sirih dan kapur dari Tasikoki

Saya tidak percaya kalau saya masih bertahan di sulawesi selama lebih dari satu tahun. Walaupun saya sering traveling dalam tanda kutip alias keluar masuk hutan, tapi ini adalah yang pertama kalinya saya meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang lumayan cukup lama.

Seharusnya saya sudah pulang beberapa minggu yang lalu. Tepatnya satu bulan setelah masa kontrak saya berakhir, sekitar pertengahan januari. Namun entah kenapa, tiba tiba saya memutuskan untuk tinggal lebih lama lagi.

Selama satu bulan usai habis kontrak, saya mengikuti sebuah program relawan pada salah satu pusat penyelamatan satwa di Sulawesi Utara, Tasikoki namanya. Bagi saya tempat ini bukan hanya sekedar menyenangkan, saya belajar banyak hal mengenai upaya upaya merehabilitasi satwa liar yang dilindungi agar bisa dikembalikan ke habitatnya.

Bukan sebuah pekerjaan yang mudah untuk merehabilitasi satwa liar agar mereka bisa dikembalikan ke habitat alaminya. Butuh perlakuan ekstra yang lebih dari sekedar hewan peliharaan pada umumnya.

Saya tidak sendiri. Ada beberapa relawan lainnya yang turut serta. Dan mereka berasal dari bermacam macam negara. Mereka mendedikasikan waktu tenaga dan finansialnya untuk membantu kelangsungan hidup para satwa serta tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Walaupun relawan mancanegara lebih mendominasi dalam kegiatan, ada juga beberapa relawan lokal sebangsa dan setanah air yang menemani saya.

Untuk relawan lokal memang tidak banyak. Bahkan bisa dihitung dengan jari. Tapi semangat kami tidak kalah beda dengan yang mancanegara. Semangat untuk menghibur diri tentunya (kumpulan pemuda galau).

Aktivitas para relawan sehari hari lebih banyak dihabiskan untuk membuat berbagai macam pengayaan (enrichment) bagi para satwa. Rutinitas ini berjalan mulai dari pagi hari pukul 6.00 hingga petang pukul 16.00. Mungkin rutinitas ini terlihat membosankan untuk dilakukan setiap harinya. Nyatanya tidak. Setiap harinya, meskipun kami melakukan pekerjaan yang sama namun kami juga dituntut untuk mengasah kreativitas dalam membuat enrichment.

Enrichment bisa dikatakan sebagai media permainan agar satwa tidak merasa bosan. Media ini menjadi penting karena satwa yang terlalu lama di dalam kandang akan merasa jenuh dengan rutinitasnya yang terbatas oleh ruang. Seharusnya kebun binatang kebun binatang yang ada di Indonesia juga memberikan enrichment pada binatang koleksinya. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan pakan yang kadang itu juga kurang.

Tidak hanya enrichment, terkadang jika ada waktu luang dan tenaga berlebih biasanya kami mengerjakan project khusus. Misal, perbaikan dan penataan kandang/enclosure agar satwa terhibur dengan berbagai macam pengayaan lingkungan/enrichment environment. Atau seperti saya yang mempunyai project khusus mengamati aktivitas makan para monyet. Atau bahkan ngaduk semen, ngelas besi, dan pekerjaan pekerjaan lainnya yang diluar dari rutinitas sehari hari.

2012-11-06 07.00.41

Tentunya relawan relawan yang berada di sini bukanlah individu terlatih yang berpengalaman. Tidak banyak dari kami yang memiliki pengalaman pertukangan ataupun bekerja dengan satwa liar. Gergaji, palu, parang adalah perlengkapan pendukung yang kami gunakan dalam membuat enrichment, dan kami harus terbiasa menggunakannya.

Luka gores dan gigitan nyamuk pun menjadi sarapan kami sehari hari. Mengeluh tentu saja, tapi bukan pada apa yang kami telah kerjakan. Hanya pada rasa sakit yang mengganggu.

Dalam satu kesempatan saya pernah mengobrol dengan salah seorang relawan yang berasal dari Belanda. Kenapa mereka mau melakukan pekerjaan ini. Padahal mereka bisa saja menikmati hari mereka layaknya sebuah liburan. Karena tujuan mereka yang utama adalah berlibur/kabur dari cuaca ekstrem di negerinya.

Jawaban yang saya harapkan tentu saja adalah, mereka mencintai satwa liar dan ingin berbuat sesuatu secara langsung.

Namun ternyata, lebih sederhana dari alasan di atas, dia mengatakan bahwa dia bosan dengan rutinitas pekerjaannya sebagai drive instructur yang selalu berhadapan dengan manusia. Dan oleh karena itu dia memilih bekerja untuk satwa liar. Sesuatu yang belum pernah dilakukannya selama ini, dan tentu saja ini adalah hal yang positif baginya.

Dan saya, apa yang melandasi saya untuk mau menguras keringat secara cuma cuma di sini?

2013-02-02 09.22.38

to save them

3 comments

  1. Agung Rangga · Februari 4, 2013

    kereeen! mari selamatkan satwa liar dari kepunahan!😀

  2. whysooserious · Februari 4, 2013

    touched🙂

  3. bicara · Oktober 12, 2014

    jadi pengen😀 keren ka, serasa ada panggilan dari alam liar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s