My Gadget are Downgrade

Ketika orang-orang saat ini tengah sibuk untuk meng-upgrade dirinya dengan berbagai macam teknologi terbarukan (gadget), saya malah sibuk mencari rumusan bekas yang sudah ditinggalkan beberapa tahun silam.

Sebagai manusia masa kini, jujur saya juga tidak mau ketinggalan untuk hidup dalam perangkat elektronik canggih. Sayangnya, dari segi kualitas dan kuantitas saya masih belum cukup mampu untuk mengapainya. Maka oleh dari karena itu (buang-buang kata) saya memilih barang-barang tangan kedua yang secara produktivitas masih dapat diandalkan.

Dalam menjalani hari-hari, tentunya saya tidak lepas ditemani oleh para gadget yang dengan senantiasa mendukung aktivitas saya selama ini. Dan inilah beberapa di antaranya.

1. Canon EOS 350D (keluaran 2003, hak milik 2010)
Kalau dibandingkan dengan kamera masa kini, tentu saja ini kamera kalah jauh kelasnya. Meskipun punya embel-embel DSLR, tapi kalo orang sudah lihat tipenya pasti bakal ooooooo. Emang sih ini kamera ini ga ada tai-tainya dibandingkan merk Canon/DSLR masa kini yang punya iming-iming Full HD, sekian MegaPixel dan feature mumpuni dalam mengolah gambar hasil jepretan. Namun secara fungsi, dia masih layak untuk teknik pembelajaran manual.
Senior saya pernah bilang, sebuah karya bagus bukan hanya karena alat yang digunakannya melainkan orang yang memakainya. Dalam bahasa inggris dikenal dengan quote “De men bihain de Gan”.
Mungkin karya jepretan saya belum bisa dikatakan BAGUS, tapi secara pribadi saya mengatakan LAYAK TAMPIL (muji diri sendiri). Klo penasaran, bisa dilihat di sini dan di sini.

2. Nokia 6300 (hak guna 2008)
Hasil rampasan dari ibu saya sendiri. Waktu itu sengaja saya rampas karena terlalu keren klo HP ini cuman dipakai untuk telepon-sms doang, apalagi sama emak-emak. Waktu jaman itu saya kesengsem karena ada feature push emailnya. Ga perlu repot-repot setting pop atau imap, tinggal pilih akun lalu dia bakal setting sendiri. Sempet juga saya pakai buat posting blog via email (pyuh, untungnya saya pengguna aktif menulis dengan T9, jadi ga susah untuk mengetik panjang-panjang di hp dengan bahasa baku).
Seiring dengan waktu akhirnya dia uzur (batere nge-drop, microphone tak berfungsi, keypad jebol). Tapi dia masih senantiasa saya gunakan dengan cukup baik dan dengan fungsi yang berbeda. Dia tidak lagi sekedar sebuah handphone, kini dia menjelma menjadi MODEM. Dengan sedikit settingan di laptop dan tentunya kartu khusus modem (saya pakai Flash), saya bisa menjelajahi dunia maya. Lebih kerennya lagi saya menggunakannya secara nirkabel. Aktifkan bluetooth, sinkronkan dengan PC Suite, buka browser, eng ing eng. Mari berselancar. Speednya gimana? Halah sama saja, klo kuota sudah habis mah tetep aja sealakadarnya. Hehehe. (apa susahnya sih beli modem yang udah jadi?)

3. Hawlett-Packard Ipaq hx2190b (keluaran 2004, hak milik 2011)
Barang satu ini masih terhitung baru. Maksudnya baru seminggu di tangan, padahal belinya udah 4 bulan yang lalu (red, Agustus 2011). Sejenis Pocket PC layar sentuh dan tidak bisa digunakan untuk teteleponan (awalnya saya kira bisa Sad smile). Murah, cuman 350 ribu saja (BM). Tujuan utama saya membelinya adalah untuk memperlancar pengambilan data pada saat penelitian dengan software khusus yang bernama Cybertracker. Pertamakali memegangnya, cukup catchy dengan tampilan sistem operasi Windows Mobile 6.5 yang menyerupai iPhone atau Tablet (touch and drag). Tapi bukan ini yang saya butuhkan.
Sistem yang terlalu keren menjadikannya lambat dan ada beberapa fitur yang hilang. Dengan terpaksa saya meminta untuk di downgrade ke sistem operasi semula yaitu WM 5. Seminggu berlalu sejak permintaan saya, ternyata belum juga diproses. Alasannya ini itu. Setengah putus asa saya bawa pulang dan berusaha sendiri mencari jalan keluarnya. Dua hari saya mendekam di kamar, berselancar ke sana ke mari. Unduh program ini, unduh program itu. Sempat saya menyerah dan berusaha menikmati apa yang sudah ada, tapi naluri penasaran saya belum menyerah. Hingga akhirnya saya menemukan jalan keluar dari permasalahan yang ada dan eng ing eng, saya bisa mengganti sistem operasinya sesuai dengan keinginan.
Untuk selanjutnya, si “naha” (red, pocket pc) akan menggantikan peran si “tara” (red, netbook) yang akan saya hibahkan kepada Teteh saya. Biar Teteh saya ga gagap teknologi. Walaupun si “naha” bentuknya mini, saya mencoba untuk mengoptimalkan fungsi yang ada di dalamnya. Saya jejalkan berbagai macam program yang sekiranya memang saya butuhkan. Let see, how long you go.

Yups, itulah sekelumit gadget yang saya miliki dan hampir up to death. Pesan sponsor,

”Sekeren apapun gadget yang kamu punya, ga akan keren jika tidak bisa mengoptimalkan fungsinya.”

NB: postingan ini sengaja tidak pakai foto, biar ga disangka nyombong Smile with tongue out hehehe (padahal kameranya lagi rusak).

14 comments

  1. arman budiman · Desember 2, 2011

    kalau kita bisa memanfaatkannya dengan baik, pasti bisa optimal :jempol: salam kenal😀

  2. gadisjeruk · Desember 2, 2011

    ”Sekeren apapun gadget yang kamu punya, ga akan keren jika tidak bisa mengoptimalkan fungsinya.”

    SEPAKAT BANGET!!

    dan ternyata kita sama, N6300 ku juga sudah udzur tapi tetep setia menemani..🙂

    • Ismail Agung · Desember 2, 2011

      Sayang banget yah.. Padahal si 6300 ini termasuk membanggakan bagi saya.

  3. ibonobi · Desember 2, 2011

    tersindir.. gadgetku sony experia x10i.. tapi gak semua aplikasi aku maksimalkan dengan baik… baca ni artikel, jadi harus bener2 mengoptimalkan fungsinya…
    “like this”🙂

    • Ismail Agung · Desember 2, 2011

      Wow, maaf ya… Ngga bermaksud untuk menyindir, tapi berbagi dan mengajak serta🙂

  4. nanangrusmana · Desember 2, 2011

    halooo…mampiiiir sebelum pulang kerja nihhh minta difoto pake kameranya dong…🙂

    • Ismail Agung · Desember 2, 2011

      Hahaha, kamera saya masuk rumah sakit Mas. Untuk sementara, no picture. Hehehe…

  5. Ranty Carolyna Sidharta · Desember 4, 2011

    hahahah… si gw gaptek yup ;(
    anyway thanks yaa mdh”an netbooknya bisa bermanfaat…

  6. crazyhusband · Desember 5, 2011

    kebanyakan dari alasan saya tidak upgrade gadget adalah karena ketidakmampuan saya untuk membelinya hehehe.. kalau ada yang ngasih sih ya gak papa😀

    • Ismail Agung · Desember 5, 2011

      Hahahaha, like this. Alasan yang sangat jujur dari lubuk dompet yang sangat dalam😀

      • crazyhusband · Desember 6, 2011

        wakakaka.. betul 100% apalah daya dompetku tak setebel dompetmu😛

      • Ismail Agung · Desember 8, 2011

        Dan kini dompetku tak setebal dompetnya😦

  7. Biolog · Desember 11, 2011

    hahahaha… kendala yang melanda saya dan hampir kebanyakan orang “apa daya dana tak sampai” tapi kalo diberi ga bakal nolak (pastinya)…. hahahahaha ;p
    tapi yang namanya konsep “bersyukur” dengan yang kita punya emang selalu “ajib” hasilnya..

    ”Sekeren apapun gadget yang kamu punya, ga akan keren jika tidak bisa mengoptimalkan fungsinya.”

    like this ^^d

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s