Semanis Kopi, Sepahit Hati

Satu tahun sudah tanpa kopi.

Saya masih ingat terakhir kali minum kopi. Waktu itu saya baru pulang dari Jogja dan menyempatkan diri untuk mampir sejenak di rumah seorang kawan di Tasikmalaya. Sekedar berbincang bincang dan menginap pada akhirnya.

Keesokan harinya, kawan saya mendapatkan job untuk foto nikahan di salah satu desa sekitar. Karena saya tidak mau berdiam seorang diri di rumahnya, saya memutuskan untuk ikut. Siapa tahu saya bisa bantu bantu dia walau hanya memegang lampu blitz.

Sesampainya di lokasi, yang punya hajat mempersilahkan kami duduk dan menunggu. Disuguhkannya kami dua cangkir kopi susu. Andai saja dia bertanya terlebih dahulu, tentu saja saya akan menolak dan memilih minuman lain. Sayangnya tidak.

Berhubung cuaca pada saat itu rintik rintik gerimis di pagi hari dan lokasinya berada di daerah perbukitan, jadi hawa dingin lumayan cukup terasa menembus baju. Dan sepertinya kopi yang disuguhkan sangat menggoda sekali untuk sekedar menghangatkan. Lagipula mubazir kalau tidak diminum sama sekali.

Diminumlah kopi itu.

Kopinya manis, namun setelah itu hati saya yang pahit.

Kenapa hati saya bisa pahit. Karena ada suara parau di ujung dering yang menangis dan kecewa. Huffft.

Setahun tanpa kopi yang tak pernah bisa saya lupakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s