Makan Daging

“Tidak mudah untuk mencari tempat makan di Manado, Minahasa dan sekitarnya”. Kata salah seorang teman baru saya yang anak kantoran dan berasal dari Banjarmasin.

Sudah dua tahun ini dia dan istrinya tinggal di Manado. Tuntutan pekerjaan sebagai PNS mengharuskan dirinya untuk rela dipekerjakan di lain daerah. Penyesuaian demi penyesuaian pun dia lakukan, termasuk urusan perut.

Memang tidak mudah untuk mencari tempat makan di sini. Bukan hanya sekedar selera, tapi juga halal.

Hampir kebanyakan rumah makan di sini menyajikan menu yang bagi kami umat muslim tidak diperkenankan. Daging babi adalah pemandangan yang mudah dijumpai di setiap rumah makan. Daging anjing pun tersedia di beberapa rumah makan tertentu. Daging tikus, daging kelelawar dan daging daging lainnya yang belum pernah saya dengar sebelumnya banyak disajikan di sini, di rumahmakanrumahmakan khas Minahasa dengan sebutan “RW”.

Membuat saya ngeri karena setiap kali mendengar namanya, yang terbayang bukan hidangan lezat, tapi sosok hewan di dalamnya.

Paling aman tentu saja masak sendiri. Lebih aman lagi, hindari makanan berbahan dasar daging. Yang lebih baik lagi, pilihlah rumah makan yang menggunakan label Muslim. Jika ragu, ucapkan bismillah sebelum makan kata pak Ustad.

Menjadi vegan mungkin lebih baik. Dari dulu saya selalu punya niat untuk mengikuti gaya hidup ini. Sayangnya selalu gagal di depan paha-dada ayam. Waktu jaman kuliah sempet juga jadi vegan kepepet di kala dompet mampet. Hanya bertahan hingga bung Karno dan bung Hatta kembali hadir.

Saya memang nggak pernah bisa serius untuk menjadi veganisme. Sulit. Ditambah lagi badan saya lumayan kurus, jadi masih membutuhkan protein hewani untuk dikonsumsi agar bisa sedikit menambah padat.

Namun beberapa tahun ke belakang ini, saya jarang makan olahan daging merah. Alasan pertama, nggak mampu. Kalaupun mampu itu kebetulan lagi Iduladha.

Yang kedua adalah efek setelah makan. Sakit kepala, pusing, mual dan susah tidur. Daripada gelisah setelahnya, lebih baik nggak makan daging sekalian.

Alasan yang ketiga, kalau masaknya nggak bener dagingnya jadi alot. Bikin pegel gigi karena musti dioper ke sana ke mari. Belum habis nasi, udah cape duluan.

Untuk daging putih contohnya daging unggas, saya belum bisa membatasi diri. Bukan karena doyan tapi… apa ya. Selama dagingnya dimasak dengan baik, no problemo.

Saya percaya bahwa gaya hidup vegan itu sehat, kaya manfaat dan tidak menghalangi aktivitas sehari hari. Akan tetapi, demi keseimbangan dunia maka elemen daging ayam tidak boleh disiasiakan menjadi tiren. Oleh karena itu, belum saatnya saya menjadi seorang vegan. Maybe just another day.

2 comments

  1. violetcactus · September 28, 2012

    tapi dengan begitu, kayaknya manado dan sekitarnya bisa menjadi surga buat penggemar kuliner ekstrim.

    kalo yaki, apa dimakan juga?

    • Ismail Agung · September 30, 2012

      iya sih ekstrim, tapi tetap tidak bisa dibenarkan jika harus makan satwa yang dilindungi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s