Orangrantau di Negeri Orangutan

otanSatwa dilindungi, begitulah orang-orang mengenalnya. Tidak hanya orang Indonesia saja, akan tetapi orang-orang dari seluruh dunia pun mengakui bahwa satwa satu ini merupakan satwa yang (harus) dilindungi. Namun nyatanya, di luar dari kertas pernyataan dilindungi tersebut, nasib orangutan di alamnya justru tidak terlindungi.

Orangutan memang bukan makhluk baru bagi saya. Saya mengenalnya dari kecil sejak uang kertas limaratus rupiah masih berlaku. Namun, berbagai informasi mengenai kondisi orangutan saat ini justru banyak saya dapatkan setelah mengikuti pembekalan relawan orangutan yang diselenggarakan oleh Center for Orangutan Protection.

Beruntungnya saya, setelah pembekalan relawan selama satu minggu akhirnya saya terpilih sebagai salah satu anggota tim yang diberangkatkan ke Samarinda selama tiga bulan. Di sini (Samarinda) selama satu bulan pertama yang bertepatan dengan ramadan, saya membantu rekan-rekan yang sebelumnya ditugaskan untuk mengurus dan merawat orangutan.

Uci dan Michel

Untuk pertamakalinya dalam pengalaman hidup saya bisa menyentuh orangutan secara langsung. Saya sering melihat orangutan di kebun binatang, tapi menyentuhnya secara langsung adalah pengalaman yang berbeda. Namun bukan rasa bangga yang saya dapatkan, melainkan rasa sedih yang mendalam.

micel 008Uci dan Michel, dua bayi orangutan yang berusia kurang dari 5 bulan harus hidup dan tumbuh tanpa kehadiran induknya. Mereka diselamatkan setelah sebelumnya sempat dipelihara terlebih dahulu oleh warga. Setiap harinya, terutama Michel sering merengek dan menjerit sedih. Seringkali di tengah malam atau saat saya dan rekan-rekan sedang sahur terdengar rengekannya. Mau tak mau salah seorang dari kami menghampiri dan membuatkannya sebotol susu lalu menidurkannya kembali.

Cara itu kadang tidak berhasil. Karena bukan sebotol susu yang dia butuhkan melainkan pelukan sang induk. Tangannya akan terus menjulur keluar dari ranjang dan berusaha mengapai seseorang yang ada di depannya sambil menjerit-jerit. Ia baru tenang ketika dia bisa meraih orang yang ada di depannya dan memeluk erat menggantung di bagian perut.

Dan kamipun sahur bergantian sambil memeluk Michel dalam dekapan.

Belajar di Sekolah Hutan

Kebun Raya menjadi basecamp sementara kami selama di Samarinda. Ada 9 ekor orangutan penghuni Kebun Binatang mini yang dikelola oleh Kebun Raya. Kisah mereka cukup beragam, ada yang serahan sukarela dari warga, evakuasi dari orang yang memelihara, bahkan ada yang tidak jelas asal usulnya.

Setiap hari sabtu kami memiliki program rutin untuk orangutan yaitu sekolah hutan. Bersama perawat satwa, kami membawa orangutan masuk ke kawasan hutan yang masih ada di dalam areal Kebun Raya. Tujuan dari Sekolah Hutan adalah mengajarkan dan mempertahankan sifat liar orangutan, seperti memanjat pohon, membuat sarang, dan memilih buah liar untuk dimakan.

Di satu kesempatan, saya mendapatkan peran mengawasi Pingpong, orangutan jantan berusia 3 tahun. Pingpong memiliki asal usul yang tidak jelas. Menurut cerita, perawat satwa menemukan Pingpong di halaman parkir Kebun Raya. Seseorang mungkin dengan sengaja meninggalkannya di sana.

orangutan 051 orangutan 098
orangutan 110 orangutan 122

Saat sekolah hutan tiba, Pingpong sangat manja sekali. Dia enggan melangkahkan kakinya menuju lokasi hutan. Layaknya seorang anak kecil yang sedang merajuk, dia hanya duduk diam sambil menyilangkan kedua tangannya. Sesekali dia memalingkan mukanya. Jika sudah begini, hanya ada dua pilihan: menunggunya atau memaksanya.

Bila menunggu cukup terlalu lama, maka opsi kedua harus diambil, memaksanya berjalan. Meskipun begitu, Pingpong tetap saja malas. Ia tidak melangkahkan kakinya, ia justru bertumpu pada lengan saya dan berjalan mengayun.

Di sekolah hutan, Pingpong enggan memanjat pohon dan belajar membuat sarang. Dia hanya duduk-duduk memainkan batang kayu mati yang sudah lapuk dan mengigitinya. Sesekali dia merajuk dengan gaya khasnya.

Semua hal yang dilakukan Pingpong dicatat dalam buku harian Sekolah Hutan, baik tingkahlakunya maupun jenis makanan yang diambilnya. Setiap perubahan tingkahlaku orangutan dapat terawasi dari buku catatan tersebut.

 

Satu bulan kemarin bersama orangutan adalah pengalaman pertama bagi saya berpuasa hingga berlebaran bersama para orangutan dan juga pengalaman pertama bagi saya berlebaran jauh dari orangtua. Meskipun jauh dari sanak famili, dan tiada ketupat serta opor ayam, saya bersyukur masih diberikan ceritalebaran yang amat berharga.

One comment

  1. saptriyawati · September 5, 2011

    kasihan mereka, memang sekarng ini bnyak sekali satwa kita yang kehilangan habitat asli bahkan terpisah dari induknya.

    Di Aceh sejak banyak terjadi kebakaran hampir banyak satwa sepeti gajah dna orang hutan yang berkeliaran di jalan raya, miris rasanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s