Yang Halal

Seperti biasa, di meja makan seusai makan malam, saya, bos saya dan beberapa rekan lainnya biasa berdiskusi kecil. Topiknya random. Mulai dari hal ga penting hingga setengah penting. Dan pada malam itu, bos saya bertanya tentang makanan halal.

Bos saya tahu kalau daging babi itu tidak diperkenankan bagi umat muslim. Dan dia juga tahu kalau tidak semua daging selain babi dikatakan halal apabila tidak melalui tata cara yang benar pada saat menyembelihnya. Namun menurut pendapat bos saya, dia tidak terlalu suka dengan tata cara halal ketika menyembelih hewan . Sangat menyengsarakan si hewan katanya, atau dengan kata lain, cara tersebut sangatlah primitif.

Apa dasar dia berkata begitu?

Alasannya adalah hewan hewan ternak yang kami sembelih dengan cara halal mengharuskan si hewan meradang menanti ajal. Begitu leher digorok, si hewan dibiarkan meronta ronta hingga habis tenaga. Baginya, hal tersebut adalah kejam. Masuk dalam kategori menganiaya.

Saya pribadi memang tidak begitu paham mengenai tata cara halal dalam urusan sembelih menyembelih. Namun dari sudut pandang saya, tujuan dari penyembelihan yang kejam itu tentu saja tak lain dari segi kebersihan, dalam hal ini adalah darah yang masih terkandung di tubuh hewan harus  dikeluarkan.

Kejam. Ya, saya tidak bisa membantah kata kata ini. Tapi karena bos saya juga masih suka makan daging, saya tidak ambil pusing. Beda cerita jika yang mengatakan kejam adalah seorang vegan. Saya akan merasa bersalah mendengarnya.

Bos saya kembali bertanya, andaikata saya akan mati, mati seperti apakah yang saya inginkan.

Mati dengan damai dan tenang, atau mati meradang?

Gila saja kalo saya memilih mati meradang. Saya pikir pasti semua orang ingin mati dengan damai. Begitu pula dengan si hewan hewan yang disembelih, apakah pantas jika mereka harus mati dengan meradang kata bos saya.

Andai saya bisa mengerti bahasa binatang.

Mencoba untuk membela diri, saya kembali menjelaskan. Walau tata cara halal tampak seperti kejam, namun kami tidak semena mena itu mencabut nyawa si kurban. Sebelum hewan tersebut disembelih ada rapalan doa yang kami berikan kepadanya.

Bos saya malah tertawa mendengarnya, “berdoa kepada siapa?” tanyanya.

Ah, penjelasan bodoh. Bos saya atheis, jadi tidak semudah itu menjelaskan perihal ketuhanan serta panjatan doa. Walau begitu, saya lebih senang jika rapalan doa sebelum menyembelih ibarat sebuah penghormatan terakhir kepada si hewan, permintaan maaf, dan ucapan terima kasih atas pengorbanan yang telah ia berikan.

Dan kematiannya yang meradang, adalah pembelajaran bagi kami tentang makna kehidupan yang hanya sementara.

6 comments

  1. violetcactus · September 21, 2012

    kalo menuruti kata si bos, bagaimana agar nyawa hewan tidak keluar tanpa meradang? apa dibius total dulu?

    ini ada award menunggumu, diambil ya..
    http://crochetmywords.wordpress.com/2012/09/20/liebster-award/

    • Ismail Agung · September 21, 2012

      ya begitu, sistem penjagalan modern di sana katanya pake bius. atau ngga ditembak di bagian kepala (bukan pake pistol) biar si hewan ngga berasa sakit dan langsung is dead. begitu katanya. entah seperti apa, yang pasti mekanismenya tanpa sempat meradang.

  2. wildfachdi · September 21, 2012

    yg jelas mah semua hewan juga punya perannya, mungkin hewan-hewan ternak malah merasa kematian mereka yg meradang untuk kurban itu merupakan cara mati yg terbaik,,

    • Ismail Agung · September 21, 2012

      itu mah jawaban bagi kami yang beriman. bagi si bos yang atheis mah “can tangtu” sepaham.

      • wildfachdi · September 22, 2012

        ah, kumaha menurut sains welah, tapi buktina kan di dalam darah teh loba panyakit,, terlepas eta kejam atau tidak,, selama untuk kesehatan mah apa salahnya… da moal matak nu dipeuncit nga-jungjurigan…

  3. Hijihawu · September 22, 2012

    Kita pernah diembargo karena hal ini katanya tidak berperi kebinatangan. Tidak akan pernah ada pertentangan syariat dengan kebaikan. Tinggal hikmahnya yang belum terungkap sepenuhnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s