Perperimataan

1 nov

Hari ini partner saya adalah Alex dan Robyn yang bertugas di area primata. Sebenarnya nama saya tidak tercantum di papan jadwal. Berhubung saya lagi nggak mood dengan aktivitas corat coret dan nongkrong di depan komputer, maka saya mengajukan diri untuk bergabung bersama mereka.

Jam enam teng semua relawan bersiap melaksanakan tugasnya masingmasing. Dan kebetulan lagi hari ini saya bangun paling awal.

Efek ngejar monyet sepertinya masih terbawa bawa, padahal semalam agak susah tidur karena gerah dan nonton stand up comedy (nanggung ketawa jadinya nahan tidur).

Tugas pertama team primata adalah mengumpulkan collect browse. Pertama kali saya baca note tugas tugas, saya agak mengernyitkan dahi ketika menemukan kata collect browse. Apaan nih? Sejenis nongkrong di dunia mayakah?

Ternyata collect browse yang dimaksud adalah sejenis aktivitas yang hampir sama dengan ngored dalam bahasa sunda atau dalam bahasa Indonesia mencari rerumputan.

Ada tiga belas karung yang harus kami isi penuh. Satu karung di antaranya diisi oleh dedaunan muda, satu karung lagi diisi oleh rumput tinggi (ilalang), dan sisanya rumput bebas sebisa kamu meraupnya.

Bermodalkan tangan kosong, berhadapan dengan rumput ternyata bisa menyakitkan. Setajam silet, rumput yang bergoyang bisa mengiris kulit tipis. Hasil dari browse sebanyak 13 karung ini ternyata perih.

Beres dari pertarungan tangan kosong, rumputrumput yang kami kumpulkan disebarkan di setiap kandang rehabilitasi yang ditempati oleh para monyet. Monyetmonyet yang berada di Tasikoki kebanyakan adalah jenisjenis yang memang endemik sulawesi. Di luar yang endemik hanya lah monyet ekor panjang yang penyebarannya sangat umum di mana mana (kecuali sulawesi).

Monyet monyet tersebut merupakan hasil sitaan dari pasar pasar yang ada di Sulawesi. Seperti yang sudah saya tulis di postingan lalu lau, monyet di sulawesi adalah komoditas daging alias dijadikan menu makan. Ekstreme abissssss.

Balik ke tugas.

Rumput rumput tadi kami simpan di rak rak yang sudah disediakan di setiap kandang rehabilitasi. Rumput rumput sisa kemarin yang masih bersisa di rak dibuang. Pada saat membersihkan atau menyimpan rumput harus selalu waspada karena monyet bisa tiba tiba bertindak agresif dan menjangkau melalui sela sela jeruji. Hal terburuk adalah dicakar, paling apes digigit. Kalo beneran hal tadi terjadi, musti buru buru disuntik.

Untuk urusan pakan dan bersihbersih kandang ditangani khusus oleh animal keeper.

Di sesi siang kami memberikan batang batang kayu mati sebagai bagian dari enrichment. Selama saya pengamatan yaki di Tangkoko, yaki seringkali mengecek kayu kayu lapuk dan mati. Jika beruntung, biasanya rayap atau telur semut mereka temukan. Enrichment ini sebenarnya bertujuan untuk mempertahankan naluri liar mereka sebagaimana layaknya mereka hidup di alam liar. Selain itu tentu saja agar mereka ada aktivitas.

Di sisa waktu menuju sesi sore, kami menghabiskannya dengan membuat enrichment untuk esok. Enrichment yang kami buat terdiri dari potongan buah kelapa dan pisang yang disembunyikan dalam bundelan rumput, lalu diikat erat ke potongan sabut kelapa. Jadi penasaran melihat si monyet menjawab tantangan enrichment-nya.

Berhubung tugas kami sudah beres, bukan berarti bisa pulang duluan. Peraturan di sini mengharuskan para relawan untuk saling bantu. Begitu tugas usai terlebih dahulu, maka relawan diwajibkan untuk membantu rekan rekannya yang lain yang belum beres. Barulah setelah beres semua, relawan bisa pulang ke dormitory. Oleh karena itu, di sisa waktu yang ada kami membantu team burung mempersiapkan enrichment untuk esok. And done for today/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s