Kera-Kera Humanis

Baru beres nonton salah satu film layar lebar yang punya judul “de Rais op de Planet op de Eps”.

Pasti bingung.

Film apaan sih ini? Itu tuh, film yang ceritanya tentang kera-kera yang mendadak jadi sepintar manusia.

Faktanya memang film ini mengisahkan tentang kera yang diperlakukan layaknya seorang anak manusia. Dari mulai berkomunikasi, berpikir, hingga bertingkahlaku diajarkan selayaknya anak manusia.

Plot ceritanya nggak bakal jauh dari kehebatan si kera yang pada akhirnya berbalik melawan manusia. Mendobrak determinasi dan dominasi. Walhasil terjadilah pertarungan antara si manusia dan si kera. Si kera ingin mendapatkan kebebasan haknya, sedangkan si manusia ingin mendapatkan keamanan dan menunjukkan superiotasnya. Karena manusia selalu merasa lebih baik.

Melihat film ini saya jadi ingat tentang orangutan yang pernah saya jumpai dulu di Kalimantan. Bukan tentang orangutan yang menjadi hebat dan pintar lalu melawan manusia, seperti di film. Tapi tentang orangutan yang kisahnya hampir sama dengan si tokoh utama film yaitu Caesar, kera yang diperlakukan humanis.

Maksudnya humanis?

Intinya sih, bayi-bayi orangutan yang pernah saya jumpai diperlakukan layaknya seperti manusia. Diperlakukan di sini bukan merujuk kepada cara penanganan. Bagaimanapun juga 97% DNA orangutan hampir sama dengan manusia, maka tentu saja penanganannya pun akan sedikit sama. Terutama pada bayi tanpa induk. Sebisa mungkin manusia yang mengasuhnya harus berperan menjadi ibu dan menangani sang bayi layaknya bayi manusia.

Menanggani tidak sama dengan memperlakukan. Inilah yang kadang menjadi miris buat saya. Orangutan adalah orangutan. Sedekat apapun kekerabatan genetik manusia dengan orangutan tetap saja saya merasa aneh jika mereka diperlakukan selayaknya manusia.

Ambil contoh, makan nasi. Dimandikan dengan sabun. Dibiasakan berjalan kaki. Ikut beraktivitas bersama manusia (mendengarkan lagu, menonton TV, merokok, dmbl).

Humanis.

Pernah juga saya mendengar sebuah ide dari kawan yang bekerja di salah satu rehabilitasi satwa. Mereka berencana untuk menempatkan sebuah peranti computer touchscreen sebagai bagian dari enrichment (pengayaan) dimana di dalamnya akan diinput sebuah program yang berisi gambar buah-buahan. Jadi bilamana orangutan merasa lapar, mereka tinggal menyentuh gambar buah, dan nantinya buah tersebut akan datang. Luar biasa Hi-tech.

Saya menyebutnya enrichment 2.0, era digitalisasi yang mengantikan peranan alam sebagai media penopang sisi liar satwa.

Perlakuan yang menghumaniskan ini mungkin setidaknya lebih baik dibandingkan dengan mereka yang memperlakukan satwa secara barbar. Seperti kasus pembantaian orangutan yang sempat marak beberapa bulan lalu. Meskipun lebih baik, belum tentu juga perlakuan menghumaniskan satwa adalah sebuah kebenaran.

Selayaknya satwa, mereka hidup dengan keliarannya.

Jika suatu hari mereka hidup seperti manusia, siapkah kita (bersaing mempertahankan hidup)?

2 comments

  1. Hijihawu · Januari 28, 2012

    Memanusiakan orang utan saya pikir justru tindakan yg tidak manusiawi. Biarkan saja mereka hidup dg cara dan kodratnya agar mereka juga berkembang secara natural… Pengalaman hidup dg orang utan pasti sangat berkesan ya…

    • Ismail Agung · Februari 2, 2012

      setuju.
      kesan yang didapat, sangat menyedihkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s