Migrasi

Begitu menginjak dewasa, monyet jantan Yaki akan mencoba peruntungan nasibnya dengan bermigrasi ke grup lain. Jika berhasil, mereka akan diterima jadi anggota. Jika gagal, mereka bisa saja kembali ke grup lamanya, atau tidak memiliki grup sama sekali, atau malah cedera.

Mungkin akan muncul sebuah pertanyaan sederhana bila melihat perilaku migrasi yang dilakukan monyet ini ketika beranjak dewasa. Kenapa harus repot-repot pindah grup jika sebenarnya mereka bisa hidup nyaman di grup di mana mereka dilahirkan.

Kasus berpindah grup bukan hanya ada pada Yaki saja. Semua primata melakukan migrasi begitu mereka dewasa. Dalam banyak kasus, primata jantan lebih sering melakukan migrasi. Akan tetapi, primata Bonobo (sejenis Simpanse), justru betinalah yang melakukan migrasi.

Lalu kenapa harus pindah? Apakah bosan, merasa terintimidasi, ingin naik pangkat atau susah mencari pasangan?

Memang benar ketika monyet bermigrasi adalah untuk mencari pasangan. Memang benar ketika monyet bermigrasi adalah untuk mendapatkan akses bereproduksi. Namun dibalik alasan-alasan tersebut, bermigrasinya seekor monyet merupakan suatu keharusan untuk melestarikan keturunannya secara genetis.

Bermigrasinya seekor monyet dari grup dimana ia dilahirkan adalah sebuah taktik untuk menghindari inbreeding. Inbreeding adalah sebuah perkawinan tertutup atau perkawinan  individu yang memiliki kekerabatan dekat. Misal kakak mengawini adiknya, ayah mengawini anaknya, anak mengawini ibunya, kakek mengawini cucunya dan nenek mengawini cucunya.

Generasi yang berasal dari praktik inbreeding cenderung berefek pada tingkat kesuburan yang menurun, meningkatkan resiko kelainan genetik, rata-rata kelahiran rendah, kematian bayi tinggi, pertumbuhan yang lambat,dan hilangnya fungsi sistem kekebalan tubuh. Bila terjadi secara terus menerus, lambat laun akan terjadi kepunahan.

Seiring dengan waktu, kasus inbreeding pada satwa liar bisa saja terjadi dengan mudahnya. Tentunya dengan campur tangan manusia. Secara  tidak langsung, hilangnya habitat atau fragmentasi habitat (habitat yang terpotong-potong) mengakibatkan ruang migrasi satwa menjadi terputus. Dalam hal ini satwa menjadi terisolasi pada suatu kawasan. Isolasi ini tentu saja membatasi ruang gerak satwa untuk menemukan pasangan di luar dari kerabatnya.

Dalam beberapa generasi, satwa yang terisolasi bisa saja bertahan hidup namun sayangnya dia rentan.

Sebelum aturan tercantum dalam kitab, alam telah menunjukkan jalan untuk mempertahankan generasi melalui migrasi.

*untuk anda yang membaca, sudah bermigrasi kemana saja hingga saat ini?

4 comments

  1. umet2 · Desember 5, 2012

    Sukaaa dengan Blognyaaa…jadi kangen yaki…….!!🙂

  2. umet2 · Desember 5, 2012

    Kapan yah migrasi kembali ke tangkokom🙂

  3. spizaetus · Desember 8, 2012

    untung saya migrasi ke tanah sunda😮

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s