Ke Bacan

Seharusnya saya sudah pulau ke Bandung sejak januari lalu. Tapi rencana itu urung saya lakukan. Urung karena tiba tiba saya jatuh cinta pada suatu tempat yang membuat saya nyaman. Tapi apa mau dikata, tiket pesawat sudah dipesan jauh hari oleh eks-bos saya, terpaksa saya jadwal ulang hingga dua minggu ke depan.

Mendekati tanggal kepulangan, saya kembali merasakan bahwa saya belum siap untuk pulang. Saya masih ingin merasa jauh dari kampung halaman. Menjadi asing di negeri sendiri. Dan keputusan saya untuk bertahan ternyata tepat. Sebuah pintu peluang terbuka tanpa saya harapkan, dan peluang itu adalah ekspedisi ke sebuah pulau di timur.

Saya beruntung karena ekspedisi tersebut masih membutuhkan tenaga lapangan. Tanpa berpikir panjang lebar, saya mengiyakan tawaran yang diberikan. Meski pada akhirnya saya lagi lagi harus kembali menjadwalulang penerbangan dengan denda yang hampir setengah harga tiket. Saya tidak keberatan, karena petualangan yang nantinya akan saya lalui lebih berharga dibandingkan saya pulang tanpa melakukan apa apa.

***

Untuk tahun 2013, saya menempatkan Sumatra sebagai destinasi yang akan saya kunjungi. Namun sepertinya daftar tersebut harus saya ralat. Maluku dan Indonesia Timur memang bukan sebuah pilihan tempat yang ingin saya kunjungi. Bukan karena tidak ada tempat yang menarik –semua tempat di Indonesia menarik-, melainkan tidak ada objek primata yang bisa saya amati di belahan timur sana.

Ketiadaan primata di Indonesia timur tidak sepenuhnya benar. di Maluku, tepatnya propinsi Maluku Utara di pulau Bacan ternyata dihuni oleh sekelompok monyet hitam Sulawesi. Di pulau tersebut, monyet hitam (Macaca nigra) telah sukses bertahan hidup selama hampir 150 tahun sejak pertama kalinya mereka dibawa sebagai hadiah untuk Kesultanan Bacan pada tahun 1867. Dan sejak saat itu, jumlah populasi monyet hitam bertambah dan menyebar di seluruh pulau Bacan.

Ekspedisi ini sendiri bertujuan untuk melakukan pendataan populasi baik di kawasan yang termasuk Cagar Alam Gunung Sibela dan juga kawasan yang sudah mengalami gangguan misal perkebunan. Selain itu juga memetakan pengetahuan dan kepedulian masyarakat setempat mengenai monyet hitam atau yang biasa dikenal dengan sebutan Yakis. Yang terakhir adalah program penyadartahuan masyarakat mengenai gambaran umum Yakis.

Dari hasil yang diperoleh tentu saja akan menjadi tindak lanjut dalam upaya pelestarian monyet hitam ke depannya. Di tempat asalnya sendiri yaitu Sulawesi Utara, populasi monyet hitam berada dalam kondisi kritis akibat perburuan untuk dikonsumsi yang terus berlangsung hingga saat ini.

Semoga saja kondisi monyet Bacan tidak separah apa yang dialami leluhurnya.

monkey picking nose

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s