biasa terjadi keterlambatan akibat bekal makan siang yang belum datang.

Terlalu siang memang kurang bagus untuk memulai pengamatan. Uniknya, matahari terbit di Bacan dimulai ketika waktu menunjukkan pukul 6:50.

Meskipun menggunakan zonasi WIT, pergantian hari di Bacan lebih terasa seperti zonasi WITA.

Setibanya di lokasi, terlebih dahulu kami meminta izin ke kepala desa. Kebetulan hari itu kepala desanya sedang tidak ada, maka izin dilanjutkan ke Sekretaris Desa dan sekalian bertanya tanya mengenai situasi kondisi sekitar desa. Setelah cukup mendapatkan informasi kami lalu berdiskusi untuk menentukan tim dan lokasi mana yang akan digunakan sebagai jalur transek.

Kami memulai pengamatan dari titik yang berbeda. Saya dan Harry serta seorang dari polisi hutan bernama Waka tergabung dalam tim satu. Sedangkan tim dua terdiri dari Andy, Vicky dan polhut Unut. Lalu petualangan pun dimulai.

😦 Ini adalah ekspresi saya selama menempuh jalur transek.

Tidak ada yang menarik untuk diamati, bahkan kehadiran Yakis pun tidak kami temukan. Yang ada hanya hamparan rawa disertai pohon pohon Katapang yang tumbuh berjarak antara satu pohon dengan pohon lainnya. Selebihnya, rawa dipenuhi oleh daun daun pandan dengan duri duri tajam di tepinya.

Lebih buruk lagi, rawa ini dalamnya bisa mencapai satu meter, tepatnya setinggi batas paha atas. Semak semak pandan yang rapat menyulitkan kami untuk membuka jalur. Perhatian kami lebih banyak terfokus untuk bisa keluar dari neraka rawa ini.

Terpaan panas mentari dan dinginnya lumpur rawa menjadi kombinasi panas dingin yang sempurna layaknya mejikkom di atas kulkas. Ujian ini semakin mengakumulasi menjelang tengah hari ketika beban kelelahan semakin terasa.

Berdasarkan hasil pemetaan koordinat GPS, posisi kami tepat berada di tengah desa Wayamiga dan garis kontur ke arah gunung. Dengan kata lain, jika perjalanan dilanjutkan hingga ke arah gunung maka tidak akan cukup waktu untuk menempuh jalan pulang kembali.Sibela

Usai makan siang kami memutuskan untuk menyudahi pengamatan. Bukan sebuah akhir yang membahagiakan, neraka rawa ini masih terus berlanjut. Dan kami tidak bisa menemukan jalan awal yang kami buat sebelumnya.

Setidaknya kejadian hari ini menjadi sebuah pelajaran berharga mengenai cara membaca peta. Suatu daerah yang tidak memiliki kontur bukan berarti sebuah tanah lapang yang bisa dengan mudah dilalui. Bisa jadi ini adalah neraka rawa yang tidak menyenangkan untuk berjalan di dalamnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s