Mengejar Owa Di Pagi Buta (Pengamatan Triangulasi Owa)

~Catutan hari ke 29~

Dua hari panas dibalas hujan geledek semalam.

Saking derasnya, sampai-sampai rencana untuk pengamatan triangulasi Owa waktu subuh terpaksa dibatalkan karena cuaca masih menyisakan sedikit rintik hujan. Untuk pengamatan triangulasi Owa, kita emang ga tanggung-tanggung berangkat di pagi buta. Jam 4 subuh kami berangkat menuju Listening Site.

Menuju lokasi Listening Site pun harus kamu tempuh dengan menggunakan perahu sekitar 15 menit perjalanan. Itu juga waktu tempuh pada siang hari. Menjalankan perahu di malam atau kegelapan butuh kewaspadaan cukup tinggi. Ga mudah, karena Sungai Mohot (nama sungai tempat lokasi penelitian) dipenuhi dengan batang, ranting pepohonan besar yang hanyut dan tersangkut. Belum lagi riam-riam (batu cadas) yang lebih membahayakan jika tertabrak perahu.

Jadi, saat menjalankan perahu dalam kegelapan dibutuhkan waktu 2 kali lipat dari waktu normal di siang hari.

Pengamatan triangulasi sebenarnya ga terlalu cape-cape amat. Setidaknya lebih ringan dibandingkan pengamatan di jalur transek sepanjang 2 km. Kami hanya tinggal duduk, mendengarkan suara-suara Owa yang bernyanyi menyambut hari, serta mencatat sudut asal suara berasal. Nyantai sih, tapi klo semua Owa sudah pada bunyi jadinya malah ribet. Buku catatan, jam tangan, pensil, kompas, semuanya jadi berantakan.

Berhubung pengamatan triangulasi untuk hari ini dibatalkan, entah mau ngapain :p. Mungkin harus cuci celana dalam, biar ga hujan deras lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s