Juru Masak Janda Muda, Penyelamat Penyemangat atau Pertanda Kiamat?

Kemarin terjatuh, hari ini malah disengat lebah..

Nasib lagi kurang menguntungkan akhir-akhir ini. Harus banyak berdoa dan minta petunjuk keselamatan sepertinya.

Yang lebih mengejutkan, siang ini pas saya baru bangun dari tidur siang, Pak Aspor (kepala pemandu) tiba kembali ke basecamp. Yang bikin terkejut bukan kehadiran Pak Aspor, tapi seseorang di belakangnya. Seorang yang sebenarnya ingin saya hindari kehadirannya di basecamp.

Siapa dia dan kenapa dia bisa datang?

Begini ceritanya…

Selama ekspedisi ini berlangsung, makanan selalu menjadi sorotan utama dan menjadi cikal bakal induk permasalahan yang terjadi. Di minggu-minggu awal, pemandu yang kita sewa untuk mengurus dapur malah menyatakan mundur karena tidak sanggup. Dan kemarin, juru masak yang baru ditunjuk pun menyatakan tidak sanggup untuk mengurus segala urusan dapur. Hingga akhirnya ia memberikan solusi agar menyewa seorang wanita yang tentu saja ahli di bidang masak memasak.

Solusi tersebut tentu saja kami terima, karena bagaimana pun juga urusan makanan ini sangat krusial. Dan Pak Aspor yang tadinya minta ijin untuk berobat ke puskesmas desa karena penyakit diare yang tak kunjung sembuh, akhirnya malah disuruh sekalian mencari dua orang ibu-ibu yang sekiranya mau bekerja mengurus dapur basecamp.

Setibanya di basecamp, Pak Aspor yang ditugasi untuk mencari juru masak baru datang dengan dua orang wanita. Salah satu diantaranya saya kenal, dan dia pernah saya temui di desa. Dalam keadaan mabuk. Yup saya mengenalnya saat dia sedang mabuk berat dan menghampiri saya meminta ijin untuk mengajak teman-teman bule ikut berpesta dengannya.

Bicara tidak karuan, bau arak, jalan sempoyongan, terus-terusan memaksa saya untuk menterjemahkan keinginannya berkaraoke hingga telanjang baju. Karena saya tidak punya hak untuk melarang-larang dan mengatur-atur teman-teman bule, maka saya terjemahkan saja keinginannya tersebut. Lalu mereka pergi berpesta, karaoke, dan mabuk-mabukan.

Parahnya, teman-teman bule yang ia ajak berpesta pulang dalam keadaan mabuk berat di subuh buta. Barang-barang pribadi mereka berceceran di teras aula kelas yang kami pakai untuk tinggal sementara. Mereka tampaknya menikmati pesta tersebut sampai salah satu dari teman bule mencret-mencret akibat pengaruh arak.

Sekarang, dia satu atap dengan saya. Menghabiskan waktu selama lima minggu ke depan bersama-sama. Apakah kehadirannya akan berarti sebagai pertanda yang lebih baik dalam hal urusan dapur atau lebih buruk dalam hal lain. Entahlah.

Saya harap kehadirannya membawa perubahan yang lebih baik bagi kami semua.

2 comments

  1. Ridwan · Januari 6, 2011

    wadduuuhh,,,,,

    parah kang!

    kade akh bisi tuangeunna di campur arak,, marabok tah ngke di leweung!!! hehe😀

  2. fian · Januari 7, 2011

    wah3x…..hehe
    gimana kabarnya kang agung, oya sampaikan salam buat munir dan suruh dia buka email. nuwun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s