Apakah Bapak pernah melihat Yakis?

Hal pertama yang ingin saya lakukan di Bacan adalah bertemu dengan monyet monyet hitam berjambul. Sayangnya, rencana kerja yang sudah disusun menempatkan saya untuk masuk ke hutan setelah dua hari survey desa.

Hari pertama dan hari kedua saya dihabiskan dengan mengetuk dan menyapa dari rumah ke rumah. Meminta kesediaan waktu pemilik rumah untuk ditanya tanya mengenai aktivitas dan pengetahuannya mengenai sumber daya alam di sekitarnya.

Saya memang tidak suka dengan tugas wawancara. Bukan karena saya anti habluminannas, hanya saja pekerjaan ini terkadang selalu membuat saya membawa opini pribadi ke dalam setiap pertanyaan yang diajukan agar si responden menjawab seperti apa yang saya harapkan. Tentu saja hal ini sangat tidak baik bagi data yang dihasilkan, karena ada nilai bias yang besar di dalamnya.

Ditambah lagi kalau mendapatkan responden yang tidak kooperatif, misal tidak menaruh perhatian untuk mendengarkan pertanyaan yang diajukan, mengharapkan balas jasa, menggunakan bahasa yang sulit dimengerti dan punya tatapan yang mengerikan. Jika itu semua bercampur menjadi satu pada salah seorang responden, maka ketika saya membalikkan kertas kuesioner saya langsung menutup sesi dengan ucapan, “Terima kasih Pak, atas waktunya..”

selamatkanyaki-bacan2

Keterbatasan sumber daya manusia lokal memposisikan saya untuk mau tak mau harus mau melaksanakan tugas ini. Dari enam orang anggota tim yang ada, hanya dua orang plus satu orang setempat yang bisa. Meskipun pemimpin ekspedisi ini cukup lancar dalam berbahasa, ia tidak cukup pede untuk menggunakannya dalam wawancara. Kesulitannya bukan pada mengajukan pertanyaan, tapi mendengarkan jawabannya.

Target wawancara mengharuskan saya untuk mendapatkan 10 orang responden dalam satu hari. 10 responden memang tidak banyak, tapi lumayan cukup sulit juga untuk mendapatkannya. Terlebih lagi pada pagi hari ketika masyarakat desa (terutama bapak bapak) cenderung sibuk dengan pekerjaannya di kebun dan baru selesai tengah hari atau menjelang sore.

Tidak banyak responden yang bisa di dapat pada sesi pagi. Parahnya lagi, pada sesi siang justru ujian terberat dimulai. Mengantuk dan malas panas.

Pertanyaan pertanyaan yang diajukan sebenarnya tidak terlalu sulit, seperti seberapa sering responden masuk hutan, seberapa sering bertemu dengan Yakis (sebutan lokal untuk monyet hitam berjambul), apakah mereka pernah makan daging binatang dari hutan, dan apa yang mereka lakukan bila Yakis masuk kebun.

Selain itu pula ada beberapa gambar Yakis dalam beberapa situasi yang ditunjukkan ke responden. Dari gambar tersebut, responden ditanya perasaan hatinya. Apakah biasa saja, senang, sedih, marah atau takut.

selamatkanyaki-bacan

Kak Junita sedang memperlihatkan media gambar kepada responden

Penggunaan media gambar lebih efektif dibandingkan pertanyaan pertanyaan yang kadang sangat membingungkan untuk dicerna bagi masyarakat desa yang lugu dalam pemahaman bahasa formal. Menyederhanakan kalimat terkadang malah mengarahkan responden untuk menjawab seperti yang saya harapkan. Dan ini sangat tidak bagus untuk data.

Tugas wawancara memang bukan saya banget. Walau begitu saya bisa menyelesaikannya dan mencoba menikmati sestiap sesi yang membuat saya hapal urutan pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner.

Here is my favorite question,

“Apalah Bapak pernah melihat Yakis?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s