100 hari di tangkoko

Nggak kerasa, udah 100 hari lebih saya jadi penghuni hutan Tangkoko. Pastinya banyak sekali kejadian yang sudah terjadi selama itu. Dan tentu saja, nggak bakalan jauh dari kisah para monyet jambul hitam endemik sulawesi utara.

Selama 3 bulan ini saya berusaha untuk mengenal semua monyet Yaki yang jadi objek penelitian. Berhubung fokus bos saya lebih cenderung kepada para jantan dewasa, jadi saya lebih mengenal baik para jantannya ketimbang betina. Walaupun sebenarnya sebagian dari mereka masih direka-reka karena kurang lebih mirip satu sama lainnya.

Dari hasil pengamatan selama ini juga, hasil yang didapat tidak terlalu mengecewakan. Topik utama dari tujuan penelitian yaitu mengenai migrasi jantan telah terjadi di dua grup yang diamati. Meskipun sering terjadi, tapi kejadian semacam ini agak jarang-jarang.

Kalau sudah ada kasus jantan baru di suatu grup, biasanya dalam seminggu jadi hari super sibuk untuk mengikuti si jantan baru tersebut terus menerus. Diikuti dan diambil data juga. Macam-macam datanya, mulai dari data tingkah laku, aktivitas, interaksi sosial dengan anggota grup lainnya, hingga sampel kotoran juga dikoleksi. Untuk ke depannya juga rencananya mau morfometrik (semacam ukur badan kayak bayi imunisasi) dengan menggunakan trik kamera yang diatur sedemikian rupa dengan presisi yang tepat. Kayaknya ribet deh.

Andai tuh monyet-monyet bisa disuruh antri duduk kayak di posyandu, kayaknya morfometrik nggak bakalan terlalu ribet.

Untuk koleksi sampel kotoran. Wah, ini sih suka nggak suka musti ngelihatin terus pantat si monyet. Soalnya kalau nggak diperhatikan, bisa jadi si monyet boker tanpa sepengetahuan dan terjatuh entah di mana. Kalau dapat sampel juga nggak begitu aja langsung dimasukkan ke botol. Musti diacak-acak terlebih dahulu, katanya sih biar kandungan hormon yang ada di dalamnya merata.

Syukur-syukur kalau dapat sampel yang padat tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembek. Lebih mudah untuk diacak-acak. Nah, kalau dapat sampel yang keras atau encer, biasanya ini jadi masalah yang nge-betein. Belum lagi baunya yang minta pengharum ruangan. Beuh.

Untuk vegetasi hutannya, menurut saya hutan tangkoko terbagi menjadi dua vegetasi. Yang satu adalah vegetasi yang ngademin, sedangkan yang satu lagi adalah vegetasi yang ngamit-amitin.

Vegetasi yang ngademin itu adalah tipe vegetasi yang enak buat jalan, teduh, dan banyak pilihan untuk duduk di akar banir. Sedangkan vegetasi yang ngamit-amitin adalah tipe vegetasi yang bikin gerah, semak-semak, dan banyak liana berduri yang suka bikin badan nyangkut-nyangkut kayak layangan putus akibat kesamber menyamber antena tv. Biasanya, kalau pulang dari vegetasi ngamitin badan udah penuh luka gores di sana sini. Bikin perih. Apalagi kalau nyemplung ke laut.

Kayaknya semua pengalaman yang terjadi kagak ada sukanya. Miris emang, tapi masih belum seberapa sih dengan kenyataan yang sebenarnya. Namanya juga hidup, kalau ini semua nggak dinikmatin, hasil yang didapat juga nggak akan seindah usahanya.

Kalau yang ini nggak dinikmatin, bagaimana dengan 266 hari yang tersisa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s