Hujan, Licin, Lumpur, dan Terjun Bebas

Dua malam terakhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan pengamatan malam. Dikarenakan tugas pengamatan siang saya sudah beres dengan hasil yang kurang memuaskan (menurut saya pribadi) dan tidak ada kerjaan di siang hari jadi saya memutuskan untuk ikut pergi menemani pengamatan ampibi-reptil di malam hari.

Dan malam kemarin adalah malam yang cukup buruk buat saya. Hujan rintik-rintik, jalur penuh lumpur, licin, dan saya terjatuh.

Bukan jatuh layaknya terpeleset kulit pisang. Bukan pula jatuh berlumuran lumpur. Tapi saya jatuh terjun bebas dari ketinggian 7 meter di atas permukaan sungai.

Di jalur utama transek tepatnya 400 meter dari basecamp ada sebuah sungai yang memotong. Namanya sungai Kelopu, sungai yang saya ceritakan di postingan sebelumnya. Sungai ini tidak terlalu lebar dan juga tidak terlalu dalam. Mudah dilalui dengan berjalan kaki. Namun jika kondisi cuaca hujan besar, air sungai akan meluap dan deras.

Dikarenakan sungai tersebut memotong jalur transek dan jalur transek cukup penting demi kelancaran penelitian, dengan terpaksa kami memutuskan untuk menumbangkan salah satu pohon besar untuk digunakan sebagai jembatan. Berat rasanya karena kehadiran kami justru malah “sedikit merusak” yang tadinya alami. Tapi mau gimana lagi.

Awalnya, tidak ada masalah yang saya alami ketika menyeberangi jembatan pohon tersebut. Semuanya berjalan lancar dan aman-aman saja. Tapi malam kemarin, jembatan pohon tersebut malah menjadi pengalaman yang luar biasa.

Jadi malam itu, setelah berjalan empat meter dari ujung jembatan, kaki kanan saya terpeleset dan setengah badan saya ikut terjatuh ke arah kiri. Untungnya ada tali jemuran dan tali rotan yang terpasang di kiri kanan jembatan sebagai pengaman yang menahan laju jatuh dan kebetulan juga saya menggunakan sarung tangan.

Parahnya, jatuhnya saya ternyata malah turut menyebabkan rekan saya yang di depan yaitu Munir ikut terseret jatuh akibat tali pengaman yang tertarik. Saya yang terjatuh lebih dulu dan mengantung di antara dua tali pengaman menyaksikan bagaimana Munir mencoba bertahan namun tetap jatuh pada akhirnya.

Karena Munir lebih berat otomatis arah tali pengaman lebih bertumpu kepadanya. Dan itu cukup menguntungkan saya yang tertahan di belakang dan dalam posisi yang cukup tinggi untuk terjun. Tali yang miring membuat saya mengelosor menuju arah Munir dan saya terjun pada daerah yang lumayan aman.

Basah kuyup.

Bagaimana dengan Munir. Dia tetap bergantung di bawah tali. Hingga saya menghampiri dan mengatakan turun kepadanya, barulah dia melepaskan pegangannya dan terjun. Dua orang rekan kami yang terlebih dahulu tiba di seberang lalu turun ke sungai melihat kondisi kami berdua.

Kami baik-baik saja, hanya sedikit panas akibat gesekan tali di tangan.

Karena tidak ada cedera yang cukup serius, kami melanjutkan perjalanan menuju ujung transek empat. Tiga kilometer dari jembatan pohon. Masih hujan, masih licin, masih berlumpur, dan cukup sekali terjun bebas.

That’s awesome, Dude!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s