Akses Pejantan

Perebutan puncak kekuasaan pada sistem sosial Yaki mengingatkan saya pada film-film kolosal yang dulu suka diputar di Indosiar tentang kisah-kisah kerajaan jaman baheula dimana sang Raja sekuat tenaga mempertahankan tahtanya dengan kekuatan yang dimilikinya dari pesaingnya.

Pesaing perebut kekuasaan ternyata bukan saja jagoan dari negeri antah berantah, tapi bisa juga berasal dari lingkungan kerajaan itu sendiri. Bahkan bisa jadi kerabat terdekatnya yang tanpa disangka malah menusuk dari belakang.

Perebutan kekuasaan merupakan sebuah pemandangan umum yang sering dijumpai dalam sistem sosial Yaki. Yaki dewasa memiliki sistem hierarki yang menunjukkan peringkat dalam kelompok. Dari yang tertinggi, hingga yang terendah. Sistem peringkat ini tidak selalu stabil, karena dalam prakteknya, tentu saja ada Yaki yang ingin naik peringkat (mengambil kekuasaan).

male-tilman
Tilman-Alfa
male-rawing
Rawing-Beta
male-caplang 2
Caplang-Gamma
male-kampret
Kampret-Middle Rank
male-wartabone
Wartabone-Low Rank

Hierarki Jantan Dewasa pada Rambo II (foto ©Ismail Agung)

Menjadi seekor Raja di kelompok Yaki adalah sebuah posisi yang sangat diidamkan oleh setiap jantan dewasa. Akan tetapi tidak mudah untuk mendapatkan posisi tersebut. Terlebih lagi mempertahankannya. Dan tentu saja resikonya pun sangat besar. Bisa-bisa nyawa melayang.

Untuk menjadi pemimpin Yaki dibutuhkan fisik yang kuat dan nyali yang besar. Fisik kuat untuk bertarung, nyali besar untuk menakuti para pesaingnya.

Lalu kenapa Yaki harus bersusah payah untuk mendapatkan posisi puncak?

Jawaban sederhananya adalah akses.

Dosen saya dulu pernah bilang, satwa liar membutuhkan tiga aspek penting dalam hidupnya.

  1. Sumber Makanan
  2. Reproduksi
  3. Habitat/tempat tinggal

Jadi, ketika monyet Yaki mendapatkan posisi tertinggi dalam sistem sosialnya maka akan mempermudah dirinya untuk mendapatkan akses dari ketiga aspek di atas.

Baik jantan maupun betina dewasa sama-sama membutuhkan ketiga aspek tersebut namun pada jantan, aspek reproduksi sangat menonjol sekali. Khususnya jantan alfa.

Pada saat betina memasuki masa birahi (estrus), jantan alfa memiliki akses penuh untuk melakukan perkawinan (mating). Oleh karena itu, jantan alfa akan melakukan penjagaan ketat kepada si betina agar jantan lainnya tidak memiliki kesempatan untuk kawin. Bila ada jantan lain yang coba-coba, jantan alfa tidak segan untuk mengancam dan menyerang.

Lain halnya dengan betina, sistem hierarki antar betina justru ditunjukkan pada sumber makanan. Betina alfa mendapatkan sumber makanan yang banyak dibandingkan dengan betina-betina di peringkat bawah. Sumber makanan berpengaruh kepada asupan gizi dan kebutuhan reproduksi serta bayinya. Tujuannya, tidak lain agar si anak kelak menjadi monyet yang kuat dan meneruskan silsilah peringkat.

Belajar dari sistem sosial Yaki bagi saya seakan sebuah refleksi yang nyata yang memang terjadi juga dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain, ada beberapa kemiripan, yaitu

“male thinks about sex, female thinks about resources”

Tidak sepenuhnya bener sih, tapi setidaknya :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s