Belanja Segunung

Belanja adalah kegiatan yang melelahkan. Tapi mau nggak mau kami harus berbelanja segala kebutuhan untuk bertahan hidup selama 3 bulan ke depan di hutan.

Dari sebelas orang yang terlibat dalam team, kami memisahkan diri menjadi beberapa grup untuk mempersiapkan segala macam kebutuhan yang sangat diperlukan, antara lain makanan, peralatan dan perijinan. Maka dibagilah kami  menjadi tiga grup. Yaitu team makanan yaitu saya, Lara dan Dale, team peralatan Munir, Holli, Ian, Russ, Mr Rupert dan Bang Hendri dan team perijinan yaitu Martin dan Tim. Team makanan dan peralatan tetap tinggal di Banjarmasin, sedangkan team perijinan berangkat ke Palangkaraya karena lokasi ekspedisi kami berada di wilayah administratif Kalimantan Tengah.

Tugas team makanan memang tampak lumayan enak dibandingkan dengan team alat. Tapi ga juga sih. Di hari pertama tugas, kami (team makanan) berangkat menuju salah satu Supermarket terkemuka di Banjarmasin, sebut saja namanya “Pahlawan”. Hal pertama yang kami lakukan adalah, mencatat semua produk yang sekiranya dibutuhkan. Dari nama produk, barcode, hingga harga. Alhasil supermarket “Pahlawan” kami ubek-ubek satu persatu barangnya dan bertemu dengan manajernya untuk membicarakan kemungkinan pembelian dalam jumlah besar.

Esok harinya, kami berangkat lagi ke salah satu supermarket terkemuka lainnya, sebut saja “Lottek”. Di supermarket ini barangnya jauh lebih lengkap dan banyak. Maklum saja mereka ternyata semacam makro distributor gitu. Dan lagi harganya jauh lebih murah. Yang kami lakukan hampir sama dengan hari sebelumnya, yaitu mencatat dan mencatat dan menghubungi manager.

Dari hasil yang didapat dari kedua supermarket tersebut disusun lah, mana kira-kira produk yang akan dipilih untuk dibeli. Pastinya dicari yang lebih murah karena dana yang ada sangat terbatas dan menghindari overbudget. Setelah dipilah pilih barulah kami memesan produk-produk tersebut.

Ga segampang itu. Ya iya lah, ternyata jumlah yang hendak dipesan ga kira-kira jumlahnya. Bayangkan saja untuk makanan kaleng ikan Mackarel ternyata kami memesan 400 kaleng. Belum lagi mie instan yang totalnya mencapai 150 karton. Ditambah lagi makanan-makanan kaleng lainnya yang jumlahnya mencapai ratusan. Jelas ga gampang, toh si supermarket ga punya stok dalam jumlah yang kami inginkan.

Bingung, sudah pasti. Tapi ga bisa lama-lama bingung, kami harus cepat dalam memutuskan dan akhirnya mengantinya dengan produk lain yang sejenis. Meskipun usaha tersebut sudah dilakukan tetap saja masih kurang, dan akhirnya sisa kekurangan dilimpahkan ke supermarket yang satunya lagi. Kebayang ribetnya tuh para pegawai di supermarket memenuhi permintaan kami.

Setengah berjalan dengan urusan supermarket kami berbelanja juga di pasar tradisional untuk sayur-sayuran. Yang ini lebih ribet lagi karena… harus keliling pasar dan nawar. Belum lagi nanti ngecek kentang satu-satu sebanyak 550 buah. Gila gila gila.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s