bukan hari yang cerah

Waktu baru saja menunjukkan pukul 07:48 pagi, namun suasana hari sudah seperti menjelang bedug maghrib.

Ini bukan tentang kondisi perut saya yang berharap konser keroncong yang dimulai lebih awal, tapi memang kondisi langit pagi ini persis seperti hendak menutup hari. Aneh. Monyet-monyet juga mungkin berpikir seperti itu, malah beberapa di antara mereka ada yang sudah mau tidur lagi di pohon.

awan hitam

Di lepas laut utara ternyata awan hitam lebih banyak bergumul. Dengan kecepatan angin entah berapa knot. Awan-awan hitam itu seakan berlomba-lomba untuk segera sampai di hutan Tangkoko. Salah satu dari awan itu bisa jadi awan Kin-toun, awannya pendekar monyet sakti –hehehe-.

Setibanya awan-awan hitam di Tangkoko, ternyata malah nggak ada hujan sama sekali. Yang ada cuman cipratan cipratan air sisa. Sepertinya muatan airnya sudah terlebih dahulu ditumpahkan di lepas laut utara sana. Soalnya si volume air laut tiba-tiba jadi meninggi. Karang-karang yang tadinya kelihatan nonggol, sekarang hampir kebanyakan terbenam dan tersapu ombak.

Cuaca langit kayak gini enaknya dinikmati sambil nge-teh anget. Selepas bedug maghrib tentunya😀 sambil berbuka.

2 comments

  1. Sandi Warisman · Agustus 6, 2012

    wiez mantab lah……kapan ung kumpul lagi……..gmn kbrnya???

    • Ismail Agung · Agustus 7, 2012

      Kabar baik brur. Tahun depan lah kita kumpul lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s