Daging Apa?

Sebungkus plastik menemani perjalanan saya dan Ito menuju kota Manado.

Bentuknya tidak jelas rupa, tapi saya tahu betul bahwa isi yang ada di dalamnya adalah daging. Saya coba pegang bungkusan tersebut. Saya amati lebih seksama. Bau bumbu rempah tercium dibalik sela sela simpul plastik yang diikat erat.

Masakan yang kaya bumbu, pasti masakan khas Minahasa tebak saya dalam hati.

“Itu RW yaki (yaki = monyet),” kata Ito menjawab rasa penasaran saya.

Sejurus kemudian saya membayangkan monyet monyet yaki yang saban hari saya ikuti dan amati tingkah lakunya, kini tinggal bongkahan bongkahan daging bercampur rempah rempah dan tepat berada di dalam genggaman saya. Ya, dalam genggaman saya.

Perut saya tiba tiba bergolak. Saya ingin muntah. Bau rempah rempah yang tadinya lezat itu sekarang berganti menjadi bau amis. Saya ingin muntah.

Ito kemudian bercerita perihal asal muasal daging tersebut dia dapatkan. Tentu saja saya yakin bukan Ito yang memasaknya. Ito mendapatkannya dari salah seorang kawannya yang kebetulan mampir di salah satu rumah makan khas Minahasa. Dan di sanalah kawan Ito menemukan menu ekstreme menggunakan daging hewan yang dilindungi.

Bukan hanya daging yaki, daging anjing, tikus, kelelawar, bahkan kucing pun tersedia dalam list menu rumah makan tersebut.

“Gila!!! Daging kucing aja sampai disediakan.” hardik Ito kesal.

“Kami ini memang orang rakus. Tidak bisa membatasi diri. Sampai sampai semua hewan yang berkaki itu bisa kami makan sepuasnya.” ungkap Ito penuh kejengkelan menceritakan kejelekan kaumnya.

Ito pantas kesal, karena hampir dua tahun ini dia berjuang menyelamatkan yaki yaki dari ancaman perburuan melalui penyadartahuan masyarakat serta dukungan bagi pengembangan masyarakat desa. Dua tahun itu pula Ito mengajak partisipasi warga yang hidup berdampingan dengan yaki untuk bisa menjaga dan mencintai mereka.

Mobil pun melaju menuju kantor pelindung dan penyelamat satwa dilindungi. Tujuan kami hanya satu, melapor. Sebagai masyarakat biasa, upaya inilah yang setidaknya bisa kami lakukan untuk membantu para petugas penegak hukum menegakkan hukum setegak tegaknya dan menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan.

Sayang, siang itu kantor sepi. Dan asa kami harus ditunda hingga keesokan harinya.

***

RW = Masakan khas Minahasa yang kaya dengan rempah rempah. Biasa dikenal dengan bahan dasar daging anjing, namun bisa juga menggunakan jenis binatang lainnya.

Ito, salah satu teman baru saya di Tangkoko. Dia mempunyai pekerjaan ganda. Selama musim libur sekolah, Ito memanfaatkan waktunya sebagai pemandu wisata di hutan Tangkoko. Sedangkan pada saat KBM (kegiatan belajar mengajar) berlangsung, Ito lebih sering menghabiskan waktunya sebagai fasilitator edukasi lingkungan bagi sekolah sekolah di sekitar Cagar Alam Tangkoko-Duasudara.

One comment

  1. violetcactus · September 28, 2012

    omg.. pertanyaan saya sudah terjawab di sini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s